Menuju konten utama

Rosan Sebut Sentimen MSCI Jadi Momentum Borong Saham RI

Menteri Rosan Roeslani sebut rencana penyesuaian klasifikasi MSCI jadi peluang investor untuk borong saham RI yang valuasinya murah.

Rosan Sebut Sentimen MSCI Jadi Momentum Borong Saham RI
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani berjalan usai mengikuti rapat terbatas Kabinet Merah Putih di Istana Negara, Jakarta, Selasa (18/11/2025). ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/foc.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menilai, rencana penyesuaian klasifikasi pasar modal oleh MSCI dapat menjadi momentum bagi investor untuk membeli saham.

Menurut dia, berinvestasi pada pasar modal saat ini dapat menjadi investasi jangka panjang.

"Justru dari sisi kami selalu kami selalu melihat bahwa ini adalah opportunity untuk kita sebagai long term investment di pasar modal Indonesia untuk masuk bersama-sama beserta ekosistem yang ada," ucapnya saat konferensi pers di kantor Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Jumat (16/10/2026).

"Karena kami melihat dan kami sangat meyakini perusahaan-perusahaan yang melantai di bursa kita ini akan meningkat ke depannya," lanjut dia.

Rosan menyebutkan, investasi jangka panjang tersebut dapat terjadi dari valuasi emiten perusahaan berpelat merah yang kini tergolong rendah.

Ia mengeklaim, fundamental perusahaan-perusahaan berpelat merah maupun swasta masih kuat. Dengan demikian, valuasi perusahaan BUMN serta swasta dapat menguat.

"Contohnya kita dari sektor perbankan kita sangat baik, solid, tapi valuasinya mungkin di bawah one time price to book value begitu ya kan, ya kan," sebutnya.

"Ini di bawah average dari median valuasi di peer-nya, di industrinya. Belum lagi di sektor-sektor di infrastruktur, di sektor telekomunikasi dan yang lain-lain," sambung Rosan.

Sorotan Tajam MSCI Terhadap Pasar Saham Indonesia

Sebagai informasi, dalam dokumen konsultasinya, MSCI menyoroti berbagai persoalan mendasar yang masih membelenggu pasar keuangan Indonesia. Masalah utama yang disoroti meliputi opasitas struktur kepemilikan saham yang persisten serta dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi (coordinated trading behavior) yang mencederai mekanisme pembentukan harga yang wajar (proper price formation).

"Para pelaku pasar telah mengangkat kekhawatiran yang signifikan mengenai kelayakan investasi di pasar ekuitas Indonesia, termasuk kurangnya transparansi yang persisten dalam struktur kepemilikan dan dugaan perilaku perdagangan yang terkoordinasi,” ungkap MSCI dalam laporan peninjauannya, Jumat (16/10/2026).

Meskipun otoritas Indonesia telah mengumumkan serangkaian reformasi, seperti peningkatan keterbukaan pemegang saham di atas 1 persen, pengungkapan klasifikasi investor yang lebih rinci, pelaporan Konsentrasi Kepemilikan Tinggi (High Shareholding Concentration/ HSC), serta peta jalan kepemilikan saham publik (free float) minimum 15 persen, pasar menilai langkah tersebut belum menunjukkan hasil yang konsisten.

"Namun, para pelaku pasar telah mengindikasikan bahwa hingga saat ini, kemajuan yang memadai belum terlihat secara konsisten di seluruh pasar ekuitas Indonesia. Kekhawatiran yang signifikan tetap ada seputar disfungsi pasar, termasuk dugaan perilaku perdagangan terkoordinasi yang masih terus terjadi dan kurangnya bukti penegakan hukum yang berarti," kata pihak MSCI.

Baca juga artikel terkait IHSG atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah