Menuju konten utama

Klasifikasi RI Terancam Turun, Wamenko: MSCI Tak Selalu Benar

Klasifikasi saham Indonesia terancam turun oleh MSCI. Wamenko Dradjad justru minta investor lokal manfaatkan momentum ini untuk serok saham.

Klasifikasi RI Terancam Turun, Wamenko: MSCI Tak Selalu Benar
Pekerja mengamati layar digital pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Senin (27/7/2026). IHSG pada perdagangan Senin (27/7) pagi dibuka melemah 10,63 poin atau 0,17 persen ke posisi 6.185,80, dibandingkan dengan penutupan perdagangan Jumat (24/7) yang berada di level 6.196,43. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Wakil Menteri Koordinator Perekonomian, Dradjad Hari Wibowo, merespons pengumuman MSCI terkait rencana mengubah klasifikasi pasar saham Indonesia dari Emerging Market (pasar negara berkembang) menjadi Standalone Market (pasar yang diklasifikasikan secara mandiri dan tidak termasuk dalam kelompok pasar berkembang maupun pasar perbatasan).

Menurut dia, MSCI memang memiliki reputasi positif sebagai rating agency. Akan tetapi menurutnya, MSCI tidak selalu mengeluarkan pengumuman yang benar.

"MSCI itu punya reputasi tinggi, ini iya. Bahwa kita juga perlu memperhatikan apa yang mereka sampaikan, iya. Tapi satu yang ingin saya sampaikan, mereka tidak selalu benar," sebutnya di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (16/10/2026).

Belajar dari Kasus Bursa Saham Jerman

Dradjad merujuk analisis Deutsche Börse dari Jerman terkait kinerja MSCI. Rating agency tersebut sempat merekomendasikan sejumlah saham di bursa Jerman.

Namun, kata Dradjad, rekomendasi MSCI untuk bursa Jerman justru negatif. Hal ini disebut mencerminkan tindakan MSCI yang tidak selalu benar.

"Yang betul-betul dianggap dunianya MSCI, ya saham-saham yang direkomendasikan MSCI, malah negatif. Artinya apa? Artinya tidak semua yang dilakukan oleh MSCI itu menguntungkan bagi investor," ucap dia.

Di satu sisi, Dradjad mengaku pemerintah memang perlu mereformasi pasar modal, sebagaimana menjadi komitmen yang telah dinyatakan beberapa waktu lalu.

Ia turut meminta investor agar dapat melihat gambaran besar kondisi ekonomi Indonesia. Salah satu contoh hal positif dari kondisi ekonomi Tanah Air, yakni pendapatan emiten konsumer yang naik menjadi 6 persen.

"Ya, kalau pendapatan emiten konsumer itu naik, artinya konsumsinya naik. Ya kan emiten konsumer, enggak usah sebutkan lah yang jualan makanan-makanan, yang jualan sabun shampo segala macam. Anda lihat saja perusahaan tbk yang emiten konsumer," ujar Dradjad.

Asing Jual Saham, Investor Lokal Diminta Serok

Dalam kesempatan itu, ia mengakui terdapat gelombang penjualan saham oleh investor asing. Hal ini disebut terjadi lantaran investor asing yang lebih percaya MSCI.

Dradjad justru meminta masyarakat Indonesia selamu investor dalam negeri untuk memanfaatkan momentum penjualan saham investor asing.

"Asing kan karena ikut MSCI dan indeks maupun analisis kan bukan hanya MSCI. Jadi ya nggak apa-apa kalau mereka melakukan itu nggak apa-apa. Tapi kalau investor pasar modal dalam negerinya resilient, ujung-ujungnya kan mereka akan ketinggalan lagi," urainya.

"Malah mungkin dengan asing keluar harga turun, investor dalam negeri silahkan serok aja sekarang," sambung Dradjad.

Baca juga artikel terkait IHSG atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah