Ritual Bakar Tongkang

undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
undefined
Setiap tahunnya ribuan masyarakat etnis Tionghoa dari dalam dan luar negeri berbondong-bondong menyambut antusias acara bakar tongkang.
29 Juli 2016
Alkisah sekelompok orang dari daratan China mencari tempat kehidupan yang baru menggunakan kapal kayu (tongkang).

Dalam perjalanannya mereka melihat cahaya dan menghampiri tempat asal cahaya itu yang ternyata merupakan kumpulan kunang-kunang di atas tempat penampungan ikan (Bagan).

Mereka pun menetap di kawasan itu yang tak lain adalah Bagansiapiapi, di Rokan Hilir, Riau.

Keturunan para perantau tersebut mengenang peristiwa itu dengan mengadakan ritual bakar tongkang sebagai wujud rasa syukur pada dewa mereka karena telah mengantarkan pada kehidupan baru yang nyaman.

Tongkang yang dibakar menjadi simbol bahwa mereka tidak akan kembali ke tempat asalnya setelah diantar ke tempat yang lebih baik.

Setiap tahunnya ribuan masyarakat etnis Tionghoa dari dalam dan luar negeri berbondong-bondong menyambut antusias acara bakar tongkang.

Mereka tumpah ruah di Kelenteng Ing Hok Kiong, menjalani ritual sembahyang dan menyemarakkan arak-arakan tongkang.

Ribuan dupa dibakar menebar asap di sepanjang jalanan. Nuansa makin mistis dengan gumaman doa untuk rezeki yang lebih baik di tahun mendatang. Nazar juga diucap.

Begitulah cara warga Tionghoa Bagansiapiapi mewujudkan rasa terima kasih atas kehidupan baru mereka yang telah diantar oleh tongkang di tanah yang penuh harapan.

Foto dan Teks: Rony Muharrman

Editor: Taufik Subarkah
DarkLight