Menuju konten utama

RI Belum Ekspor Listrik, Bahlil: Izin di ESDM, Bukan Danantara

Bahlil mengingatkan, banyak negara menjadikan sumber daya alam dan energi bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi alat tawar-menawar di situasi saat ini.

RI Belum Ekspor Listrik, Bahlil: Izin di ESDM, Bukan Danantara
Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, dalam acara Minerba Convex 2026 di JIExpo Kemayoran, Senin (2/11/2026). Foto/Mukhtar Abdullah
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, memastikan Indonesia belum akan membuka keran ekspor listrik ke luar negeri dalam waktu dekat.

Keputusan tersebut diambil lantaran pasokan listrik nasional masih sangat dibutuhkan untuk menopang kebutuhan domestik. Ia mewanti-wanti Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) agar tidak terpengaruh oleh manuver lobi pihak asing terkait proyek ekspor kelistrikan, mengingat kewenangan perizinan sepenuhnya berada di Kementerian ESDM.

"Saya sudah mengumumkan untuk Indonesia dalam waktu dekat belum bisa ekspor listrik. Kita masih butuh listrik, tidak ada. Saya sudah kasih tahu Danantara, jangan kamu mau dilobi-lobi, tidak ada. Izin itu ada di ESDM, bukan Danantara," tegas Bahlil dalam sambutannya pada acara Minerba Convex 2026 di Jakarta, Senin (2/11/2026).

Bahlil mengingatkan, di tengah ketegangan geopolitik global saat ini, banyak negara menjadikan sumber daya alam dan energi bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan menjadi instrumen tawar-menawar dalam diplomasi antar negara.

Oleh karena itu, Indonesia fokus mengarahkan cadangan energinya untuk mendukung ekosistem industri hilirisasi terintegrasi di dalam negeri. Ketua Umum Partai Golkar itu mengibaratkan kerja sama energi antar negara layaknya hubungan keluarga yang menuntut prinsip timbal balik yang adil dan saling menghormati, bukan sekadar menguntungkan kepentingan negara pembeli.

"Kita itu berkeluarga harus saling menyayangi, begitu pun kita bernegara. Jadi kalau mereka sayang kita, kita pasti sayang mereka. Tapi kalau mereka agak kurang sayang, kita juga harus memiliki kadar yang sama. Jangan cinta bertepuk sebelah tangan dong, tidak bagus, enak saja," imbuh Bahlil.

Baca juga artikel terkait LISTRIK atau tulisan lainnya dari Mukhtar Abdullah

tirto.id - Flash News
Reporter: Mukhtar Abdullah
Penulis: Mukhtar Abdullah
Editor: Andrian Pratama Taher