STOP PRESS! Setya Novanto Dijebloskan ke Rutan KPK

Fahri Hamzah

Fahri Hamzah

timeter overall

+3
Lahir
Sumbawa, 10/11/1971
Profesi
Wakil Ketua DPR RI (2014-)
Agama
Islam
Karier
  • Staf Ahli Majelis Permusyawaratan Rakyat (1999-2002)
  • Wakil Ketua Komisi III DPR RI (2004-2009)
  • Wakil Ketua Komisi IV DPR RI (2009-2014)
  • Wakil Ketua DPR RI (2014-)

Mulanya adalah Lembaga Dakwah Kampus (LDK), gerakan keagaman dari aktivis-aktivis mesjid di perguruan tinggi. Beberapa LDK di kampus-kampus negeri ternama di Indonesia seperti Institut Teknologi Bandung kemudian menggagas Forum Silaturahmi antar-LDK.


Dari sini, silaturahmi itu berbuah: organisasi bernama Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) dilahirkan. Fahri Hamzah adalah salah satu tokoh pendiri KAMMI pada 20 Mei 1998, dan kemudian ia menjadi ketua pertamanya. Berbekal pengalaman dari KAMMI itulah, Fahri Hamzah menjadi kader dan politikus Partai Keadilan (PK).


Dalam masa-masa reformasi, Fahri bersama kawan-kawannya di KAMMI terlibat aksi-aksi massa penggulingan Soeharto. Hari-hari terakhir sebelum Soeharto jatuh pada 20 Mei 1998, KAMMI berdemonstrasi mendukung reformasi dengan menunjukkan identitas mereka, sebuah syal hijau di leher.


Dari sini nama Fahri Hamzah mulai dikenal luas sebagai intelektual muda muslim. Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini bertemu dengan sejumlah tokoh reformis Islam seperti Amien Rais dan tokoh-tokoh Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).


Fahri lantas direkrut ICMI untuk mengurusi Departemen Pengembangan Cendekiawan Muda ICMI. Bersamaaan dengan itu, tampuk kekuasaan beralih dari Soeharto ke BJ Habibie, salah satu tokoh pendiri ICMI. Fahri masih di ICMI ketika sejumlah intelektual muda muslim—yang sebagian adalah anggota KAMMI—mendirikan Partai Keadilan pada 20 Juli 1998.


Meski sejumlah anggota KAMMI yang dipimpin oleh Fahri berperan dalam pembentukan PK, KAMMI dengan PK tak memiliki hubungan formal. Meski demikian, basis massa PK tak bisa dimungkiri berasal dari aktivis masjid-masjid kampus, muslim perkotaan terdidik, yang sebagian besarnya adalah kader KAMMI.


Namun, pada pemilu 1999, partai ini gagal memenuhi ambang batas parlemen, sebab hanya beroleh suara sebanyak 1,3 persen. Karena tak bisa mendaftar dengan nama yang sama, PK kemudian berubah nama menjadi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) pada 3 Juli 2003. Kekalahan itu memberi kesempatan pada PK untuk membangun sistem pengkaderan dan propaganda yang lebih rapi, massif dan terorgansir. Belakangan pembenahan ini berhasil menempatkan PKS sebagai kekuatan baru dalam Pemilu 2004.


Menjelang Pemilu 2004 itulah secara praktis Fahri baru hijrah dari Cendekiawan Muda ICMI ke PKS. Dari sini karir politiknya di Senayan dimulai. Ia menjadi calon anggota legislatif dari PKS dengan daerah pemilihan Nusa Tenggara Barat (NTB), tanah kelahiran Fahri.


Di antara banyak hal lain, jejaring Fahri selama di KAMMI berhasil mendudukkannya di kursi DPR. Saat itu, PKS menjadi oposisi pemerintahan, dan Fahri kerap mencuri perhatian publik dengan pernyataan-pernyataannya yang kontroversial di media massa.


Menjadi oposisi ternyata berkah tersendiri bagi PKS. Pada pemilu 2009 suara PKS menembus PKS 8.206.955 suara atau setara 7,88% dengan perolehan 59 kursi di Senayan. Partai ini secara mengejutkan menembus ranking 4 besar. Seturut dengan kegemilangan PKS, Fahri pun kembali memenangkan kursi DPR.


Haluan politik PKS berubah setelah SBY menjadi presiden untuk kedua kalinya. Kali itu, PKS bergabung ke dalam koalisi pemerintahan. Sejumlah petinggi PKS duduk dalam Kabinet Indonesia Bersatu II. Tapi tidak dengan Fahri. Ia masih menjadi “bumper” PKS di Senayan, dan tetap kerap kritis terhadap kabinet SBY.


Selain itu, Fahri juga kerap memberi pernyataan kontroversial, termasuk saat Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) ada dalam masa-masa krisis. Pada masa konflik KPK dengan Polri, Cicak Versus Buaya, Fahri kerap menyatakan hal-hal yang tidak menguntungkan KPK, di antaranya ajakan untuk membubarkan lembaga pemerintah antikorupsi itu.


Pada 2013, PKS tersandung masalah skandal suap impor daging sapi yang Bermula dari tangkap tangan Ahmad Fathanah bersama seorang gadis di lobi hotel kasus ini menyeruak ke publik. Presiden PKS, Lutfi Hasan diduga tersangkut masalah ini karena menerima aliran uang suap dari Fathanah yang diberikan oleh PT Indoguna, importir daging sapi.


Menanggapi kasus korupsi yang menghinggapi partainya, Fahri semakin getol menyerang KPK. Fahri Hamzah menilai KPK tidak membuahkan perbaikan mekanisme penanganan perkara korupsi di Indonesia.


Rupanya, kasus suap kuota impor daging sapi ini menjadi salah satu yang mempengaruhi perolehan suara PKS pada Pemilu 2014. Target 3 besar perolehan suara ternyata tak tercapai karena PKS hanya memperoleh 8.480.204 suara dengan persentase suara sebesar 6,79 persen, menempati posisi nomor sepuluh.


Sementara itu di Nusa Tenggara Barat, perolehan suara Fahri ini meningkat dari angka 105.412 pada pemilu 2009 menjadi d Fahri Hamzah memperoleh 125.083 suara pada pemilu 2014.


Namun, karier politik Fahri kini sedang berada di ujung tanduk karena partai memecatnya pada 2 Maret 2016. Di DPR, ia digantikan kader PKS lain, yakni Ledia Hanifa. Ihwal pemecatan ini, Fahri tak tinggal diam. Berkas gugatan sedang dilayangkan oleh Fahri pada petinggi partai itu melalui Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.