Menuju konten utama

Kronologi Siswa Serang Guru Pakai Kapak di Malaysia & Disiarkan

Siswa 16 tahun ditangkap usai diduga menyerang guru pakai kapak di Malaysia. Polisi masih menyelidiki motif dan kronologi kejadian.

Kronologi Siswa Serang Guru Pakai Kapak di Malaysia & Disiarkan
Pelajar menyerang guru dengan kapak di Sarawak, Malaysia. x/@Fatahilah03
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Seorang siswa berusia 16 tahun ditangkap polisi setelah diduga menyerang seorang guru perempuan menggunakan kapak di sebuah sekolah internasional di Kuching, negara bagian Sarawak, Malaysia, pada Selasa (21/10/2026).

Insiden tersebut menjadi viral setelah rekaman aksi penyerangan yang diduga dilakukan siswa itu tersebar luas di media sosial.

Tak hanya melakukan penyerangan kepada seorang guru, pelaku disebut menyiarkan kejadian tersebut secara langsung (live) melalui Facebook menggunakan ponsel yang dipasang di bagian kepalanya.

Kronologi Siswa Serang Guru Pakai Kapak di Malaysia

Peristiwa penyerangan itu terjadi di sebuah sekolah swasta di Kuching, Sarawak, pada Selasa (21/10/2026). Kepolisian Sarawak menerima panggilan darurat sekitar pukul 08.03 waktu setempat.

Laporan tersebut menyebutkan seorang siswa membawa petasan ke lingkungan sekolah dan diduga menyerang seorang guru perempuan menggunakan kapak.

Pelaksana tugas Komisaris Polisi Sarawak, Saifullizan Ishak, membenarkan bahwa pihaknya telah menahan seorang siswa berusia 16 tahun terkait insiden tersebut. Ia mengatakan polisi sedang melakukan penyelidikan terperinci untuk mengetahui penyebab kejadian sekaligus mengumpulkan bukti-bukti yang diperlukan.

“Kami sedang melakukan penyelidikan mendetail untuk mengidentifikasi penyebab insiden tersebut serta mengumpulkan bukti,” ujarnya dikutip The Straits Times, Rabu (21/10/2026).

Guru perempuan yang menjadi korban dilaporkan mengalami luka pada tangan akibat serangan tersebut. Namun kondisi terkini korban dan tingkat keparahan lukanya belum diketahui.

Kasus tersebut semakin menyita perhatian setelah rekaman yang diduga memperlihatkan rangkaian kejadian beredar di media sosial.

Menurut laporan media Malaysia, siswa itu diduga melakukan siaran langsung melalui Facebook selama sekitar 12 menit. Rekaman tersebut kemudian menyebar luas sebelum diturunkan oleh Komisi Komunikasi dan Multimedia Malaysia (MCMC).

CNA pada Kamis (22/10/2026) melaporkan, dalam video yang beredar, remaja tersebut terlihat berada di toilet sekolah dan mengeluarkan kapak serta sebuah korek api dari tas sekolahnya.

Ia diduga menggunakan ponsel yang dipasang di bagian kepala atau dahinya untuk merekam pergerakannya. Setelah bersiap, ia kemudian berlari menuju ruang kelas tempat dugaan penyerangan berlangsung.

Rekaman menjadi tidak stabil ketika keributan terjadi. Gambar kemudian berubah menjadi hitam, tetapi suara teriakan masih terdengar.

Selain rekaman siaran langsung tersebut, sebuah video CCTV dari ruang kelas juga beredar di media sosial. Rekaman itu diduga memperlihatkan siswa tersebut memasuki kelas dan mendekati guru dengan membawa kapak. Guru tersebut kemudian terlihat berusaha menahan atau mengendalikan pelaku dengan bantuan seorang siswa lain.

Setelah kejadian, polisi menangkap siswa berusia 16 tahun tersebut. Remaja itu kemudian ditempatkan di bangsal psikiatri Rumah Sakit Umum Sarawak untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

Pemeriksaan tersebut menjadi bagian dari penanganan kasus, tetapi belum ada keterangan yang memastikan kondisi kejiwaan siswa itu ataupun menyatakan bahwa kondisi tertentu menjadi penyebab penyerangan. Polisi masih mengumpulkan bukti dan memeriksa berbagai informasi untuk menyusun kronologi lengkap serta mengungkap latar belakang kejadian.

Hingga berita ini diturunkan, motif siswa berusia 16 tahun tersebut menyerang gurunya belum diketahui secara pasti. Kepolisian Sarawak masih menyelidiki penyebab insiden dan mengumpulkan bukti untuk mengetahui latar belakang tindakan tersebut.

Belum ada keterangan resmi yang memastikan apakah penyerangan dipicu persoalan pribadi, konflik di sekolah, atau faktor lainnya.

Polisi juga belum mengumumkan hasil pemeriksaan lebih lanjut terhadap siswa tersebut. Karena itu, dugaan mengenai alasan pelaku membawa kapak ke sekolah maupun tindakannya merekam kejadian tidak dapat dipastikan sebagai bagian dari motif sebelum penyidik menyampaikan temuan resmi.

Kepolisian telah menjadwalkan konferensi pers pada 27 Oktober untuk memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai kasus tersebut.

Menteri Sarawak Minta Publik Tidak Menghakimi Pelaku

Menteri Pembangunan Wanita, Anak dan Kesejahteraan Masyarakat Sarawak, Fatimah Abdullah, meminta masyarakat menyikapi kasus tersebut dengan hati-hati. Dalam unggahan Facebook pada Kamis, ia menegaskan bahwa kekerasan yang melibatkan senjata harus ditangani secara serius demi melindungi guru, siswa, dan seluruh komunitas sekolah.

Namun, Fatimah juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru mengecam, memberi label negatif, atau mempermalukan remaja tersebut tanpa memahami keadaan yang melatarbelakangi kejadian.

Menurutnya, pelaku masih berada dalam tahap pertumbuhan dan perkembangan sehingga penanganan perkara perlu mempertimbangkan aspek tanggung jawab sekaligus pendampingan yang sesuai.

“Setiap anak berhak untuk merasa dihargai, didengarkan, dan didukung. Ketika seorang anak muda berkata, “Saya tidak punya siapa-siapa,” respons kita seharusnya adalah membantu mereka mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan, bukan justru memperdalam rasa keterasingan mereka,” tulisnya.

Ia menekankan bahwa pertanggungjawaban atas tindakan kekerasan tidak bertentangan dengan pendekatan yang mengedepankan kepedulian. Keselamatan guru dan siswa tetap harus menjadi prioritas, tetapi remaja yang terlibat juga perlu diperlakukan secara bermartabat dan memperoleh bimbingan yang tepat.

Fatimah turut meminta masyarakat berhenti menyebarkan video penyerangan. Penyebaran rekaman, menurutnya, berpotensi menambah tekanan psikologis bagi pihak yang terlibat, membuka ruang perundungan di dunia maya, serta melanggar privasi mereka.

“Tanggung jawab kita mencakup dua hal: memastikan sekolah tetap menjadi tempat yang aman bagi guru dan siswa, serta memastikan bahwa kaum muda yang sedang menghadapi kesulitan mendapatkan kesempatan untuk belajar, memperoleh dukungan yang tepat, dan melangkah maju secara konstruktif,” tegasnya.

Baca juga artikel terkait PENYERANGAN atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra