tirto.id - Struktur setengah bola raksasa berdiri di tengah lantai SoFi Stadium, Los Angeles, pada April 2026. Ye berdiri di puncaknya. Di tengah gelapnya stadion, bentuk tersebut perlahan beralih rupa, dari desain tampilan planet tertentu menjadi Bulan. Begitu seterusnya berganti-ganti.
Panggung serupa dijadwalkan hadir di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, pada 24 Oktober 2026. Dikutip dari Bandwagon Asia, rancangannya berbentuk 360 derajat dan dikelilingi penonton.
Bentuk itu mengundang tafsir. Set Design Magazine membacanya sebagai anggukan inspirasi langsung dari adegan pembuka Akira, anime garapan Katsuhiro Otomo yang dirilis pada 1988.
Namun, itu murni bacaan pengamat pop-kultur. Tim desain Ye belum bersuara soal rujukannya. Ruang tebak-tebakan pun terbuka, termasuk dugaan pengaruh Dragon Ball.
Terlepas dari benar atau tidaknya, pola tersebut sudah terlihat. Animasi Jepang sejak lama menyeberangi batas negaranya. Ia menyusup ke bahasa visual dan cara musisi dunia merakit identitas kelompok yang terpinggirkan.
Tokyo 2019 dan Amarah Anak Muda
Akira semula lahir sebagai manga karya Katsuhiro Otomo pada 1982, sebelum dialihwahanakan menjadi film animasi pada 1988. Latar ceritanya adalah Tokyo pasca-apokaliptik, berlatar tahun 2019. Manusia di sana tercerabut dari akarnya. Kontrol berlebihan mencengkeram kota, pemerintah korup, anak-anak menjadi bahan eksperimen ilmiah, dan geng pemuda berkeliaran di jalan.
Melansir Make the Switch, Otomo ingin menggambarkan Jepang yang mirip keadaannya setelah Perang Dunia III berakhir. Sebagian orang menautkannya langsung dengan bom atom. Namun, pembacaan itu masih diperdebatkan.
Di jalan-jalan kota rekaan itu, geng motor saling berpacu. Padanannya di dunia nyata adalah bōsōzoku. Mereka adalah kelompok pemuda berandalan (furyo) yang melampiaskan pemberontakan lewat modifikasi motor dan konvoi jalanan. Puncak popularitasnya ada di masa 1980-an, dekade yang sama dengan kelahiran Akira. Tokyo Weekender menyebut kehadiran mereka memengaruhi visi Otomo tentang distopia Tokyo.
Akira juga berdiri dalam tradisi cyberpunk. Penulis Bruce Sterling merumuskan tradisi itu sebagai masa depan “high tech and low life”, demikian sebagaimana dicatat oleh Warren A. Stanislaus dalam penelitian bertajuk “From Cool Japan to Cold Japan: grime cyborgs in Black Britain” (2023: 280). Menara futuristik menjulang di atas sudut-sudut kota yang kumuh dan gelap. Dunia itu terasa dingin dan impersonal, tetapi menyimpan amarah generasi muda yang terasing.
Keterasingan dan amarah di balik gemerlap teknologi itulah yang kelak beresonansi kuat dengan realitas sosial di belahan dunia lain.

Jepang sebagai Ruang Bayangan
Pertemuan estetika antara distopia Jepang dan hip-hop Barat bukan kebetulan. Ken McLeod, peneliti dari University of Toronto, pernah mengkaji hal itu dengan membedah karya-karya musisi Barat, termasuk RZA, Kanye West, dan Nicki Minaj. Dalam laporan bertajuk “Afro-Samurai: techno-Orientalism and contemporary hip hop” (2013: 259), ia menemukan pola percampuran budaya.
Barat kerap memandang Jepang sebagai negeri teknologi yang dingin dan kehilangan sisi manusia, pandangan yang dikenal sebagai techno-Orientalism. Citra itu bersinggungan dengan Afrofuturisme, yakni cara orang kulit hitam membayangkan masa depan lewat teknologi. Keduanya bertemu di titik pengharapan akan pembebasan lewat penguasaan teknologi.
Pola itu bisa dibaca sebagai upaya musisi hip-hop kulit hitam memproyeksikan fantasi pembebasan dari dominasi modernitas kulit putih ke sebuah ruang bernama Jepang futuristik. Jepang di sini adalah ruang bayangan, bukan titik geografis di peta. McLeod meminjam gagasan itu dari Edward Said, yang semula memakainya untuk membaca cara pengarang Barat membayangkan Timur (hlm. 261).
Ada pula "fenomena" mutasi tubuh manusia yang sengaja dipinjam. Para musisi memeluk citra alien atau cyborg yang dingin sebagai siasat bertahan hidup di tengah diskriminasi kelas dan ras.
Reruntuhan Neo-Tokyo yang Diolah Menjadi Musik
Di wilayah industri musik populer, siasat memeluk identitas cyborg siber dipraktikkan secara total oleh Ye.
Ia juga tidak pernah menyembunyikan kecintaannya pada Akira. Pada 2018, lewat satu cuitan, ia menyebut film itu sebagai inspirasi kreatif terbesarnya. Dikutip dari The Fader, Ye mengatakan pengaruhnya mengalir ke setiap pertunjukan panggung, video, dan produknya.
Wujud paling nyata dari obsesi itu ada di video musik “Stronger”. Hype Williams menyutradarainya dan merekamnya di Tokyo, dengan proses syuting yang berlangsung selama sembilan hari. Comic Book menyebut video tersebut sedikit banyak mengadaptasi Akira, sementara McLeod menilai sejumlah adegannya memberi penghormatan pada film tersebut.
Dalam video musik tersebut, Ye berbaring di dalam replika CGI mesin pemindai medis. Tubuhnya dipindai, seperti Tetsuo Shima (tokoh utama dalam film animasi tersebut yang tubuhnya melebur dengan mesin). Di jalanan malam Tokyo, motor-motor melesat dengan gambaran jejak lampu belakang, seperti di film. Comic Book menyebut adegan kerusuhan dan rumah sakit di video musik itu meniru sepenuhnya dari Akira.
Lewat “Stronger”, Ye tampak menggarap penderitaan personal dan perubahannya menjadi sosok bionik yang lebih tangguh. McLeod membaca lagu itu sebagai himne kiasan bagi menguatnya kekuatan sosial-ekonomi orang kulit hitam (hlm. 268).
Konsep panggung di SoFi Stadium, yang akan dibawa ke Jakarta, bisa dilihat sebagai perpanjangan dari obsesi visual dua dekade ini. Bentuknya seperti bom waktu yang siap menelan penonton dalam kegelapan siber.

Jika Ye membangun ulang dunia Akira lewat adaptasi estetik, Michael Jackson dan Janet Jackson memilih menyisipkan langsung adegan aslinya. Dalam klip video lagu “Scream”—video musik termahal dalam sejarah (menghabiskan 7 juta dolar AS)—mereka berdua digambarkan terisolasi di dalam sebuah pesawat ruang angkasa canggih yang melesat ke luar angkasa. Di tengah adegan itu, ada penyisipan potongan adegan asli Akira: Tetsuo terjatuh dari laboratorium militer. Dazed menggambarkan, potongan adegan Tetsuo yang jatuh itu terasa seperti jeritan orang yang dikepung.
Tidak hanya di ranah musik arus utama Amerika, persentuhan Akira juga menjalar ke skena musik bawah tanah Inggris lewat Gaika, musisi asal Brixton. Dilansir oleh Dazed, mixtape SECURITY miliknya menautkan tema kontrol dan pemberontakan anak muda dengan dunia Akira.
Gaika menggambarkannya sebagai hidup di bawah selimut ketakutan. Hal itu seolah menyiratkan bahwa ia, secara tidak langsung, menyerap perasaan yang timbul dalam distopia Akira, alih-alih bentuk fisik motor atau mesin pemindainya.
Cara pandang seperti itu juga muncul dalam analisis Stanislaus, yang memperkenalkan konsep Cold Japan sebagai sisi lain dari Cool Japan. Cold yang ia maksud menyangkut perasaan, yakni terasing dari masyarakat dominan (hlm. 273-274). Ia mengutip Wiley, perintis grime—genre musik rap dan dansa elektronik, atau dikenal sebagai EDM—bahwa bunyi genre itu "dingin" dan gelap, terlebih karena ia lahir dari tempat yang dingin dan gelap, yakni jalanan kota London (hlm. 280).
Stanislaus membedah lirik dan video klip sejumlah musisi grime, seperti Jme dan Skepta. Sampul mixtape Secure the Bag 2 milik AJ Tracey juga memperlihatkan si penyanyi kabur dari ledakan raksasa dan kota yang terbakar, merujuk pada kehancuran Neo-Tokyo di Akira. Lagu pertamanya bahkan dibuka dengan kata akira (hlm. 281, 283).
Gaika tidak masuk dalam penelitian Stanislaus. Namun, kerangkanya tetap terasa pas untuk membaca SECURITY. Cool Japan lekat dengan hal-hal imut (kawaii) dan menenangkan (iyashikei). Namun, para musisi grime kulit hitam di Inggris justru mengambil sisi dingin dari anime dan gim bertema cyberpunk.
Pada akhirnya, pengaruh budaya menemukan jalannya sendiri untuk terus hidup. Kendati Tokyo hancur di layar pada 1988. Hampir empat dekade kemudian, konsep dan penggambarannya masih terus direproduksi sebagai simbol.
Michael dan Janet Jackson menyisipkan potongannya ke dalam klip hitam-putih. Ye merekonstruksi ruang pemindai dan jalanan malam Tokyo. Gaika dan AJ Tracey menyerap dinginnya untuk menamai hidup di London. Tiap peminjam membawa pulang sesuatu yang berbeda.
Penulis: Rizqy M. Farhan
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id

































