Menuju konten utama

Kemenekraf Gandeng Shopee Tangani Pembajakan hingga Perang Harga

Gandeng Shopee untuk berantas barang tiruan dan buku bajakan, Kemenekraf minta pelaku usaha lokal fokus pada kualitas produk bukan perang harga.

Kemenekraf Gandeng Shopee Tangani Pembajakan hingga Perang Harga
Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf) Irene Umar menyampaikan hal itu dalam sesi diskusi Shopee pada rangkaian World Conference on Creative Economy (WCCE) di Screen X Stage CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2026). foto/Rayfahd
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) bersama Shopee memperkuat pemberantasan barang bajakan dan produk palsu di platform daring. Kemenekraf juga meminta brand lokal tidak terjebak perang harga dan mengandalkan keaslian serta bahan baku Nusantara.

Wakil Menteri Ekonomi Kreatif (Wamenekraf), Irene Umar, menyampaikan hal itu dalam sesi diskusi Shopee pada rangkaian World Conference on Creative Economy (WCCE) di Screen X Stage CGV Grand Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2026). Menurut Irene, Shopee memiliki program kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) untuk menurunkan produk jiplakan, termasuk buku bajakan.

Irene menilai teknologi saja tidak cukup. Pemerintah, kata dia, menyediakan aturan main dan perangkat penurunan konten, tetapi masyarakat juga perlu menghargai produk otentik karena kreator dirugikan oleh pembajakan.

"Kita stop bajakan bukan hanya sebuah campaign, tapi karena beneran sakitnya di sini gitu loh," kata Irene.

Fitur Brand IP Portal Milik Shopee

Deputy Director of Government Relations Shopee Indonesia, Balques Manisang, menyebut platform-nya memiliki Brand IP Portal. Lewat portal itu, pelaku usaha dapat mendaftarkan produk beserta definisi dan lampirannya sehingga penurunan produk plagiat dan palsu bisa lebih cepat.

Balques mengakui karakter Shopee sebagai platform berbasis konten buatan pengguna (user generated content) menjadi tantangan sekaligus peluang untuk menjangkau pelaku usaha.

Pendiri dan CEO Mother of Pearl (MOP), Tasya Farasya, mengaku mengalami peniruan, terutama pada kampanye. Ia juga pernah menemukan produk palsu.

"Tiba-tiba ada aja brand lain yang benar-benar meniru 100% gitu, 100% dari campaign-nya, produknya semuanya sama gitu," ujar Tasya.

Tantangan Merek Lokal: Otentisitas vs Perang Harga

Dalam paparannya, Kemenekraf menilai pasar Indonesia yang besar membuat banyak brand terpaku pada perang harga. Padahal, yang perlu dikeluarkan adalah keaslian (authenticity), baik dari kepribadian pemilik brand maupun otentisitas sebagai bangsa.

Keunggulan produk lokal, kata Kemenekraf, terletak pada bahan baku. Indonesia memiliki bahan alami dan herbal untuk perawatan kecantikan sejak sebelum istilah kosmetik dikenal. Tantangannya adalah mengolah bahan baku itu menjadi produk yang mudah digunakan masyarakat modern dan pasar mancanegara.

Kemenekraf juga mengaitkannya dengan hilirisasi yang ditekankan Presiden. Salah satu tujuannya agar akses terhadap bahan baku dan kemasan tersedia tidak hanya di Pulau Jawa, tetapi di seluruh Indonesia.

Ekraf Hub Jadi Solusi Pemerataan Data Daerah

Untuk mendorong pengembangan yang tidak terpusat di Jakarta, Kemenekraf menggalang data pelaku kreatif dari seluruh Indonesia lewat Ekraf Hub. Irene menjelaskan platform itu dibuat karena pemerintah kesulitan memetakan pelaku ekonomi kreatif di daerah.

"Karena kan susah ya nyari di Indonesia itu ada apa saja sih supaya pengumpulan data itu ada," kata Irene.

Pelaku kreatif di berbagai daerah dapat mendaftar ke Ekraf Hub. Data itu dipakai untuk mengkurasi produk setiap kali ada acara atau program, termasuk WCCE yang menurut Irene berlangsung pada 24-25 Oktober, serta sebagai riwayat partisipasi pelaku usaha.

Kemenekraf juga memakai data tersebut untuk mempertemukan pelaku usaha yang lokasinya berdekatan. Salah satu contohnya di Yogyakarta, di mana banyak pembuat suvenir dan gantungan kunci perlu meningkatkan kualitas produk. Dengan pencocokan basis data, pelaku usaha di sana bisa saling terhubung dan berkolaborasi.

Baca juga artikel terkait EKONOMI KREATIF atau tulisan lainnya dari Muhammad Nizar

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Nizar
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Siti Fatimah