tirto.id - Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya resmi membuka World Conference on Creative Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Kamis (22/10/2026). Ia menegaskan ekonomi kreatif bukan lagi sekadar sektor pendukung, melainkan salah satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi nasional dan global.
“Pesan penting dalam WCCE ke-5 tahun 2026 ini adalah ekonomi kreatif bukan lagi sektor pelengkap, tetapi bagian penting dari masa depan pembangunan dan pertumbuhan ekonomi nasional dan ekonomi dunia,” ujar Teuku di Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.
Teuku menyebutkan, sektor ekonomi kreatif menyerap 27,4 juta tenaga kerja. Sebanyak 63 persen di antaranya merupakan generasi Z dan milenial, sedangkan 58 persen lainnya adalah perempuan. Sektor ini juga berkontribusi sebesar 7,38 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional.
Dari sisi investasi, kinerja ekonomi kreatif pada 2025 tercatat mencapai Rp183 triliun, melampaui target awal sebesar Rp136 triliun atau setara 134 persen dari sasaran. Sektor ini juga membukukan nilai ekspor hampir 32 miliar dolar AS.
Pemerintah menargetkan investasi ekonomi kreatif mencapai Rp146 triliun pada 2026. Teuku mengatakan, realisasinya pada kuartal I 2026 telah mencapai 47 persen dari target tahunan.
“Jadi, kelihatannya tahun ini juga akan melampaui target,” katanya.
WCCE 2026 dihadiri lebih dari 6.100 peserta dari lebih dari 80 negara, tujuh organisasi internasional, 183 pembicara, serta sekitar 50 kepala daerah.
Dalam konferensi tahun ini, pemerintah mendorong tiga agenda utama untuk memperkuat ekosistem ekonomi kreatif global. Pertama, menempatkan pelaku kreatif sebagai pusat pengembangan industri di tengah perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI). Kedua, memastikan pertumbuhan industri yang inklusif, adil, dan berkelanjutan, termasuk bagi kelompok rentan dan penyandang disabilitas. Ketiga, memperluas akses pasar dan pembiayaan melalui komersialisasi kekayaan intelektual.
Teuku menekankan, perkembangan AI dan teknologi harus memperkuat kreativitas manusia, bukan menggantikannya. Karena itu, akses terhadap teknologi dan infrastruktur digital perlu diperluas agar manfaatnya dapat dirasakan lebih merata.
“Prinsipnya, AI dan teknologi harus memperkuat kreativitas, bukan menggantikannya. Akses terhadap teknologi dan infrastruktur digital juga harus semakin inklusif agar manfaatnya dirasakan lebih luas,” ujarnya.
Gagasan tersebut dirangkum dalam dokumen kesepakatan bersama bertajuk Jakarta Vision. Dokumen ini ditandatangani oleh 38 kepala delegasi dan direncanakan dibawa ke Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York pada akhir tahun ini sebagai bagian dari agenda pembangunan global pasca-2030.
Teuku mengatakan, Jakarta Vision mencerminkan aspirasi para pemangku kepentingan ekonomi kreatif, baik di Indonesia maupun di tingkat global, terutama negara-negara Global South atau negara-negara berkembang di belahan bumi selatan.
Penulis: Mukhtar Abdullah
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































