tirto.id - Kimberly Guilfoyle diberhentikan sebagai Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Yunani usai serangkaian dugaan skandal yang menyeret namanya terungkap. Guilfoyle sebelumnya dikenal sebagai sosok penting dalam gerakan pendukung Presiden AS Donald Trump, MAGA.
Laporan CNN menyebut bahwa pemberhentian Guilfoyle itu terjadi pada Selasa (13/10/2026). Sekretaris Pers Gedung Putih Katie Zacharia mengatakan pihaknya telah “meminta Duta Besar Guilfoyle untuk mengundurkan diri”.
“Dia telah menjadi aset yang luar biasa bagi tim, dan kami mendoakan yang terbaik untuknya,” kata Zacharia.
Pada Selasa pula, Guilfoyle dilaporkan telah mengirimkan surat pengunduran diri. Seorang pejabat Gedung Putih mengatakan pengunduran diri itu telah diterima.
Pemberhentian ini terjadi setelah Guilfoyle dikaitkan dalam sejumlah dugaan skandal. Namun, mantan tunangan anak tertua Trump itu membantah dugaan yang muncul dan menyatakan akan “membela nama baik, reputasi, dan integritas” dengan gigi. Hal itu dinyatakannya melalui media sosial X pada akhir pekan lalu.
Laporan CNN juga menyebut Guilfoyle semula tak mau mengundurkan diri dari jabatannya sebagai duta besar. Ia diduga turut berupaya untuk menggalang dukungan di antara pejabat pemerintahan.
Dugaan Aliran Dana Mencurigakan hingga Sesumbar
Dugaan skandal yang menjerat Guilfoyle bermula dari laporan investigatif Wall Street Journal pekan lalu. Dalam laporan itu, Guilfoyle diduga telah meminta uang sebesar USD100.000 kepada donatur Trump, sesaat sebelum ditunjuk jadi Duta Besar AS untuk Yunani pada November 2025.
Permintaan itu ditujukan Guilfoyle kepada pengacara bernama Eric Deters yang pernah menjadi donatur dalam pencalonan Trump sebagai presiden AS. Guilfoyle diduga meminta uang tersebut dalam sebuah pesan teks dan menyebut butuh uang senilai USD100.000 untuk membayar tagihan kartu kredit American Express miliknya.
Deters belakangan membeberkan bahwa Guilfoyle juga menjanjikan akan jadi pendukung setianya di dalam pemerintahan Trump jika permintaan itu dikabulkan. Namun, Deters mengaku tak memberikan uang itu karena sedang tidak memiliki aset likuid.
Pengacara Guilfoyle membantah tuduhan tersebut. Laporan CNN menyebut, sang pengacara tak membantah adanya permintaan uang dari Guilfoyle kepada Deters, namun hal itu dalam konteks utang-piutang dan bukan suap-menyuap.
Pengacara Guilfoyle mengatakan bahwa Deters memiliki utang kepada kliennya berupa upah yang belum dibayarkan untuk pidato dan pekerjaan konsultasi. Jadi, Guilfoyle menagih utang tersebut.
“Meminta klien untuk membayar pekerjaan yang sudah dilakukan bukanlah korupsi. Itu adalah kebalikan dari korupsi,” kata pengacara Guilfoyle.
Akan tetapi, permintaan uang ini hanyalah salah satu dari rangkaian kontroversi seputar Kimberly Guilfoyle. Sebelumnya, ia juga disorot banyak pihak terkait kinerjanya sebagai duta besar.
Anggota parlemen AS, Gregory W. Meeks, pada 1 Oktober 2026, menyatakan keluhannya atas kinerja Guilfoyle sebagai duta besar. Seturut laman resmi parlemen, Meeks menyebut adanya laporan bahwa pentolan MAGA itu telah membuat ancaman terhadap Yunani dalam sebuah pertemuan.
Meeks menjelaskan, laporan tersebut bermula dari jamuan makan malam pada bulan Maret 2026 antara pejabat Yunani dan Amerika. Dalam acara itu, Guilfoyle membuat pernyataan bahwa AS bisa saja menciptakan pergolakan politik di negara lain.
Guilfoyle kala itu menggunakan peristiwa runtuhnya pemerintahan Perdana Menteri Rumania Ilie Bolojan sebagai preseden. Ia disebut telah mengatakan bahwa AS bisa melakukan hal serupa di negara lain, termasuk Yunani.
Selain itu, menukil NBC News, laporan Wall Street Journal juga membeberkan adanya indikasi skandal lainnya.
Dalam sebuah percakapan yang terekam, Guilfoyle diduga melakukan sesumbar atas koneksinya dengan konglomerat Yunani. Guilfoyle menyebut koneksinya itu telah membiayai dalam perjalanan-perjalanan mewahnya selama ini.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































