tirto.id - Jumlah titik api atau hotspot di Sumatra Selatan dalam 24 jam terakhir tercatat 1.833 titik. Sebaran hotspot masih didominasi di lahan gambut.
Berdasarkan data SiPongi milik Kementerian Kehutanan, sebaran hotspot terdiri atas 1.038 titik di lahan gambut dan 794 titik di lahan mineral, Kamis (22/10/2026). Hotspot terbanyak berada di Ogan Komering Ilir (OKI) berjumlah 1.007 titik dan 611 titik di antaranya berada di areal gambut.
Kemudian, hotspot berada di Musi Banyuasin dengan 121 titik di lahan gambut dan 134 titik di lahan mineral. Selanjutnya, sebanyak 70 titik karhutla terjadi di lahan gambut dan 168 titik di lahan mineral di daerah Banyuasin. Selain itu, tercatat terdapat puluhan titik di daerah-daerah lain.
Hotspot hari ini cenderung naik signifikan dibanding sebaran para Rabu (21/10/2026). Ketika itu, titik panas tercatat berjumlah 1.277 titik.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Sumsel, Wandayantolis, mengungkapkan, peningkatan hotspot tersebut perlu diwaspadai mengingat saat ini Sumsel masih berada pada musim kemarau dan kekeringan, apalagi hotspot terbanyak berada di OKI yang menjadi penyebab pekatnya kabut asap di Palembang dan sekitarnya.
Asap karhutla dari wilayah itu terbawa ke Palembang itu hingga menyebabkan peningkatan polutan udara. Alhasil, konsentrasi partikulat atau PM2.5 masuk dalam kategori berbahaya.
"Terpantau peningkatan hotspot di timur Palembang, meliputi Muara Padang hingga Pangkalan Lampam (OKI). Angin membawa asap ke Palembang," ungkap Wandayantolis, Kamis (20/10/2026).
Menurut dia, kelembaban udara di permukaan sekitar 95 persen yang mengindikasikan adanya kabut uap air. Kondisi ini menyebabkan penurunan jarak pandang di bawah 1.000 meter.
"Gabungan uang asap ini memperparah penurunan jarak pandang," kata dia.
Masuk tirto.id







































