tirto.id - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung membuka perdagangan awal pekan dengan berada di zona merah. Berdasarkan data RTI Business pukul 09.05 WIB, Senin (2/11/2026), IHSG tercatat merosot 41,299 poin atau turun 0,82 persen ke level 5.015,751.
Tekanan jual tampak mendominasi pasar sejak menit-menit awal perdagangan bursa, setelah perdagangan sesi pagi ini dibuka di level 5.039,539. Sepanjang awal perdagangan, pergerakan indeks sempat menyentuh level tertinggi harian di posisi 5.044,549 sebelum akhirnya mengalami tekanan dan merosot ke level terendah di 4.981,519.
Mayoritas emiten kompak bergerak di zona negatif dengan 447 saham mengalami pelemahan (down), 120 saham berhasil mencatatkan penguatan (up) dan 114 saham lainnya stagnan atau tidak mengalami perubahan harga.
Dari segi aktivitas perdagangan, pasar mencatatkan volume sebesar 2,967 miliar saham dengan nilai transaksi (turnover) mencapai Rp916,911 miliar. Sementara itu, total frekuensi transaksi yang terjadi di awal sesi ini tercatat sebanyak 113.772 kali.
Sementara itu, total kapitalisasi pasar (Market Cap) bursa domestik tercatat berada di angka Rp8.788,182 triliun.
Berdasarkan analisisnya, PT Indo Premier Sekuritas menilai, IHSG masih berada dalam tekanan. Pada pekan lalu, selama periode perdagangan 26–30 Oktober 2026, indeks terkoreksi 7,03 persen ke level 5.057,05 pada penutupan akhir pekan lalu dari posisi penutupan pekan sebelumnya di 5.439,25. Dengan sepanjang pekan lalu IHSG bergerak pada rentang 4.979–5.453. Tekanan jual juga tercermin dari aktivitas investor asing yang mencatatkan net foreign sell sekitar Rp4,1 triliun sepanjang pekan.
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Brigita Kinari, menjelaskan kondisi ini mengindikasikan momentum bearish masih dominan dan pemulihan tren jangka pendek belum terkonfirmasi. Dalam skenario best case, selama mampu mempertahankan penutupan di atas level psikologis 5.000, IHSG berpeluang bergerak konsolidatif pada kisaran 5.000–5.200 sepanjang pekan ini.
Sebaliknya, apabila tekanan jual kembali meningkat dan indeks ditutup menembus ke bawah 5.000, IHSG berpotensi melanjutkan pelemahan untuk menguji area 4.900–5.000. Namun, dalam skenario terburuk (worst case), tekanan jual yang berlanjut berpotensi membawa indeks menuju area koreksi berikutnya di 4.763–4.845.
"Pergerakan IHSG akan dipengaruhi oleh kemampuan indeks mempertahankan level psikologis 5.000 serta respons investor terhadap sejumlah agenda ekonomi domestik, meliputi rilis Manufacturing PMI, neraca perdagangan, inflasi, pertumbuhan ekonomi 3Q26, cadangan devisa, dan indeks harga rumah. Dari eksternal, investor juga akan mencermati pemilu paruh waktu AS (midterm election) pada 3 November," jelasnya.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id





































