Menuju konten utama

Daftar Nama 9 Korban Pesawat Learjet 60 yang Jatuh di Florida

Sembilan orang, termasuk satu keluarga dan dua awak, tewas saat Learjet 60 jatuh di Florida. NTSB masih menyelidiki penyebab kecelakaan.

Daftar Nama 9 Korban Pesawat Learjet 60 yang Jatuh di Florida
Keluarga Adam Robinson yang menjadi korban pesawat jatuh di Florida. facebook/Anthony Robinson
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kecelakaan pesawat pribadi jenis Learjet 60 di Palm Beach County, Florida, Amerika Serikat, pada Minggu (1/11/2026), menewaskan sembilan orang yang terdiri dari tujuh penumpang dan dua awak pesawat.

Pesawat yang terbang dari Bandara Internasional Austin-Bergstrom, Texas, menuju North Eleuthera, Bahama, tersebut jatuh ketika Florida Selatan dilanda badai petir hebat. Seluruh orang di dalam pesawat meninggal dunia setelah pesawat menghantam tanah dan meledak di kawasan Greenacres.

Identitas sembilan korban mulai terungkap pada Senin (2/11/2026). Mereka terdiri dari pengusaha teknologi Adam Robinson, istrinya Helen Sharp, kedua anak mereka, dua sahabat keluarga, seorang pengasuh anak, serta dua awak pesawat.

Kedua awak yang meninggal adalah kapten Jeff Gregory, 55 tahun, dan kopilot Nathalia Gadelha Filgueiras, 20 tahun. Nathalia diketahui telah memiliki lisensi pilot sejak berusia 17 tahun dan bekerja untuk Aurora Aviation.

Pesawat tersebut dioperasikan oleh Aurora Aviation dengan nama dagang Upper Jet, menurut catatan investigasi NTSB.

Berdasarkan pernyataan keluarga penumpang dan identifikasi awal, berikut daftar sembilan korban:

  1. Adam Robinson (45 tahun): Pengusaha teknologi asal Texas yang mendirikan sejumlah perusahaan teknologi.
  2. Helen Sharp (40 tahun): Istri Adam Robinson dan pemilik perusahaan hubungan masyarakat (public relations)/PR.
  3. Emma Robinson (4 tahun): Putri Adam Robinson dan Helen Sharp.
  4. Charlie Robinson (2 tahun): Putra Adam Robinson dan Helen Sharp.
  5. Rachael Reed: Sahabat dekat keluarga Robinson.
  6. Charmi Fehr: Sahabat dekat keluarga Robinson.
  7. Anita Maria Cetina: Pengasuh anak atau nanny keluarga Robinson.
  8. Jeff Gregory (55 tahun): Kapten atau pilot in command Learjet 60.
  9. Nathalia Gadelha Filgueiras (20 tahun): Kopilot Learjet 60 yang berasal dari Florida.

Fakta-fakta Kecelakaan Learjet 60 di Florida

Berikut fakta-fakta kecelakaan pesawat jenis Learjet 60 di Palm Beach County, Florida, Amerika Serikat yang menewaskan seluruh penumpang dan awaknya pada Minggu (1/11/2026):

1. Pesawat terbang dari Texas menuju Bahama

Learjet 60 yang mengalami kecelakaan pada Minggu (1/11/2026) merupakan pesawat pribadi yang melakukan penerbangan dari Bandara Internasional Austin-Bergstrom di Texas menuju North Eleuthera, Bahama.

Pesawat tersebut berangkat sekitar pukul 10.37 EDT. Penerbangan itu membawa tujuh penumpang dan dua awak pesawat, termasuk keluarga Adam Robinson yang sedang bepergian bersama dua sahabat serta pengasuh anak mereka.

Pesawat dioperasikan oleh Aurora Aviation dengan nama dagang Upper Jet, sebuah perusahaan penerbangan carter yang berbasis di Fort Lauderdale, Florida.

2. Sembilan orang meninggal dunia dalam kecelakaan

Pesawat jatuh di kawasan Greenacres, Palm Beach County, dekat Lake Worth Beach, Florida sekitar pukul 12.51 EDT dan terbakar setelah benturan.

Benturan tersebut meninggalkan kawah besar di permukaan tanah dan membuat puing-puing pesawat berserakan di sekitar lokasi kejadian, yang berada tidak jauh dari kawasan permukiman rumah mobil.

“Kecelakaan pesawat yang sangat dahsyat… Pesawat itu terlihat seperti rudal yang sedang meluncur jatuh,” ucap Gubernur Florida, Ron DeSantis dikutip The Guardian, Senin (2/11/2026).

3. Kopilot Nathalia Filgueiras telah menjadi pilot sejak usia 17 tahun

Nathalia Gadelha Filgueiras, 20 tahun, merupakan kopilot Learjet 60 yang meninggal dalam kecelakaan tersebut. Ibunya, Camila Corteleti, mengonfirmasi identitas putrinya kepada The New York Times, Selasa (3/11/2026).

Nathalia Filgueiras

Nathalia Filgueiras. x/Collin Rugg

Nathalia diketahui sudah menyukai dunia penerbangan sejak kecil. Ibunya menceritakan bahwa putrinya senang mengamati pesawat di bandara-bandara setempat ketika masih anak-anak.

Menurut ibunya, Nathalia sangat menyukai kebebasan yang dirasakan ketika berada di udara dan melihat dunia dari ketinggian.

Ketertarikannya terhadap penerbangan kemudian berkembang menjadi profesi. Nathalia memperoleh lisensi pilot privat pada usia 17 tahun, sebelum lulus sekolah menengah atas di Boca Raton, Florida, pada 2024.

Ia bekerja untuk Upper Jet, perusahaan penerbangan carter yang mengoperasikan pesawat tersebut.

Nathalia telah mengumpulkan sekitar 1.300 jam terbang dan bekerja sebagai pilot profesional selama sekitar sembilan bulan.

4. Identitas kapten Jeff Gregory terungkap

Selain Nathalia, awak pesawat yang meninggal adalah Jeff Gregory, 55 tahun. Ia merupakan kapten atau pilot utama Learjet 60 yang mengalami kecelakaan.

Jeff diidentifikasi oleh TMZ pada Senin (2/11/2026). Ia dilaporkan merupakan penerbang berpengalaman yang berasal dari Pennsylvania.

5. Keluarga Robinson kehilangan empat anggota keluarga

Tujuh penumpang yang berada di dalam pesawat terdiri atas satu keluarga asal Texas, yakni Adam Robinson, Helen Sharp, serta kedua anak mereka, Emma, dan Charlie.

Adam merupakan pengusaha teknologi yang mendirikan sejumlah perusahaan, sedangkan istrinya, Helen, memiliki perusahaan di bidang hubungan masyarakat.

Keluarga tersebut juga bepergian bersama dua sahabat dekat, Rachael Reed dan Charmi Fehr, serta Anita Maria Cetina yang bekerja sebagai pengasuh anak mereka.

Setelah kecelakaan, keluarga Robinson menyampaikan pernyataan melalui Facebook untuk mengenang para korban. Adam dan Helen digambarkan sebagai orang tua yang sangat menyayangi Emma dan Charlie.

“Adam dan Helen adalah orang tua yang penuh dedikasi, dan Emma serta Charlie merupakan cahaya dalam hidup mereka,” bunyi pernyataan tersebut.

6. Awak pesawat sempat melaporkan pembentukan es dan turbulensi

Sebelum kecelakaan, awak Learjet 60 sempat berkomunikasi dengan pengatur lalu lintas udara atau Air Traffic Control (ATC) mengenai kondisi penerbangan.

Dalam konferensi pers pada Senin, Tom Chapman, kepala tim penyelidik NTSB, menjelaskan bahwa awak pesawat melaporkan adanya pembentukan es ringan dan transparan atau light, clear ice pada permukaan pesawat.

Saat itu, pesawat berada di ketinggian 35.000 kaki. Awak pesawat menyampaikan bahwa pembentukan es masih dapat dikendalikan, meskipun mereka juga mengalami turbulensi sedang.

Suhu udara luar pesawat dilaporkan mencapai minus 47 derajat Celsius. Tidak lama kemudian, awak pesawat melaporkan adanya presipitasi dan meminta izin untuk menaikkan ketinggian dari 35.000 kaki menjadi 37.000 kaki.

Permintaan tersebut disetujui oleh pengatur lalu lintas udara. Namun, kurang dari 30 detik setelahnya, awak pesawat justru mengumumkan bahwa pesawat sedang mengalami penurunan ketinggian.

7. Pesawat mengalami penurunan hingga lebih dari 20.000 kaki per menit

Setelah meminta izin untuk naik ke ketinggian 37.000 kaki, awak pesawat melaporkan kondisi darurat atau mayday (sinyal darurat penerbangan).

Dalam rekaman komunikasi terakhir, awak pesawat menyampaikan bahwa pesawat sedang mengalami kondisi overspeed (kondisi ketika pesawat melampaui batas kecepatan yang ditentukan).

Penurunan ketinggian yang awalnya dilaporkan mencapai sekitar 8.000 hingga 10.000 kaki per menit kemudian meningkat hingga lebih dari 20.000 kaki per menit.

Salah satu awak pesawat bahkan terdengar mengatakan bahwa pesawat akan menghantam tanah. Pada bagian akhir rekaman, terdengar pula seruan bahwa mereka sudah kehabisan waktu.

Setelah komunikasi tersebut terputus, pengatur lalu lintas udara berusaha menghubungi kembali pesawat. Namun, tidak ada respons yang diterima.

Pesawat menghantam tanah sekitar pukul 12.51 EDT. Seluruh sembilan orang di dalamnya meninggal dunia.

8. NTSB menyelidiki kemungkinan pesawat pecah sebelum menghantam tanah

Badan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB) mengerahkan sekitar 20 personel untuk menyelidiki kecelakaan tersebut di West Palm Beach.

Tom Chapman mengatakan kondisi cuaca di Florida Selatan pada Minggu sangat buruk dan akan menjadi salah satu fokus utama penyelidikan.

Menurutnya, tim perlu mengetahui kondisi cuaca pada ketinggian pesawat, bukan hanya keadaan cuaca yang terlihat di permukaan tanah.

Chapman juga menyampaikan bahwa terdapat indikasi pesawat mungkin sudah mengalami kerusakan atau terpecah sebelum menghantam tanah. Karena kecepatan benturan sangat tinggi, proses pengumpulan puing-puing pesawat diperkirakan menjadi tantangan besar.

“Kami memiliki indikasi bahwa pesawat tersebut mulai hancur sebelum terjadi benturan, sehingga beberapa hal masih perlu dipastikan lebih lanjut. Ada kemungkinan kita akan menemukan bagian-bagian pesawat yang tersebar cukup jauh dari titik benturan utama,” paparnya.

Baca juga artikel terkait PESAWAT JATUH atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra