tirto.id - Balapan MotoGP Argentina di Sirkuit Termas de Rio Hondo resmi berakhir Senin (4/1/2019) dini hari. Marc Marquez yang memimpin sejak detik pertama tak tertandingi sampai garis finis, sementara Andrea Dovizioso, pesaing terdekatnya dalam bursa juara dunia harus puas finis di peringkat tiga. Pembalap Ducati itu kalah cepat dari Valentino Rossi yang secara mengejutkan mampu merengkuh podium pertamanya sejak MotoGP Jerman, 15 Juli 2018.
Balapan memang berjalan seru, tapi kontroversi bukan tidak terjadi. Semua bermula ketika pembalap asal Inggris, Cal Crutchlow terkena penalti masuk pit lane selama 30 detik. Penalti tersebut dijatuhkan karena Crutchlow yang start dari posisi delapan dinilai melakukan jump start (lebih dulu memacu kendaraannya meninggalkan posisi start sebelum semua lampu merah tanda balapan dimulai padam).
Sesuai aturan pada Appendices FIM MotoGP Rookies Cup Regulation (PDF), pada artikel 1.18, disebutkan, "setiap pembalap yang mengantisipasi start akan dihukum sesuai ketentuan artikel 1.19. Motor pembalap harus berada di titik yang ditentukan sampai lampu merah dimatikan. Antisipasi terhadap start adalah ketika motor bergerak paling lambat saat lampu merah sedang proses mati."
Artikel 1.19 kemudian dengan jelas menyebutkan: "Selama balapan, pembalap [yang melanggar] akan dijatuhi hukuman melewati pit lane. Pembalap tersebut tidak boleh berhenti [untuk mengganti mesin dan lain-lain] dan harus langsung mengikuti balapan lagi setelahnya." (Sebagai catatan, pembalap yang masuk pit lane tidak boleh mengemudikan motornya lebih dari 60 kilometer per jam).
Penalti 30 detik itu membuat alur balapan Crutchlow berantakan. Dia akhirnya finis di peringkat 12 dan mengemas tiga poin.
Mengacu pada data resmi MotoGP, catatan waktunya sepanjang balapan cuma 42 menit lebih 15,086 detik. Padahal, jika penalti itu tidak terjadi, Crutchlow bisa saja cuma melahap balapan selama 41 menit lebih 45,086 detik. Angka ini bakal menempatkannya di urutan dua, menggeser Valentino Rossi yang menyudahi balapan dengan durasi 41 menit lebih 53,504 detik.
Here is the video from Race Direction showing Crutchlow’s jump start at the #ArgentinaGP
— MotoGP™ 🇦🇷 (@MotoGP) March 31, 2019
The explanation of how he was penalised for this can be found under article 1.18 section 14 of the rule book (see the tweet below for full description). pic.twitter.com/1zWN2PG0pO
Tetap Kontroversial
Kendati penjelasan sudah ada, tidak serta merta polemik lenyap. Dalam siaran di BT Sport, dua pundit (komentator), Neil Hodgson dan Keith Huewen berpendapat tindakan Crutchlow bukan jump start. Soalnya, mengacu rekaman ulang, Crutchlow sebenarnya tidak mendapat manfaat berarti dari insiden yang dituding sebagai jump start itu.
Hal senada dituturkan oleh si pembalap. Alih-alih mengambil keuntungan, Crutchlow mengatakan gerakannya sebelum lampu merah mati cuma disebabkan keseimbangan motornya terganggu, sehingga dia harus membenarkan posisi kaki yang otomatis membuat motornya sedikit oleng ke depan.
"Jika Anda melihat kamera samping yang memperlihatkan saya, saya memang bergerak. Tapi tidak menguntungkan [melewati garis] satu sentimeter pun. Saya bahkan tak melepas kopling. Jadi, jika ada celah dari tuas ke gigitan kopling, bukan berarti saya mendorong motor. Saya hanya menjaga keseimbangkan, dan mereka [Race Direction] menganggapnya jump start, itu konyol," kata Crutchlow kepada Crash.
Kubu Honda LCR--tim tempat Crutchlow bernaung--turut menyayangkan kejadian itu. Pembalap mereka yang lain, Takaaki Nakagami sebenarnya mampu tampil baik dan menggondol peringkat tujuh. Namun, performa itu tak lengkap karena Crutchlow, pembalap utama mereka yang seharusnya mendapat urutan kedua justru finis di peringkat 12.
Terlepas dari kekecewaan itu, Luciano Cecchinello, pimpinan Honda LCR, sama sekali tidak menyalahkan Crutchlow atas insiden yang terjadi. Baginya, Crutchlow tidak layak diberi hukuman kelewat berat seperti masuk pit lane 30 detik.
"Saya sangat kecewa terhadap apa yang dilakukan race direction kepada kami hari ini. Penalti kepada Cal sangat keras, pergerakannya tidak relevan, sangat tidak relevan. Kita sedang berbicara soal 1,5 atau 2 sentimeter, ini benar-benar angka yang tidak sebanding," ujarnya pada wawancara dengan BT Sport.
Dia juga menyuarakan agar regulasi yang saat ini diterapkan MotoGP dikaji ulang. Soalnya, menurut pandangan Cecchinello, tidak semua pelanggaran jump start bisa dipukul rata dengan hukuman sama persis. Harus ada perbedaan hukuman yang dipengaruhi tingkat keseriusan pelanggaran.
"Tidak ada relasi antara keuntungan yang diperoleh dari beberapa sentimeter dengan 30 detik penalti yang diperoleh dari ride through," imbuh Cecchinello.
Diskriminasi?
Protes Cecchinello ada benarnya. Dalam aturan MotoGP memang belum ada regulasi yang memberikan hukuman secara adil. Aturan yang ada cuma menyebutkan apabila insiden yang terjadi sekadar gerakan minor saat akan memulai balapan, Race Direction dan penanggung jawab balapan yang telah ditunjuk berhak bertindak sebagai pengadil guna memutuskan apakah ada pelanggaran atau tidak.
Prosedur itu pula yang kemudian jadi soal. Cal Cruthclow menyayangkan penanggung jawab yang mengambil langkah terlalu kejam. Saking kejamnya, Crutchlow bahkan berani menyindir sosok Freddie Spencer, Ketua Panel Stewards MotoGP. Menurut Crutchlow, Spencer mengambil kekeliruan besar karena pola pikirnya yang lampau.
"Tidak ada jump start. Freddie Spencer sepertinya berpikir sebaliknya. Mungkin pola pikirnya masih terjebak di era 1980, para pembalap waktu itu selalu melakukan jump start. Sungguh, saya tak habis pikir lagi apa sebenarnya masalah yang dialami Freddie Spencer," keluh Crutchlow kepada BT Sport.
Atas sindiran Crutchlow, hingga kini Spencer belum bereaksi. Dia juga menolak berkomentar mengenai alasan Race Direction menjatuhkan hukuman pada pembalap bernomor motor 35 itu.
Selain Spencer, Crutchlow menilai para Race Direction melakukan diskriminasi terhadapnya. Andai tindakan serupa dilakukan pembalap yang punya nama besar macam Marc Marquez atau Valentino Rossi, dia meyakini bakal ada kompromi terhadap langkah mengambil hukuman berat.
"Masalahnya, saya tidak percaya kalau mereka juga akan menjatuhkan hukuman serupa andai pelanggaran dilakukan oleh Marc, Vale, Dovi, atau pembalap besar lain. Dan itu pula faktanya. Apakah Anda yakin mereka berani memberikan hukuman pada Valentino?," sindir Crutchlow.
"Saya tak ingin menyerang dia atau pembalap lain, saya berbicara soal pembalap dengan nama besar. Saya tak percaya mereka juga akan dihukum jika melakukan hal serupa," tandasnya.
Finis di urutan 12 MotoGP Argentina membuat Cal Crutchlow menorehkan capaian terburuk dalam tiga tahun terakhir. Di edisi MotoGP Argentina tahun lalu, dia bisa tampil sebagai juara (peringkat satu), sementara pada tahun 2017 pembalap kelahiran Coventry itu finis nomor delapan.
Adapun MotoGP 2019 sendiri baru merampungkan dua seri. Saat ini Crutchlow berada di peringkat enam klasemen dengan 19 poin, terpaut 26 angka dari Marc Marquez selaku pemuncak.
Editor: Abdul Aziz
Masuk tirto.id



























