tirto.id - Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat (Menko PM), Muhaimin Iskandar atau kerap disapa Cak Imin, mengklaim tingkat kemiskinan di Indonesia turun dari 9 persen menjadi 8 persen selama dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran.
Muhaimin mengatakan, pemerintah mendorong perubahan pola penanganan kemiskinan dari pemberian bantuan sosial (bansos) menjadi pemberdayaan masyarakat.
Dengan pendekatan tersebut, masyarakat miskin diharapkan dapat menjadi pelaku ekonomi yang mandiri sehingga ketergantungan terhadap bansos berkurang.
“Ada tiga pijakan utama Kemenko Pemberdayaan Masyarakat. Yang pertama, mengubah pola kerja yang berbasis bantuan sosial menjadi pemberdayaan,” kata Muhaimin di Pondok Pesantren Al Falah Putera, Banjarbaru, Sabtu (24/10/2026).
Menurut Muhaimin, pemerintah akan mendorong peningkatan anggaran pemberdayaan agar semakin banyak penerima bansos mendapatkan akses terhadap program yang dapat meningkatkan kemandirian ekonomi mereka.
Kemudian, pijakan kedua adalah penggunaan data sebagai dasar pelaksanaan program pemerintah agar bantuan tepat sasaran. Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) disebut menjadi salah satu rujukan dalam penyaluran program tersebut.
Ia menjelaskan, sejumlah program pemerintah di sektor kelautan dan perikanan, pertanian, serta kemandirian pangan diharapkan dapat membentuk ekosistem ekonomi yang membantu masyarakat meningkatkan kesejahteraan.
“Datanya sangat banyak, kemiskinan turun menjadi hanya 8 persen dari 9 persen, kemudian akan terus kita dorong 0 persen kemiskinan ekstrem tahun ini dan akhirnya 2029 hanya 5 persen maksimal kemiskinan kita,” ujar Cak Imin.
Pijakan ketiga adalah memperkuat kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pemerintah berupaya memperluas akses pelaku usaha terhadap peningkatan mutu produk, permodalan, bahan baku, dan teknologi.
Muhaimin menyebut dukungan terhadap UMKM dilakukan melalui sejumlah kementerian, termasuk Kementerian UMKM dan Kementerian Ekonomi Kreatif, serta program pemberdayaan melalui desa.
Penulis: Hanang Septioyudho
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































