tirto.id - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia berencana mempercepat proses tender pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kapasitas 25-30 gigawatt (GW). Penyederhanaan proses tersebut, menurutnya, juga perlu dilakukan agar perusahaan yang telah memiliki pengalaman, kemampuan serta teknologi PLTS skala besar dapat segera berinvestasi.
"Kalau memang birokrasi tender ini kita bisa lakukan penyederhanaan, ya kita akan lakukan penyederhanaan, tetapi kepada perusahaan-perusahaan yang memang mempunyai kemampuan untuk bersaing dan mempunyai teknologi, kita akan dorong," ujarnya dalam kegiatan Electricity Connect 2026 di Tangerang Selatan, Banten, Selasa (22/8/2026).
Bahlil menyebutkan, pembangunan PLTS menjadi bagian dari rencana pemerintah untuk menambah kapasitas pembangkit listrik dengan target hingga 100 GW. Kebutuhan investasi untuk pembangunan PLTS berkapasitas 100 GW itu disebut mencapai sekitar 70-73 miliar dolar AS.
"Kalau memang ekonomis, kita tunjuk dia [perusahaan] saja. Untuk 100 gigawatt, itu investasinya kurang lebih 70-73 miliar dolar," ujar Bahlil.
Bahlil juga menyampaikan bahwa pemerintah tetap akan memprioritaskan produksi industri dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan modul surya proyek tersebut. Namun, ia mengakui bahwa pasokan dalam negeri masih menghadapi terbatas.
Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, terdapat 33 pabrikan modul surya di Indonesia dengan kapasitas produksi sekitar 4,3 GW per tahun.
Karena itu, Bahlil membuka opsi pemenuhan kebutuhan dari luar negeri apabila produksi dalam negeri tidak mampu mencukupi kebutuhan. Namun, ia menyatakan pemerintah akan tetap memprioritaskan produksi dalam negeri.
"Kita akan prioritaskan kepada produksi dalam negeri, tetapi kalau produksi dalam negeri tidak mampu memenuhi, ya kita akan lakukan impor secara selektif," tutur dia.
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































