Menuju konten utama

Airlangga & Suahasil Klaim Ekonomi Stabil Jelang 2 Tahun Prabowo

Menkeu menegaskan kebijakan efisiensi anggaran di akhir tahun tidak berarti menghentikan belanja prioritas negara.

Airlangga & Suahasil Klaim Ekonomi Stabil Jelang 2 Tahun Prabowo
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto di acara Seminar Nasional Green Economy 2045 di Hotel Aryaduta Menteng pada Selasa (29/9/2026). tirto.id/Mukhtar Abdullah
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, dan Menteri Keuangan, Suahasil Nazara, menegaskan kondisi fundamental ekonomi nasional tetap stabil dan berdaya tahan (resilient) menjelang genap dua tahun masa pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

Hal tersebut disampaikan usai Prabowo memanggil jajaran menteri dan pimpinan otoritas keuangan dalam rapat terbatas bidang perekonomian di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (19/10/2026).

"Tadi, kami sampaikan bahwa kondisi makro ekonomi relatif stabil, juga disampaikan terkait dengan kondisi pertumbuhan ekonomi, kemudian juga terkait dengan target inflasi, dan juga terkait dengan situasi makro dari perbankan, kemudian juga dari investasi yang tidak berjalan, dan dari berbagai angka-angka makro itu," ujar Airlangga dalam konferensi pers usai rapat terbatas di Istana.

Airlangga menjelaskan pertemuan bersama Kepala Negara difokuskan untuk meninjau dinamika perekonomian menjelang penutupan tahun anggaran sekaligus merefleksikan capaian dua tahun kepemimpinan nasional.

"Hari ini, Bapak Presiden memanggil tim ekonomi terutama untuk meng-update situasi perekonomian menjelang akhir tahun ini dan juga sekaligus dalam rangka 2 tahun pemerintahan Pak Presiden, Pak Prabowo," lanjutnya.

Senada dengan Airlangga, Menkeu Suahasil Nazara menyampaikan bahwa ketahanan ekonomi domestik mampu menghadapi ketidakpastian pasar global. Termasuk, tingginya inflasi di Amerika Serikat dan fluktuasi ekonomi di kawasan Eropa.

"Kami lihat sebenarnya kondisi ekonomi dunia itu cukup volatile. Jadi, cukup banyak Amerika Serikat punya gerakan yang masih meningkat terus, termasuk inflasinya masih tinggi, lalu kemudian Eropa juga mengalami kondisi yang kita tahu cukup volatile," papar Menkeu dalam kesempatan yang sama.

Meski demikian, aktivitas perekonomian dan konsumsi masyarakat di dalam negeri dinilai tetap solid sehingga stabilitas makro dapat terus dipertahankan.

"Kami melaporkan kepada Bapak Presiden kondisi ekonomi makro masih sangat resilient, kondisi transaksi di masyarakat juga masih sangat resilient. Kami akan terus menjaga stabilitas ke depan dan tetap mendorong pertumbuhan," imbuh Suahasil.

Demi menjaga momentum pertumbuhan tersebut, Menkeu memastikan pemerintah tetap mengucurkan stimulus fiskal pada kuartal IV-2026.

Dia menegaskan bahwa kebijakan efisiensi anggaran di akhir tahun tidak berarti menghentikan belanja prioritas negara.

“Kalau kami mengatakan efisiensi anggaran, itu bukan berarti bahwa menyetop anggaran. Karena untuk Q4 ini, APBN akan belanja sekitar 1.300 triliun rupiah, lebih tinggi dibandingkan Q4 tahun 2025 yaitu 1.200 triliun rupiah," tegasnya.

Suahasil juga menambahkan bahwa disiplin fiskal tetap menjadi komitmen utama pemerintah dengan menjaga rasio defisit sesuai target yang disepakati bersama parlemen.

"Defisit APBN tetap di angka yang kami laporkan kepada Badan Anggaran di bulan Juli yang lalu, yaitu sekitar 2,85 persen dari PDB," tutur Menkeu.

Di sektor riil dan perdagangan, Airlangga menambahkan Presiden telah menugaskan satuan tugas khusus untuk mengurai berbagai sumbatan operasional guna mendorong daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

"Jadi, ekspor kami akan pacu dari seluruh sektor, termasuk manufaktur, sehingga berbagai hal yang bisa mengurangi ekspor nanti akan kami debottlenecking yang sudah diberikan penugasan oleh Bapak Presiden melalui satgas," ujar Airlangga.

Baca juga artikel terkait PERTUMBUHAN EKONOMI atau tulisan lainnya dari Mochammad Fajar Nur

tirto.id - Insider
Reporter: Mochammad Fajar Nur
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Fadrik Aziz Firdausi