Menuju konten utama
Mozaik

Tradisi Membaca Nyaring di Kalangan Buruh

Membaca nyaring amat berguna bagi para buruh yang waktu membacanya direnggut oleh jam kerja perusahaan. Tradisi itu sudah menyebar dan mengakar sejak lama.

Tradisi Membaca Nyaring di Kalangan Buruh
ilustrasi membaca buku. foto/istockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di ruangan panjang bernama galera, ratusan pekerja duduk berjejer di depan meja kayu. Mereka memotong, menggulung, dan merekatkan daun tembakau dengan pisau kecil yang disebut chaveta. Pabrik itu memproduksi cerutu premium sebagai komoditas andalan Kuba.

Di tengah jam kerja, seorang lelaki duduk di mimbar kayu dan membacakan surat kabar atau buku dengan lantang. Para pekerja menyimak berita politik, harga kebutuhan pokok, hingga kisah dalam novel. Orang yang bertugas membacakan tulisan itu dikenal sebagai lector. Ia dibayar lewat iuran rutin.

Mengapa para pembuat cerutu membayar seseorang untuk membacakan berita, padahal mereka bisa membaca sendiri setelah bekerja?

Lahirnya Tradisi Lector di Pabrik Cerutu

Membaca nyaring untuk kelompok pendengar sudah dikenal di Kuba, bahkan di penjara. Namun, praktik tersebut berkembang menjadi tradisi teratur di pabrik cerutu berkat inisiatif Saturnino Martínez, seorang pekerja yang gemar membaca.

Dalam El Lector: A History of the Cigar Factory Reader (2007:4), sejarawan Araceli Tinajero mencatat bahwa Martínez bekerja sebagai pembuat cerutu sekaligus jurnalis dan penyair. Ia ingin memperluas wawasan rekan-rekannya yang memiliki sedikit kesempatan belajar.

Pada 1865, Martínez meminta izin kepada pemilik pabrik cerutu El Fígaro di Havana untuk mengadakan sesi membaca di ruang kerja. Pada tahun sama, ia menerbitkan La Aurora, surat kabar untuk pekerja cerutu, yang memuat berita politik, sains, sastra, puisi, dan cerita pendek. Martínez merintis tradisi tersebut, lalu para pekerja yang mempertahankan dan merawat eksistensinya.

Para pekerja membayar lector melalui iuran, biasanya sekitar 10 hingga 25 sen per minggu. Mereka juga menentukan bahan bacaan melalui komite dan pemungutan suara. Jika tidak puas, mereka dapat menolak membayar iuran sehingga lector berisiko kehilangan pekerjaannya.

Tinajero mencatat adanya aturan untuk menjaga ketertiban selama sesi membaca. Pekerja tidak boleh menyela bacaan. Tanda persetujuan kadang hanya ditunjukkan dengan mengetukkan pisau chaveta ke meja (hlm. 19).

Di sejumlah pabrik, pagi hari biasanya diisi berita lokal dan internasional, sedangkan siang hari menjadi waktu untuk sastra dan tulisan politik. Novel Les Misérables karya Victor Hugo termasuk bacaan populer. Karya Alexandre Dumas, Miguel de Cervantes, dan William Shakespeare, juga dibacakan dari mimbar.

Tradisi itu bertahan hingga abad ke-21. Dalam kunjungannya ke San Juan y Martínez pada 2003, Tinajero mewawancarai Santos Segundo Domínguez Mena, yang saat itu berusia 88 tahun dan telah menjadi lector selama 65 tahun. Dua tahun sebelumnya, ia menyaksikan lector perempuan membacakan buku kepada pekerja di pabrik Partagás, Havana.

 ilustrasi membaca buku

ilustrasi membaca buku. foto/istockphoto

Pekerjaan lector membutuhkan kemampuan membaca dan mengatur intonasi. Jesús Pereira, salah satu lector di Partagás, mengenang kemampuannya membedakan suara berbagai tokoh dalam cerita.

“Terkadang, saya yakin saya adalah seorang aktor. Saya memerankan suara semua karakter. Misalnya, ketika membaca [beberapa karya] saya memainkan 15 karakter berbeda dengan suara berbeda: pria, wanita, dan anak-anak,” kata Pereira, dinukil dari Holt's Clubhouse.

Ketika Bacaan Menjadi Urusan Politik

Berita pemogokan, kolom tentang hak pekerja, dan gagasan Karl Marx serta Peter Kropotkin, menjadi bahan bacaan para pembuat cerutu. Pabrik pun menjadi tempat pekerja mengenal gagasan politik dan membicarakan kondisi kerja.

Dalam “El Siglo, La Aurora y la lectura en voz alta en Cuba, 1865–1868” (2006), Tinajero menyebut pembacaan nyaring di kalangan pekerja cerutu sebagai salah satu praktik penting dalam perkembangan budaya Kuba pada masa kolonial.

Ketegangan meningkat ketika pekerja mulai membahas upah, kondisi kerja, dan serikat buruh.

Pada 1868, pihak konservatif berulang kali melarang pembacaan di pabrik. Polisi berpatroli untuk menghentikan kegiatan tersebut. Mereka bahkan memecat lector secara sepihak sehingga memicu protes dan pemogokan yang mengancam produksi. Tekanan itu membuat sejumlah pemilik pabrik kembali mengizinkan pembacaan.

Tradisi lector kemudian menyebar mengikuti perpindahan pekerja tembakau. Sebagian meninggalkan Kuba akibat perang, sementara yang lain mencari penghidupan di Amerika Serikat.

Pusat industri cerutu pun tumbuh di Key West dan Ybor City, Tampa, Florida. Pada akhir abad ke-19, pengusaha seperti Vicente Martínez Ybor memindahkan kegiatan produksinya ke Florida. Di sana, pembacaan nyaring tetap menjadi bagian dari kehidupan pekerja.

Gary R. Mormino, dalam jurnal International Labor and Working-Class History (1998), mengutip kesaksian José Vega Díaz, pekerja cerutu imigran di Ybor City. Díaz mengenang minat rekan-rekannya terhadap pengetahuan. Meski sebagian tidak bisa membaca, mereka meminta lector membacakan tulisan politik. Ia menggambarkan lector sebagai guru yang "menerangi".

Namun di Amerika Serikat, tradisi itu menghadapi tekanan ekonomi dan konflik politik. Para pengusaha menjadikan lector sebagai sasaran karena menganggap bacaan mereka menyebarkan propaganda dan menghasut pekerja.

Pada November 1931, para pemilik pabrik melaranglector memasuki ruang produksi dan memerintahkan pembongkaran mimbar baca.

Pada 28 November, sekitar 7.000 pekerja di Ybor City menghentikan produksi demi memperjuangkan haknya mendengarkan bacaan. Pemogokan berlangsung selama berminggu-minggu. Namun, tekanan ekonomi, penangkapan, dan bentrokan, memaksa mereka kembali bekerja pada Desember.

Mimbar lector pun tidak lagi digunakan. Pengusaha kemudian memasang radio yang dikendalikan manajemen.

Pelarangan itu mengakhiri praktik lector di pabrik-pabrik Tampa, Florida. Namun di Kuba, tradisi ini masih bertahan.

Membaca Bersama di Hindia Belanda

Praktik membaca bersama juga berkembang dalam pers pergerakan di Hindia Belanda. Dalam kajiannya tentang surat kabar revolusioner Sinar Hindia, Rianne Subijanto (2017) mencatat bahwa pembacaan publik sudah dikenal sebelum gerakan komunis awal berkembang.

Pada 1920-an, praktik itu menjadi bagian dari rapat politik dan organisasi buruh. Peserta rapat terkadang diminta membawa surat kabar untuk dibaca dan dibahas bersama. Berita dibacakan, artikel opini diperdebatkan, dan rapat digunakan untuk mengorganisasi pemogokan, penggalangan dana, serta aksi protes.

Menurut sejarawan Takashi Shiraishi dalam An Age in Motion: Popular Radicalism in Java, 1912–1926 (1990), pertemuan umum atau vergadering menjadi ruang bagi pemimpin pergerakan untuk menyampaikan gagasan kepada buruh, petani, dan masyarakat luas.

Hubungan antara tulisan dan suara tampak dalam karya Haji Misbach. Shiraishi mencatat bahwa tulisan Misbach di Medan Moeslimin kehilangan banyak kekuatannya jika diterjemahkan begitu saja (hlm. 135). Misbach menulis seperti sedang bertablig. Gagasannya, menurut Shiraishi, lebih terasa ketika dibacakan dan didengar.

Maka itu, untuk bisa menjaga "rasa", nuansa, dan konteks cerita, tulisan dapat disusun menyerupai percakapan lisan. Shiraishi mencontohkan surat terbuka R. M. Soewardi Soerjaningrat—kelak dikenal sebagai Ki Hadjar Dewantara—kepada Marco Kartodikromo. Dalam komentarnya atas surat itu, Marco seolah-olah membacakan tulisan Soewardi dengan lantang, menyela dengan pendapat spontan, lalu berbicara langsung kepada pembaca. Menurut Shiraishi, teknik itu membuat pembaca seolah menyaksikan Marco membacakan surat di hadapan khalayak (hlm. 87).

 ilustrasi membaca buku

ilustrasi membaca buku. foto/istockphoto

Kebiasaan membaca dalam kelompok juga tumbuh melalui perkumpulan sosial. Ahmat B. Adam (1984) mencatat, sejumlah klub priyayi memiliki perpustakaan sederhana pada akhir abad ke-19. Klub baca atau leesgezelschap menjadi tempat para anggota membiasakan diri membaca dan mengikuti berita pers. Di Mojo Agung, misalnya, terdapat Reading Club Tjipto Moeljo yang memiliki perpustakaan.

Adam juga mencatat praktik berbagi surat kabar. Koran seperti Tjahaja Siang dapat berpindah tangan, dibacakan, atau diceritakan kepada orang lain oleh mereka yang bisa membaca. Jumlah pelanggan yang terbatas membuat sebagian orang meminjam koran dari teman.

Di gerakan buruh, tradisi sama juga berkembang, sama halnya dengan yang terjadi di Kuba. Shiraishi mencontohkan salah satu kasus ketika hak berkumpul ditekan di wilayah Surakarta. Lantas, pemimpin Sarekat Hindia (SH), Sarekat Islam (SI), dan Personeel Fabrieks Bond (PFB), berusaha mengadakan pertemuan dengan kedok slametan dan pengajian (hlm. 208–209). Inisiatif "pengajian" itu dilakukan, meski akhirnya polisi tetap membubarkan pertemuan yang dianggap melanggar larangan berkumpul.

Pada 1924–1925, gerakan Moe’alimin di Surakarta juga memperlihatkan hubungan antara pembacaan teks dan penyampaian gagasan politik. Para propagandis mengadakan pertemuan tablig, membacakan ayat Al-Qur'an dan hadis dalam bahasa Arab, menerjemahkannya ke bahasa Jawa, lalu menjelaskan maknanya dalam konteks Hindia Belanda. Mereka juga menggunakan gagasan komunisme untuk menafsirkan persoalan masyarakat (hlm. 320–321).

Praktik berbagi bacaan juga ditemukan setelah kemerdekaan Indonesia. Harian Rakjat edisi 18 Oktober 1955, halaman II, memuat surat Herry S., pegawai PTT Jakarta, berjudul “Pindjamkan HR kita kepada orang2 jang tidak langganan”. Redaksi memuat surat tersebut setelah dua pembaca lain, Sutojo dan Achmadi, menceritakan cara mereka menyebarkan koran.

Herry membaca koran di kantor, lalu membawanya ke kantin dan menitipkannya kepada penunggu kantin agar bisa dibaca siapa pun. Setelah itu, koran dibawanya ke warung kopi di belakang kantor. Kadang-kadang, seseorang membacakan berita atau cerita dengan suara keras. Herry juga melakukannya. Di rumah, ia membaca bagian yang belum sempat dibaca, lalu meminjamkan koran kepada tetangga.

Baca juga artikel terkait MEMBACA BUKU atau tulisan lainnya dari Ali Zaenal

tirto.id - Mozaik
Kontributor: Ali Zaenal
Penulis: Ali Zaenal
Editor: Fadli Nasrudin