tirto.id - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terpantau melemah hingga menyentuh level Rp18.021 di tengah dinamika pasar keuangan global dan ancaman MSCI untuk menurunkan status pasar saham Indonesia ke standalone market.
Menanggapi perkembangan tersebut, Bank Indonesia (BI) menekankan komitmennya untuk terus mengawal stabilitas nilai tukar agar tetap sejalan dengan fundamentalnya.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia, Erwin Gunawan Hutapea, menjelaskan bahwa tekanan terhadap pasar keuangan domestik ini tidak terlepas dari sentimen risk-off global yang sedang meningkat.
Kondisi tersebut turut memicu penguatan dolar AS secara global serta mendorong berlanjutnya arus keluar dana asing (capital outflow) dari aset portofolio di dalam negeri.
“Di tengah meningkatnya sentimen risk-off global yang mendorong penguatan USD dan menekan pasar keuangan domestik, arus keluar dana dari aset portofolio domestik diperkirakan masih berlanjut,” katanya dalam keterangan resmi, Jumat (16/10/2026).
Kendati demikian, Erwin menilai pergerakan rupiah secara umum masih berada dalam tren yang sejalan dengan mata uang negara-negara di kawasan. Tercatat, pelemahan rupiah secara quarter-to-date (QTD) masih berada di kisaran terbatas sebesar 0,28 persen. Selain itu, ketahanan sektor eksternal juga didukung oleh posisi cadangan devisa Indonesia yang tetap kuat, yakni sebesar 146,3 miliar dolar AS hingga akhir September 2026.
Sebagai langkah mitigasi, Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar guna memastikan mekanisme penawaran dan permintaan berjalan dengan baik.
“Bank Indonesia berkomitmen untuk terus hadir di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah sesuai fundamentalnya dan memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik,” kayanya.
Intervensi kebijakan dilakukan melalui berbagai instrumen, mulai dari transaksi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik, hingga pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Tidak hanya fokus pada stabilitas nilai tukar, BI juga mengoptimalkan pengelolaan likuiditas serta struktur suku bunga di pasar uang. Langkah-langkah antisipatif ini diperkuat melalui koordinasi serta komunikasi intensif yang terjalin dengan kalangan korporasi, pelaku pasar, dan berbagai pemangku kepentingan terkait lainnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































