tirto.id - Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia (Kemlu RI) menyampaikan bahwa Indonesia bersama negara-negara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) telah mengesahkan Deklarasi Baghdad yang menetapkan tanggal 17 Oktober sebagai hari peringatan genosida Gaza.
Keputusan tersebut disepakati dalam Konferensi Tingkat Menteri (KTM) OKI ke-52 di Baghdad, Irak.
"Hasil dari KTM ini antara lain adalah Baghdad Declaration yang menetapkan 17 Oktober sebagai hari peringatan genosida Gaza, dan juga terdapat berbagai resolusi tentang Palestina, tentang konflik-konflik kawasan, isu sosial politik, dan isu kemanusiaan, dan budaya, dan ilmu pengetahuan," ujar Juru Bicara Kemlu, Vahd Nabyl Mulachela, dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (22/10/2026).
Pertemuan tingkat menteri yang berlangsung pada 17–18 Oktober tersebut dihadiri oleh 53 negara anggota, dengan 23 delegasi setingkat menteri.
Antara lain dari Turki, Irak, Iran, Libya, Mesir, Palestina, Somalia, dan Yaman. Delegasi Indonesia dipimpin langsung oleh Wakil Menteri Luar Negeri RI, Anis Matta.
Garis Depan Diplomasi Indonesia untuk Kemerdekaan Palestina
Nabyl menjelaskan bahwa dalam forum yang mengusung tema "Dialogue and Solidarity: Two Fundamental Pillars for Promoting Peace and Sustainable Development" tersebut, Indonesia menempatkan isu kemanusiaan dan kemerdekaan Palestina sebagai garis depan perjuangan diplomasi.
"Dalam hal ini Indonesia juga menegaskan Palestina sebagai prioritas utama dengan penekanan pada preventive diplomacy dan perlunya solidaritas politik dalam bentuk yang konkret dan program-program yang nyata," jelas Nabyl.
Selain isu Palestina, Indonesia turut mengusulkan pembenahan tata kelola organisasi OKI agar memiliki mekanisme resolusi konflik yang lebih responsif dan berdaya guna di tingkat global.
"Bapak Wakil Menlu Anis Matta dalam pertemuan tersebut mendorong reformasi menyeluruh dan penguatan mekanisme penyelesaian konflik di dalam internal di lembaga OKI agar lebih efektif, dan Indonesia sebagai oasis perdamaian," lanjutnya.
Di sela-sela menghadiri sidang utama, Wamenlu RI juga memanfaatkan forum multilateral tersebut untuk menggelar serangkaian pembicaraan bilateral.
Bilateral di antaranya digelar dengan Menlu Gambia, Menlu Yaman, Wamenlu Irak, Wamenlu Oman, Wakil Menteri Perminyakan Irak, serta Sekretaris Jenderal D-8 untuk memperkuat kerja sama ekonomi, perdagangan, energi, dan investasi.
Penulis: Mochammad Fajar Nur
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id


































