tirto.id - Insiden tanah longsor memutus akses jalan di Desa Karang Tengah, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Menurut keterangan warga, longsor terjadi pada 5 November 2024 dan hingga kini akses jalan ambles tersebut belum diperbaiki.
Warga menuturkan longsor terjadi saat pengembang perumahan membangun tandon resapan air di dekat jalan desa yang berbatasan dengan aliran Sungai Cimanceuri dan kawasan Perumahan Villa Rizki Insani.
Terputusnya akses jalan sejak dua tahun lalu itu berdampak terhadap aktivitas dan kondisi lingkungan Perumahan Vila Rizki Insaani yang berada di kawasan tersebut. Pasalnya, arus kendaraan yang sebelumnya melintasi jalan penghubung antardesa kini dialihkan melalui jalan di dalam perumahan yang semula diperuntukkan bagi para penghuni.
Salah seorang warga, Anton Suryantoro (42), mengatakan meningkatnya aktivitas kendaraan di dalam kawasan perumahan turut menimbulkan keresahan penghuni. Terlebih, dalam kurun waktu satu tahun terakhir, sejumlah warga dilaporkan kehilangan barang.
"Beberapa kejadian sudah terjadi, ada kehilangan sepeda, motor, helm, dan beberapa barang sepatu juga burung peliharaan. Itu yang menjadi keresahan di warga," kata Anton bercerita, Rabu (28/10/2026) lalu.
Selain persoalan keamanan, meningkatnya lalu lintas kendaraan di dalam klaster juga dikhawatirkan membahayakan keselamatan anak-anak yang beraktivitas di lingkungan perumahan. Anton menyebut seorang anak bahkan pernah terserempet kendaraan saat berada di kawasan tersebut.
Kondisi itu membuat warga semakin khawatir, terutama ketika anak-anak harus beraktivitas di luar rumah, termasuk saat berangkat mengaji ke musala.
"Iya, karena ada lalu-lalang kendaraan ini, anak-anak juga ada yang sudah terserempet. Terus ketika anak-anak di belakang ini mau pergi mengaji ke musala, mereka juga harus berhati-hati karena banyak kendaraan bermotor yang melintas," jelasnya.
Dugaan Longsor akibat Proyek Tandon Pengembang
Dugaan keterkaitan pembangunan tandon dengan peristiwa longsor yang disampaikan warga turut disinggung Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kabupaten Tangerang, Rijal Muhammad Fikri.
Rijal mengatakan berdasarkan hasil kajian teknis, terdapat dua faktor yang berkaitan dengan longsor tersebut, yakni kondisi tanah yang tidak stabil dan pembangunan tandon yang dinilai tidak tepat.
"Tanahnya enggak stabil. Dia buat tandon sembarangan," kata Rijal, Jumat (30/10/2026).
Dia menjelaskan longsor yang terjadi pada 5 November 2024 itu sempat menjadi persoalan kewenangan penanganan antara pemerintah daerah dan pemerintah pusat melalui Balai Wilayah Sungai (BWS).
Menurut Rijal, pemerintah daerah awalnya mendorong pihak balai untuk melakukan rehabilitasi terhadap area yang mengalami longsor. Namun, penanganan belum dapat segera dilakukan sehingga pemerintah daerah kemudian menyiapkan langkah penanganan melalui koordinasi dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA).
Setelah melalui proses koordinasi, penanganan akhirnya diputuskan akan dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Tangerang dengan persyaratan adanya rekomendasi teknis dari Ditjen SDA.
"Melalui proses diskusi dan koordinasi dengan Ditjen SDA, akhirnya pada satu kesimpulan, pemerintah daerah akan mengerjakan. Tapi dengan syarat ada rekomendasi teknis," jelasnya.
Adapun terkait keberadaan tandon yang sebelumnya dibangun di sekitar lokasi longsor, Rijal menyebut fasilitas tersebut tidak lagi akan difungsikan sebagai tandon. Area tersebut rencananya akan ditata menjadi taman.
Warga Vila Rizki Insaani Gelar Aksi Protes
Di tengah persoalan akses jalan dan keamanan lingkungan, penghuni Perumahan Vila Rizki Insaani menggelar aksi protes di depan kantor pemasaran pengembang perumahan tersebut, pada Jumat, 30 Oktober 2026 siang.
Aksi yang diikuti puluhan warga berpakaian serba hitam itu menuntut pengembang segera menindaklanjuti keluhan penghuni, terutama terkait keamanan dan kenyamanan lingkungan setelah jalan desa terputus akibat longsor. Warga juga menyoroti lokasi longsor yang dinilai belum mendapatkan pengamanan memadai.
Salah seorang warga, Arini, mengatakan persoalan keamanan membuat penghuni terus diliputi keresahan, meskipun mereka tetap harus memenuhi kewajiban membayar cicilan rumah.
"Ibu-ibu di sini merasa resah. Setiap hari selain memikirkan cicilan, kami juga diresahkan dengan keamanan. Sampai rumah kemalingan, kami sampai malam-malam begadang. Tiap malam gantian untuk saling menjaga komplek," ujar Arini dalam orasinya.
Selain menuntut pembenahan sistem keamanan, warga juga meminta pengembang memberikan kepastian mengenai penyelesaian fasilitas umum (fasum) yang disebut belum dimanfaatkan sebagaimana mestinya selama kurang lebih tiga tahun.
Arini menyebut lahan yang seharusnya menjadi fasilitas umum justru dibiarkan dipenuhi timbunan tanah dan sampah.
"Kita meminta fasilitas umum kita. Sudah tiga tahun, hanya menjadi gunungan tanah, tumpukan sampah, dan sarang ular," ungkapnya.
Dalam aksi tersebut, warga lainnya juga menyampaikan kekhawatiran terhadap keselamatan anak-anak dan kondisi bangunan di sekitar lokasi longsor. Mereka mempertanyakan jaminan keamanan penghuni apabila kondisi tersebut tidak segera ditangani.
"Setiap hari saya merasa khawatir, apakah anak anak saya bisa bermain dengan damai di sini. Cicilan saya tetap jalan. Kalau saya tinggali terus rumah saya roboh, mau kompensasi apa ke saya?," ujarnya dalam orasi.
Mereka mengaku telah berulang kali menerima janji penyelesaian, tetapi hingga kini belum melihat langkah konkret dari pengembang.
"Kami sudah bosan dininabobokan dengan janji janji kalian. Dua tahun. Saya kerja, istri saya kerja, anak saya ga aman di rumah," pungkasnya.
Paguyuban Khawatir Terjadi Konflik Antarwarga
Ketua Paguyuban Vila Rizki Insaani, Zulfani Ahmad, menegaskan persoalan terputusnya akses jalan tidak seharusnya membuat penghuni perumahan dan masyarakat desa sekitar saling berhadapan.
Menurutnya, persoalan tersebut perlu diselesaikan oleh pihak-pihak yang memiliki kewenangan dan tanggung jawab, bukan justru memicu konflik horizontal antara warga.
"Jangan hadapkan warga dengan warga. Jangan sampai warga Insani dijadikan kambing hitam atas persoalan yang terjadi," ujar Zulfani.
Sementara itu, Direktur Utama PT Rizki Asfi Ilhami selaku pengembang Perumahan Vila Rizki Insaani, Keisar Rachmat Magfirat, belum memberikan keterangan terkait tuntutan warga tersebut.
Saat dimintai tanggapan oleh wartawan di lokasi aksi, Keisar memilih meninggalkan area dan masuk ke kantornya tanpa memberikan pernyataan. Saat menghubungi kuasa hukum pengembang, Fendy, untuk meminta tanggapan mengenai keluhan dan tuntutan warga, belum ada pernyataan yang disampaikan hinga berita ini ditayangkan.
Penulis: Tangsel_Update
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id

































