tirto.id - Nathalia Filgueiras, kopilot pesawat pribadi Learjet 60 yang jatuh di kawasan permukiman Palm Beach County, Florida, Amerika Serikat, pada Minggu (1/11/2026) menjadi salah satu dari sembilan korban tewas dalam kecelakaan tersebut. Perempuan berusia 20 tahun itu memiliki cita-cita menjadi pilot sejak kecil, menurut keterangan keluarganya.
Nathalia berupaya mewujudkan cita-citanya menjadi pilot. Ia memperoleh lisensi pilot privat pada 2023 ketika masih berusia 17 tahun, sebelum memiliki surat izin mengemudi mobil.
Filgueiras tumbuh dalam keluarga asal Brasil di Boca Raton, Florida. Ketertarikannya pada dunia penerbangan terinspirasi oleh sang ayah, Allan Filgueiras, yang juga berprofesi sebagai pilot.
Hingga sebelum kecelakaan, Nathalia telah mengumpulkan lebih dari 1.300 jam terbang dan bertugas sebagai first officer atau kopilot di Learjet 60 yang sedang dalam perjalanan dari Texas menuju Bahama.
Profil dan Perjalanan Nathalia Filgueiras Menjadi Pilot
Nathalia Gadelha Filgueiras tumbuh dengan mengenal dunia penerbangan melalui ayahnya, Allan Filgueiras, yang merupakan seorang pilot. Sang ayah menjadi sosok penting dalam perjalanan Nathalia mengejar cita-citanya.
Allan memperkenalkan dan mengajarinya menerbangkan pesawat sejak masih muda. Pengalaman tersebut kemudian menumbuhkan ketertarikan yang semakin besar terhadap dunia aviasi.
Kakak Nathalia, Giulia Filgueiras, mengatakan bahwa adiknya sudah bermimpi menjadi pilot sejak berusia sekitar 12 tahun. Keinginan itu terus dipertahankannya hingga masa remaja.
“Terbang adalah hasrat terbesarnya. Itulah impiannya, menjadi pilot, sejak dia masih sangat muda,” kata Giulia Filgueiras kepada NBC News, Selasa (3/10/2026).
Mengutip Miami Herald Senin (2/11/2026), Nathalia menempuh pendidikan di West Boca Raton Community High School, Florida. Ketika masih duduk di bangku kelas akhir sekolah menengah atas atau senior, ia mengikuti program pendidikan penerbangan melalui Aviation and Aerospace Academy di sekolah tersebut.
Program itu menjadi salah satu jalan bagi Nathalia untuk mengembangkan kemampuan menerbangkan pesawat. Palm Beach County School District bahkan membiayai proses perolehan lisensi pilot pribadinya melalui akademi penerbangan tersebut.
Pada 2023, ketika berusia 17 tahun, Nathalia berhasil memperoleh lisensi pilot pribadi. Lisensi tersebut memberinya kewenangan menerbangkan pesawat sesuai batasan lisensi pilot privat yang dimiliki. Kemampuan tersebut bahkan sudah ia raih sebelum memperoleh surat izin mengemudi mobil.
Setelah menyelesaikan pendidikan di akademi penerbangan sekolahnya, Nathalia melanjutkan pelatihan terbang di American Flyers, sebuah sekolah penerbangan di Pompano Beach, Florida.
Punya Lebih dari 1.300 Jam Terbang
Kecintaan Nathalia terhadap dunia penerbangan tidak berhenti setelah memperoleh lisensi pilot pribadi. Ia terus menjalani pelatihan dan mengembangkan pengalaman terbang hingga akhirnya bekerja sebagai pilot profesional.Sebelum kecelakaan pada 1 November 2026, Nathalia telah mencatatkan lebih dari 1.300 jam terbang. Ia bertugas sebagai first officer, yakni pilot kedua yang duduk di kursi sebelah kanan kokpit dan membantu kapten dalam mengoperasikan pesawat, melakukan navigasi, serta menjalankan prosedur penerbangan.
Dalam penerbangan terakhirnya, Nathalia bertugas sebagai kopilot Learjet 60 yang dioperasikan perusahaan penerbangan carter pribadi Upper Jets, yang berbasis di Fort Lauderdale, Florida.
Menjadi Kopilot Learjet 60 sebelum Kecelakaan
Pada Minggu, 1 November 2026, Nathalia berada di dalam Learjet 60 yang melakukan penerbangan dari Austin, Texas, menuju Bahama.Pesawat lepas landas dari Austin-Bergstrom International Airport sekitar pukul 09.37 waktu setempat (Central Time) atau 10.37 waktu Eastern, sebelum menuju North Eleuthera Airport di Bahama.
Berdasarkan keterangan Dewan Keselamatan Transportasi Nasional Amerika Serikat (NTSB), sekitar pukul 12.47 ET, awak pesawat melaporkan mengalami turbulensi sedang setelah menghadapi kondisi clear ice pada ketinggian sekitar 35.000 kaki.
Awak pesawat kemudian meminta izin untuk naik ke ketinggian 37.000 kaki dan permintaan tersebut disetujui. Namun, sekitar 30 detik setelah permintaan itu, pesawat mulai mengalami penurunan ketinggian dengan cepat sebelum akhirnya jatuh di kawasan permukiman dekat Greenacres, Palm Beach County.
Pesawat menghantam tanah hingga meninggalkan kawah di sekitar Military Road dan membuat puing-puingnya tersebar di area tersebut.
Dalam rekaman komunikasi dengan pengatur lalu lintas udara, terdengar peringatan darurat atau mayday yang disampaikan dari kokpit. Salah satu suara dalam rekaman itu melaporkan bahwa pesawat mengalami penurunan hingga 10.000 kaki per menit dan memperingatkan bahwa pesawat akan menghantam tanah.
Seluruh sembilan orang yang berada di dalam pesawat, termasuk Nathalia, meninggal dunia. Selain awak pesawat, korban lainnya terdiri atas Adam Robinson, Helen Sharp, dua anak mereka yang masih berusia 4 dan 2 tahun, Rachael Reed, Charmi Fehr, serta Anita Maria Cetina.
Presenter Ryan Samuels memuji Nathalia masih dapat berkomunikasi dengan ATC dalam suara yang jelas padahal kondisi sedang tidak baik-baik saja.
“Sebagai mantan anggota Marinir dan petugas kepolisian, saya pernah melihat orang membeku atau kehilangan kendali saat berada di bawah tekanan. Saya mendengarkan Nathalia Gadelha, yang saat itu berusia 20 tahun, di dalam pesawat Learjet N722BD saat pesawat tersebut menukik dengan kecepatan lebih dari 20.000 kaki per menit dalam kondisi *overspeed* (kecepatan berlebih),” tulisnya di X.
“Ia terus menyampaikan informasi penting dengan jelas, meskipun ia pasti sadar bahwa ajalnya sudah dekat. Kopilot muda itu tetap berkomunikasi melalui radio hingga saat-saat terakhir. Kebanyakan orang yang usianya dua kali lipat darinya mungkin tidak akan mampu melakukan hal yang sama,” urainya.
Administrator NASA Jared Isaacman turut menanggapi kritik terhadap Nathalia. Ia mengingatkan publik bahwa Nathalia merupakan kopilot yang bertugas membantu kapten dan tetap berkomunikasi dengan pengatur lalu lintas udara menjelang kecelakaan.
Isaacman menilai Nathalia sedang menjalankan tugasnya dalam situasi yang sangat menegangkan.
“Sebagai pilot pendamping (Second-in-Command/SIC), ia memang memiliki wewenang untuk menunjukkan kesalahan—sebagai bagian dari manajemen sumber daya kru (Crew Resource Management) yang baik—dan ia telah menjalankan tugasnya dengan berkomunikasi bersama ATC (pengatur lalu lintas udara) hingga saat-saat terakhir dalam situasi yang sangat mengerikan. Kemungkinan besar, jauh sebelum pesan-pesan terakhir itu disampaikan, ia sudah menyadari bahwa ajalnya telah tiba,” tulisnya di X.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id

































