tirto.id - Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Drajad Wibowo, menyoroti masih lebarnya kesenjangan antara potensi dan realisasi pengumpulan dana sosial syariah di Indonesia.
Meskipun potensi zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswaf) nasional menembus Rp343 triliun per tahun, realisasi pengumpulannya saat ini baru mencapai Rp41 triliun atau sekitar 12 persen.
Hal tersebut diungkapkan Drajad dalam pemaparannya mengenai arah strategi pengembangan ekonomi dan keuangan syariah.
Menurutnya, kesenjangan yang sangat besar ini menjadi pekerjaan rumah bersama yang harus segera diatasi agar instrumen dana sosial syariah dapat dioptimalkan untuk kesejahteraan masyarakat.
"Potensi ziswaf mencapai Rp343 triliun per tahun, tetapi realisasinya baru Rp41 triliun, hanya 12 persen. Ini adalah gap yang sangat besar yang perlu kita atasi," ujar Drajad dalam sambutannya pada acara ISEF 2026 di JCC Senayan, Jakarta, Rabu (14/10/2026).
Dia mengatakan, pemerintah akan terus mendorong penguatan dana sosial syariah sebagai salah satu pilar utama dari lima arah strategi pengembangan ekonomi syariah nasional.
Ke depan, pemerintah berencana mengintegrasikan Indeks Zakat Nasional dengan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) agar penyalurannya lebih tepat sasaran, serta memperkuat kapasitas nazir dan tata kelola wakaf produktif.
Sorotan terhadap dana sosial syariah ini muncul di tengah capaian positif sektor keuangan. Berdasarkan data pemerintah, aset keuangan syariah nasional kini telah menembus Rp3.131 triliun, rekor tertinggi sepanjang sejarah, dengan pangsa pasar mencapai 11,36 persen dari total keuangan nasional.
Selain itu, Indonesia juga berada di peringkat ketiga dunia dalam penerbitan sukuk berdasarkan nilai aset. Kendati demikian, Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengingatkan agar Indonesia tidak cepat berpuas diri.
Indonesia menduduki peringkat keempat dunia dalam ekonomi syariah berdasarkan laporan State of the Global Islamic Economy 2025/2026. Sementara itu, sektor modest fashion Indonesia bahkan menduduki peringkat pertama dunia.
Destry mengingatkan agar Indonesia tetap waspada terhadap dinamika persaingan global dan regional. Ia menyoroti langkah negara-negara tetangga di kawasan ASEAN yang kini mulai menunjukkan perhatian dan bergerak agresif dalam mengembangkan ekonomi dan keuangan syariah.
"Sebagai contoh di ASEAN saja, sekarang ada dua negara yang mereka mempunyai perhatian sangat penuh terhadap perkembangan ekonomi keuangan syariah. Jadi setelah Malaysia, sekarang kita akan melihat Filipina dan Thailand," ungkap Destry.
Menurut Destry, agresivitas negara tetangga tersebut harus menjadi cambuk bagi Indonesia yang telah memiliki fondasi kuat untuk terus mendorong inovasi, memperkuat sinergi lintas lembaga, serta memperluas ekosistem halal dan pembiayaan berkelanjutan demi mempertahankan daya saing di tingkat internasional.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































