tirto.id - Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan telah memerintahkan pasukan militer untuk menutup total (lockdown) akses Tepi Barat yang diduduki mulai Jumat (23/10/2026). Hal ini disebutnya merupakan respons atas insiden penembakan yang terjadi di Kota Hebron.
Dinukil dari BBC, perintah untuk menutup akses Tepi Barat itu dilakukan setelah insiden penembakan di Kota Hebron menewaskan dua tentara Israel dan melukai tiga warga Israel. Para politisi sayap kanan Israel menuduh warga Palestina sebagai pelaku penembakan tersebut.
Insiden penembakan itu sendiri terjadi di salah satu pos pemeriksaan militer di pintu masuk Kota Hebron. Penembak disebut turun dari kendaraan yang ia gunakan dan melakukan aksi penembakan.
Terjadi baku tembak antara pelaku serangan dan tentara Israel dalam insiden itu. Namun, pelaku kemudian terbunuh oleh tembakan tentara Israel.
Serangan ini terjadi menjelang pemilu parlemen Israel yang jadi pertaruhan bagi Benjamin Netanyahu untuk mencalonkan diri kembali sebagai perdana menteri negara Zionis itu. Imbas serangan ini, koalisi sayap kanan Netanyahu menjadikan insiden itu untuk mengampanyekan janji keamanan sembari memperluas operasi militer di Tepi Barat.
Menteri Keuangan Israel dan sekutu kanan jauh Netanyahu, Bezalel Smotrich, menyerukan agar Israel meluncurkan kampanye militer di Tepi Barat imbas insiden penembakan tersebut. Dalam keterangannya, ia mendorong Israel untuk menjadikan Tepi Barat “persis seperti Gaza dan Lebanon”.
Sementara itu, Menteri Keamanan Nasional Israel yang juga sekutu kanan jauh Netanyahu, Itamar Ben Gvir, menjadikan momentum ini untuk menyerukan pembubaran Otoritas Palestina.
Israel Katz, Menteri Luar Negeri Israel, juga menggunakan insiden ini untuk menyerang para pemimpin oposisi di Israel. Ia menyebut bahwa oposisi bertanggung jawab atas dampak insiden karena mengkritik peringatan Netanyahu tentang serangan jelang pemilu.
Netanyahu, di sisi lain, mengumumkan penutupan akses total Tepi Barat mulai Jumat. Ia juga mengatakan bahwa Israel siap untuk “aksi ekstensif” di Tepi Barat ketika mengunjungi lokasi serangan pada Jumat.
Mengutip NBC, penembakan yang terjadi di pos pemeriksaan Kota Hebron itu terjadi setelah terjadi peningkatan kasus penyerangan oleh pemukim Israel di Tepi Barat yang diduduki baru-baru ini. Peningkatan kasus ini terjadi ketika musim panen zaitun di Palestina berlangsung. Warga Palestina, aktivits, dan jurnalis Amerika Serikat (AS) termasuk di antara mereka yang diserang para pemukim.
Selama bertahun-tahun, musim panen zaitun Palestina menjadi momen peningkatan kasus penyerangan pemukim Israel ke warga Palestina. Hasil panen zaitun warga Palestina dilaporkan dicuri ketika pemukim Israel datang untuk menyerang mereka.
PBB mencatat, setidaknya sudah ada 160 serangan pemukim Israel yang terkait dengan musim panen zaitun dalam dua pekan pertama Oktober ini. PBB melaporkan banyak di antara serangan itu dilakukan “di bawah perlindungan, atau dengan partisipasi, pasukan Israel”.
Tepi Barat yang diduduki juga merupakan wilayah yang terus menerus mengalami lonjakan kasus kekerasan oleh para pemukim Israel. Tak jarang, warga Palestina terbunuh dalam serangan para pemukim tersebut.
Sejak 2023, lebih dari 1.100 warga Palestina telah terbunuh di Tepi Barat akibat serangan para pemukim Israel. PBB mencatat 96 warga Palestina telah terbunuh di Tepi Barat akibat serangan pemukim sepanjang tahun ini saja. Dalam banyak kasus serangan itu, pasukan keamanan Israel dilaporkan justru melindungi para pemukim.
Akan tetapi, kendati jumlah kasus kekerasan meningkat tajam dalam tiga tahun terakhir, proses hukum terhadap para pemukim pelaku penyerangan tidak dilakukan. Pemberian vonis terhadap mereka sangat jarang terjadi, memicu dugaan aparat penegak hukum Israel telah pemberian impunitas pada para pemukim pelaku serangan.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































