Menuju konten utama

Oposisi Israel Sepakat Gulingkan Netanyahu & Dukung Eisenkot

Kubu oposisi di Israel sepakat untuk mendukung Eisenkot sebagai PM Israel yang baru. Mereka juga ingin mengakhiri pemerintahan Netanyahu secepatnya.

Oposisi Israel Sepakat Gulingkan Netanyahu & Dukung Eisenkot
Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu. (Sumber: Twitter/@netanyahu)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Jelang dimulainya proses pemilihan kandidat perdana menteri (PM), para pemimpin partai oposisi di Israel dilaporkan berkumpul untuk menegaskan kesepakatan mereka mendukung Gadi Eisenkot dan menggulingkan Benjamin Netanyahu. Mereka berjanji untuk menggantikan pemerintahan PM terlama dalam sejarah Israel itu secepat mungkin.

Seturut Al Jazeera, pertemuan itu dihelat para pemimpin partai Yahudi-oposisi pada Selasa (3/11/2026) di Herzliya, sebelah utara Tel Aviv. Pertemuan pertama ini dihelat blok politik itu sejak pemilu pada 27 Oktober lalu dan sehari sebelum Presiden Israel Isaac Herzog memulai proses pembentukan pemerintahan yang baru.

Laporan The Jerusalem Post menyebut bahwa pertemuan itu dihadiri sejumlah tokoh politik. Di dalamnya termasuk calon kandidat PM Gadi Eisenkot, eks PM Naftali Bennett, pemimpin partai Yisrael Beytenu Avigdor Liberman, Yair Golan dari partai Demokrat, serta Yair Lapid dari partai Yesh Atid.

Para politikus itu juga dilaporkan turut serta dalam deklarasi dukungan kepada Eisenkot. Mereka menyatakan bahwa “para pemimpin partai telah berkoordinasi dan akan segera bertindak” untuk mengganti Netanyahu “dengan pemerintahan darurat nasional”.

Dalam keterangan bersama tersebut, mereka turut menyatakan kesepakatan mereka terhadap empat syarat Eisenkot untuk membentuk pemerintahan. Syarat itu termasuk ketentuan bahwa semua partai dalam pemerintahan harus mengakui Israel sebagai negara Yahudi dan bersedia melabeli Hamas sebagai kelompok “teroris”.

Keterangan itu tampak dikeluarkan sebagai sikap blok politik terhadap potensi kebuntuan pasca-pemilu. Sebelumnya, pemilu parlemen Israel telah berakhir dengan kegagalan semua blok mencapai dominasi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan secara mulus.

Berdasarkan aturan, setiap blok diharuskan mendapatkan sedikitnya 61 dari total 120 kursi Knesset untuk bisa membentuk pemerintahan dengan lancar. Namun, tak ada satu pun blok politik yang berhasil mencapainya.

Blok kanan ekstrem dan ultra ortodoks pimpinan Netanyahu keluar sebagai pemenang dengan total 53 kursi. Blok sentris-kanan yang jadi oposisi mengekor dengan 48 kursi. Sementara 19 kursi sisanya dimenangkan oleh koalisi partai Arab.

Dengan hasil tersebut, baik kubu Netanyahu selaku petahana maupun Eisenkot sebagai oposisi diproyeksikan akan menghadapi kebuntuan dalam upaya membentuk pemerintahan yang baru.

Akan tetapi, kebuntuan itu sejatinya dapat dicegah jika kubu Eisenkot bersedia bekerja sama dengan koalisi partai Arab yang meraih 19 kursi di parlemen. Koalisi partai Arab juga menghendaki berakhirnya kekuasaan Netanyahu dan kerja sama antara mereka dengan kubu Eisenkot dapat menghasilkan dominasi yang dibutuhkan untuk membentuk pemerintahan.

Hanya saja, partai yang dipimpin oleh orang-orang Arab di Israel telah lama dipinggirkan dalam politik wilayah ini. Mereka dianggap sebagai corong politik orang-orang Palestina yang berhasil tetap berada di dalam perbatasan Israel yang baru terbentuk pada 1948.

Pasca-serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 lalu, keterkaitan partai-partai itu dengan asal usul Palestina mereka telah membuat upaya peminggiran semakin kuat.

Dalam pemilu parlemen kali ini, Netanyahu bahkan telah menyebut partai Arab sebagai “pendukung terorisme dan menyangkal keberadaan negara Yahudi”. Blok politik Netanyahu juga secara terbuka menyatakan keengganan mereka bekerja sama dengan partai-partai Arab.

Sementara itu, posisi serupa juga selama ini masih mendominasi sikap politik kubu Eisenkot. Kendati memiliki tujuan yang sama untuk mengakhiri kekuasaan Netanyahu, namun mayoritas kubu Eisenkot menyatakan enggan bekerja sama dengan partai Arab.

Dari blok politik itu, Yair Golan dari Partai Demokrat adalah satu-satunya yang secara terbuka mendukung koalisi oposisi dengan partai Arab. Ia bahkan menyebut mengecualikan mereka adalah tindakan yang rasis.

Sedangkan, partai-partai Arab telah menyatakan kesediaan mereka untuk bekerja sama dengan blok oposisi. Yousef Jabareen, salah satu pemimpin partai Arab, mendorong kerja sama tersebut demi menyingkirkan Netanyahu dari tampuk kekuasaan. Dalam keterangannya, ia mendorong pihak oposisi untuk menerima “realitas politik” yang sedang terjadi.

Baca juga artikel terkait ISRAEL atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar