tirto.id - Satu hal yang tak boleh dilakukan penonton pentas seni Kaisar Nero adalah pergi.
Gerbang teater di Yunani dikunci selama sang kaisar bernyanyi, tulis Suetonius, penulis riwayat para kaisar yang bekerja sekitar setengah abad sesudahnya. Konon, banyak penonton yang sudah kelewat jemu memilih melompati tembok atau pura-pura pingsan supaya digotong ke luar.
Cassius Dio, sejarawan awal abad ketiga, menambahkan bahwa Nero memperhatikan cara penonton masuk, keluar, mengangguk, dan bersorak. Yang menonton, mendengarkan, dan bersorak keras dengan sungguh-sungguh, akan dipuji. Namun, yang tampak terpaksa bakal dipermalukan dan bahkan dihukum.
Shadi Bartsch, dalam buku Actors in the Audience: Theatricality and Doublespeak from Nero to Hadrian (1994: 5), mencatat bahwa ketika tengah mengamati para penonton Nero, Dio menggambarkannya dengan istilah-istilah seni teater, misalnya ketika mereka keluar-masuk panggung atau merespons pertunjukan (semuanya dengan terpaksa). Pilihan kata itu menunjukkan, hubungan antara penonton dan tontonan telah terbalik: orang-orang yang semestinya menyaksikan pertunjukan justru berubah menjadi bagian dari pertunjukan itu sendiri.
Janji Nero Memisahkan Urusan Pribadi dan Negara
Nero naik takhta sebagai kaisar Romawi pada tahun 54 Masehi, sesudah Claudius (ayah angkatnya). Usianya baru 17 tahun kala itu, seperti diinformasikan oleh Christoph Kugelmeier dalam “The Interaction between ‘History’ and ‘Story’ in Roman Historiography: The Rhetorical Construction of the Historical Image of Nero” (2019: 256).
Dalam pidato pertamanya sebagai kaisar, Nero berjanji menyerahkan banyak urusan kepada senat. Ia dengan lantang berjanji tidak akan mengadili setiap perkara secara sepihak dengan mulutnya sendiri. Ia juga mengklaim, pemerintahannya bakal menghindari keputusan hukum yang tidak adil, rahasia, dan rentan terhadap manipulasi.
Janji itu berlawanan dengan kebiasaan Claudius, yang gemar mengadili sendiri dan menghukum mati senator yang menyinggungnya.
Nero menepati janji itu. Senat memutuskan banyak perkara. Sebabnya, Nero tak berminat pada urusan harian pemerintahan.
Di bawah Claudius, kekuasaan kaisar terasa seperti "Big Brother", hadir di mana-mana. Sementara itu, di rezim Nero, kekuasaan itu nyaris tak terasa.
Tuduhan Dibalas Puisi dan Pesta Seni
Lima tahun sesudah pidato itu, tahun 59 Masehi, Nero membunuh Agrippina, ibu kandungnya. Tembok Roma segera dipenuhi coretan yang menyumpahi tindakan kejinya. Salah satu tulisan ada yang menyebut Nero sama dengan tokoh mitos pembunuh ibu: “Nero, Orestes, Alcmeon: para pembunuh ibu” (Bartsch, 1994: 38).
Alih-alih menerima kritik dan "introspeksi diri", Nero malah mencitrakan dirinya dengan seni puisi. Ada sebuah bait yang beredar di kalangan masyarakat tak lama setelah kejadian itu. Isinya menggambarkan Nero sebagai matahari pagi, wajahnya “menyala lembut” dan lehernya berambut tergerai. Sigrid Mratschek, dalam “Nero the Imperial Misfit: Philhellenism in a Rich Man’s World” (2013: 50), menduga bait tersebut diedarkan Nero sendiri.
Pada tahun sama, Nero mendirikan Juvenalia, pesta seni untuk merayakan pencukuran jenggot pertamanya. Di sana pula ia pertama kali bernyanyi dengan lira di depan orang. "Bumi bergoyang" saat ia bernyanyi, tetapi ia terus bernyanyi (Bartsch, 1994: 8–27).
Di Juvenalia muncul pula regu penepuk bernama Augustiani. Menurut analisis Dio, penonton pertunjukan Nero dipaksa bersorak bersama regu itu. Mereka, terutama pejabat tinggi, meneriakkan apa pun yang diteriakkan regu tersebut (meski dengan hati muram), seakan sungguh bersuka: "Caesar yang mulia, Apollo, Augustus, satu-satunya yang sebanding dengan Pythian!".

Pada tahun 65 Masehi, sekira setahun pascatragedi kebakaran hebat di Roma, Nero tampil di festival seni Roma. Ia turun ke orkestra, lantai setengah lingkaran di depan panggung teater. Peran kesukaannya Orestes pembunuh ibu dan Hercules yang gila, dengan topeng menyerupai wajahnya sendiri. Ia berlutut menunggu putusan juri dengan rasa cemas yang dibuat-buat (Manning, 1975: 164-165).
Penonton menyambutnya dengan tepuk tangan. Tacitus, seperti dikutip dari Manning dalam artikel jurnalnya, melukiskan: “Rakyat, yang terbiasa bertepuk bahkan untuk gaya pemeran profesional, bersorak dalam irama terukur. Mereka terdengar senang. Memang, karena aib bangsa tak berarti bagi mereka, barangkali mereka sungguh senang.”
Di balik irama tersebut, menurut Tacitus, banyak orang ditempatkan di setiap sudut bangkut penonton untuk mengawasi dan mencatat siapa yang hadir, bagaimana raut wajahnya, serta apakah bersemangat atau muak.
Penonton duduk terpaku sejak siang hingga malam, bahkan sampai ada yang jatuh sakit. Mereka terpaksa bertahan karena absen lebih berbahaya daripada rasa jemu.
Senator Vespasian (kelak jadi kaisar di masa mendatang), misalnya, tertidur saat Nero bernyanyi. Akibatnya, ia dilarang memasuki istana dan disingkirkan ke kota kecil yang jauh.
Namun, menurut sejumlah catatan sejarah, pertunjukan Nero tak selalu diramaikan oleh penonton yang terpaksa. Pada 59 Masehi, misalnya, ketika Nero ikut balapan kereta kuda untuk pertama kalinya, Tacitus menulis:
Pada kesempatan lain, sebelum tragedi kebakaran, Nero sempat mengumumkan menunda perjalanannya ke Yunani dan Mesir karena sebagian rakyatnya tak sanggup ditinggal. Para pendukungnya menyambut kabar tersebut dengan gembira.
Orator Fronto menyimpulkan bahwa citra yang dibangun Nero berhasil. Bahwasanya kesetiaan warga Roma dijaga oleh dua hal, “jatah gandum dan pertunjukan”.
Naskah di Tangan Orang Lain
Pada tahun 66 Masehi, Nero akhirnya tetap pergi. Ia melakukan perjalanan ke Yunani, pusat perlombaan musik, drama, dan berkuda. Ia pergi ke sana demi menunjukkan kemampuannya menyanyi dan membacakan syair. Konon, ia bahkan mempersembahkan 1.808 hadiah kemenangan (Sigrid Mratschek, 2013: 54–58).
Namun, itu tak mengubah apa pun. Menurut catatan Suetonius, harga gandum naik tajam pada masa-masa itu. Pamor Nero terus merosot.
Gerakan melawan Nero dimulai oleh panglima provinsi. Senat Romawi menyatakan Nero sebagai musuh publik (hostis publicus), sekaligus merencanakan penggulingannya. Meski cukup terstruktur, Suetonius menyebut, tidak ada bukti kuat bahwa rakyat ikut campur.
Setelah memahami situasi pelik yang menimpa, termasuk fakta pelengserannya, Nero dengan sadar kabur dari istana. Ia pergi ke sebuah vila di luar kota Roma, lalu melakukan bunuh diri dengan bantuan sang sekretaris, alih-alih menerima hukuman mati dari Senat.

Setelah Nero tak lagi berkuasa dan mati mengenaskan, kekuasaan Roma centang perenang. Dalam setahun (68–69 M), tampuk kepemimpinan berganti sebanyak empat kali, dan selalu diiringi dengan pertumpahan darah.
Kisah tentang akhir hidup Nero yang sampai kepada kita dituturkan oleh para penulis setelah kematiannya, bukan melalui kesaksian pribadi sang kaisar. Maka itu, gambaran mengenai dirinya, termasuk saat-saat terakhir sebelum meninggal, perlu dibaca dengan mempertimbangkan keberpihakan dan sudut pandang para penulis tersebut (Manning, 1975: 165).
Lewat tulisannya "Qualis Artifex Pereo: The Use and Reception of the Neronian Narrative" (2016: 188), Katharine Eileen Piller menilai, jika citra Nero yang dibentuk oleh para penulis sesudahnya disisihkan, ia mungkin lebih tepat dipandang sebagai kaisar yang biasa-biasa saja: penguasa yang memiliki perhatian besar terhadap seni dan memperkenalkan sejumlah inovasi dalam representasi publik, tetapi tidak cukup siap menghadapi kerumitan politik yang diwarisinya.
Bahkan, kata-kata terakhir Nero yang terkenal, Qualis artifex pereo (lazim diterjemahkan sebagai “Betapa seorang seniman binasa bersamaku”), hanya diketahui melalui catatan Suetonius. Kebenaran ucapan tersebut pun diragukan. Manning bahkan mengatakan bahwa ada kemungkinan itu merupakan legenda yang berkembang dalam kisah tentang kematian Nero (1975: 164).
Penulis: Rizqy M. Farhan
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































