Menuju konten utama

Merias Kembali Keanggunan Taman Sriwedari Warisan Pakubuwono X

Taman Sriwedari di era Kolonial Belanda juga dikenal sebagai pusat hiburan dan ruang sosialisasi lintas bangsa.

Merias Kembali Keanggunan Taman Sriwedari Warisan Pakubuwono X
Di balik riuh dan riwayat panjang penataan kota Surakarta, Taman Sriwedari kembali menyita perhatian. Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta kini tengah bersiap menyambut babak baru penataan kawasan legendaris tersebut. (FOTO/Khistian Tauqid Ramadhaniswara)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Di balik riuh dan riwayat panjang penataan Kota Surakarta, Taman Sriwedari kembali menyita perhatian. Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta kini tengah bersiap menyambut babak baru penataan kawasan legendaris tersebut. Lewat skema pembenahan bertahap, Pemkot Solo bertekad menghidupkan kembali ruh situs bersejarah tersebut, yaitu sebuah kebon raja (kebun raja) yang ramah, terbuka, dan bisa diakses secara cuma-cuma oleh seluruh lapisan warga tanpa terkecuali.

Wali Kota Solo, Respati Ardi, mengungkapkan pihaknya telah memaparkan konsep revitalisasi kawasan ini di hadapan Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Koordinasi dan perencanaan teknis, seperti detail engineering design (DED), terus dikomunikasikan secara intensif dengan pemerintah pusat demi menggaet dukungan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN).

"Kemarin, saya sudah paparan ke Bu Wamen PU, tinggal nanti juga paparan ke PU. Kami membutuhkan bantuan dari pemerintah pusat nantinya. Tentunya DED dan perencanaan sudah kami komunikasikan dengan pemerintah pusat," ujar Respati.

Dia menegaskan, setelah proses revitalisasi rampung sepenuhnya, Taman Sriwedari diharapkan menjadi ruang publik yang terbuka dan dapat diakses masyarakat luas tanpa dipungut biaya.

"Harapannya, rencana yang saya paparkan, itu benar-benar terbuka untuk publik. Gratis, benar-benar taman kota," imbuhnya.

Saat ini, penataan fisik taman secara bertahap masih disokong anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kota Solo, Nur Basuki, juga merinci progres penataan kawasan Sriwedari saat ini telah berjalan melalui beberapa tahap.

Revitalisasi Kolam Segaran telah rampung, baik dari segi penataan taman maupun pengembalian fungsinya. Kolam peninggalan Susuhunan Pakubuwono X itu sedang memasuki masa pemeliharaan sebelum resmi dibuka untuk umum. Penataan Kolam Segaran ini menjadi salah satu bagian dari keseluruhan revitalisasi.

"Tahun depan, ada (anggaran) sekitar Rp1 miliar lebihlah. Kan kami di Sriwedari sudah tiga tahap ya. Tahap pertama kemarin di bentuk tengahnya, kemudian yang tahap kedua ini untuk dinding luarnya Kolam Segaran. Tahap ketiga nanti mungkin pedestrian dan taman-tamannya, tapi masih di sekitar Segaran," jelas Nur Basuki.

Taman Sriwedari sebagai Kebun Raja Warisan Pakubuwono X

Di balik riuh dan riwayat panjang penataan kota Surakarta, Taman Sriwedari kembali menyita perhatian. Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta kini tengah bersiap menyambut babak baru penataan kawasan legendaris tersebut. (FOTO/Khistian Tauqid Ramadhaniswara)

Dia menambahkan acuan studi historis yang digunakan dalam penataan ini berpijak pada kondisi kawasan pada era 1900–1940. Penataan juga akan menyentuh fasilitas pendukung di dalam kawasan, termasuk merapikan zona kuliner serta sentra buku legendaris yang selama ini menjadi bagian dari denyut aktivitas masyarakat Solo.

“Kalau shelter figura kami tetap di sana, kami bikin yang lebih bagus. Kemudian, yang buku nanti mungkin kami pindah ke selatan Stadion (Sriwedari). Sekarang, buku kan sudah campur dengan kuliner ya. Nanti, di sana konsepnya sama, buku dan kuliner. Tapi, buku ini kan legend. Tetap kami pertahankan dan beri tempat sendiri,” tambah Nur Basuki.

Taman Sriwedari sebagai Kebun Raja Warisan Pakubuwono X

Di balik riuh dan riwayat panjang penataan kota Surakarta, Taman Sriwedari kembali menyita perhatian. Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta kini tengah bersiap menyambut babak baru penataan kawasan legendaris tersebut. (FOTO/Khistian Tauqid Ramadhaniswara)

Jejak Historis Kebon Rojo Sriwedari

Kilas balik ke belakang, Taman Sriwedari memiliki akar sejarah yang sangat kuat sebagai identitas kultural Kota Surakarta. Sejarawan sekaligus Dosen Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Heri Priyatmoko, memaparkan bahwa Pakubuwana X membuka Taman Sriwedari pada 1899 dengan sengkalan “luwih katon esthining wong”.

“Kawasan ini sengaja dirancang murni sebagai ruang budaya, kesenian, dan rekreasi publik,” jelas Heri.

Raja Pakubuwono

Pakubuwono X (kedua dari kiri) bersama Gubernur Jenderal de Graeff (tengah) ketika berada di Boyolali, tahun 1928. FOTO/Istimewa

Dalam ingatan kolektif masyarakat Solo, Sriwedari merupakan oase asri yang dipenuhi pepohonan rindang memayungi Kolam Segaran.

Heri menyebut hal itu terekam dalam salah satu pupuh dalam Babad Sala, ”Kebon Raja winangun Sriwedari, tanam tetuwuhan agung hanggung ngrembuyung rumbaka nglimputi taman myang Segaran (Kebun Raja yang disebut Sriwedari dipenuhi tetumbuhan rindang memayungi Taman Segaran yang asri)”.

Pada masa kepemimpinan Pakubuwono X (1893–1939), taman ini terkenal karena kebun binatangnya. Ini adalah kebun binatang pertama di Jawa. Ia menjadi daya tarik utama berkat koleksi fauna besarnya, seperti gajah, yang mendatangkan antusiasme luar biasa masyarakat segala umur.

Menurut Heri, pembangunan Sriwedari berikut kebun binatangnya menjadi merupakan wujud upaya Sang Raja merawat kedekatan dengan kawulanya. Prinsipnya, sejauh apa pun kekuasaan istana, istana itu ada di hati rakyat.

Taman Sriwedari sebagai Kebun Raja Warisan Pakubuwono X

Di balik riuh dan riwayat panjang penataan kota Surakarta, Taman Sriwedari kembali menyita perhatian. Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta kini tengah bersiap menyambut babak baru penataan kawasan legendaris tersebut. (FOTO/Khistian Tauqid Ramadhaniswara)

Panggung yang Mendunia

Taman Sriwedari di era Kolonial Belanda juga dikenal sebagai pusat hiburan dan ruang sosialisasi lintas bangsa. Heri menjelaskan bukti tentang hal itu dapat ditakik dari arsip Jubileumfeesten Soerakarta.

Arsip tersebut mencatat kemeriahan pesta rakyat bertajuk Malam Sriwedari yang diselenggarakan pada 31 Agustus–6 September 1923. Pesta rakyat ini dimeriahkan dengan pesta kembang api, aneka pameran, pertunjukan kesenian, hingga bioskop terbuka. Selama pesta rakyat berlangsung, langit malam Surakarta juga diterangi sorotan lampu sokle berukuran besar.

PENTAS WAYANG ORANG DISIARKAN SECARA DARING

Pemain Wayang Orang Sriwedari mementaskan lakon Tibaning kamulyansih yang disiarkan secara daring di Gedung Wayang Orang Sriwedari, Solo, Jawa Tengah, Kamis (4/6/2020). ANTARA FOTO/Maulana Surya/aww.

Daya tarik ruang publik kosmopolit ini bahkan memikat tokoh-tokoh mancanegara. Salah satunya Baginda Raja Chulalongkorn dari Kerajaan Thailand (Siam) yang menyempatkan diri berkunjung ke Kebon Raja di sela-sela lawatannya ke Surakarta pada 1934.

“Sang Raja Siam merasa kunjungannya ke Kota Bengawan belum lengkap tanpa bertandang ke taman kebanggaan wong Solo tersebut. Sebuah momen istimewa yang turut diliput oleh surat kabar masa itu, Darmo Kondo,” jelas Heri.

Tidak hanya menjadi pusat seni dan rekreasi, Sriwedari juga menjadi surga kuliner yang memanjakan lidah para pelancong. Berbagai restoran kondang dan warung makan berdiri di sekitar kawasan ini—mencerminkan tingginya apresiasi kuliner dan gaya hidup kosmopolitan masyarakat urban Solo tempo dulu.

Kini, rencana revitalisasi yang digulirkan Pemkot Surakarta di bawah kepemimpinan Wali Kota Respati Ardi dan DPUPR bukan sekadar membangun infrastruktur fisik semata. Lebih dari itu, langkah ini merupakan upaya merawat ingatan kolektif, menghidupkan kembali denyut budaya, dan mengembalikan Taman Sriwedari ke pangkuan publik sebagai ruang publik yang inklusif dan membanggakan bagi seluruh warga.

Baca juga artikel terkait TAMAN KOTA atau tulisan lainnya dari Khistian Tauqid

tirto.id - News Plus
Kontributor: Khistian Tauqid
Penulis: Khistian Tauqid
Editor: Fadrik Aziz Firdausi