tirto.id - Kanker hati masih menjadi ancaman kesehatan yang membayangi Indonesia. Berada di posisi ketiga sebagai kanker yang paling banyak menginfeksi pria di bawah kanker paru dan usus, kanker hati mencatatkan tingkat mortalitas kedua tertinggi di tanah air. Setiap tahunnya, tercatat ada sekitar 24.000 kasus baru dengan angka kematian yang menyentuh jumlah serupa.
Tren penyebabnya pun kini mulai bergeser. Jika dahulu mayoritas dipicu oleh infeksi virus hepatitis B dan C, kini lonjakan kasus kanker hati justru didorong oleh perlemakan hati non-alkohol atau non-alcoholic fatty liver disease (NAFLD) akibat sindrom metabolik, diabetes, gaya hidup, dan kolesterol.
Pergeseran ini turut menyeret angka kejadian kanker hati ke kelompok usia yang lebih muda.
Di tengah lanskap medis tersebut, inovasi teknologi pengobatan kanker hati terus berkembang pesat dari metode kemoterapi konvensional menuju pendekatan yang lebih presisi.
Melalui penanganan multidisiplin, integrasi antara kedokteran nuklir dan radiologi intervensi mulai memperluas harapan hidup pasien tanpa harus mengandalkan tindakan pembedahan besar.
Guna mendalami terobosan teknologi medis ini, Tirto berbincang dengan dua pakar dari Rumah Sakit Siloam MRCCC Jakarta, yaitu dr. Rio Hermawan, Sp.Rad(K)RI (spesialis radiologi subspesialis radiologi intervensi) dan dr. Ivana Dewi Mulianto, Sp.KN(K), FANMD, M.Biomed (spesialis kedokteran nuklir subspesialis onkologi).
dr. Rio dan dr. Ivana membeberkan secara mendalam mengenai pola deteksi dini, diferensiasi stadium, hingga mekanisme terapi presisi TARE berbasis radiofarmaka Yttrium-90. Berikut wawancaranya.
Bagaimana saat ini gambaran epidemiologi dan pola pemicu kanker hati di Indonesia?
dr. Rio: Kanker hati ini masih menjadi masalah kesehatan yang cukup besar di Indonesia. Pada kelompok laki-laki, posisinya menempati peringkat ketiga tertinggi di bawah kanker paru dan usus. Namun dari tingkat mortalitasnya, kanker hati menempati urutan kedua tertinggi di bawah kanker paru-paru. Per tahunnya tercatat ada sekitar 24.000 kasus baru dan angka kematiannya juga berada di kisaran 24.000 jiwa.
Secara demografi, perbandingannya lebih banyak ditemukan pada pria dibanding wanita, yakni sekitar 3 banding 1. Dahulu, 70 sampai 80 persen pemicunya adalah infeksi virus hepatitis. Namun sekarang porsi tersebut mulai bergeser dan menurun ke kisaran 60 persen.
Di sisi lain, kasus yang disebabkan oleh perlemakan hati atau NAFLD justru meningkat drastis. Ini dipicu oleh gangguan metabolik seperti hipertensi, kolesterol, diabetes, dan pola hidup. Dampaknya, pergeseran usia pasien kini makin muda, dari yang tadinya didominasi usia di atas 60 tahun, kini rentang usia 40 hingga 50 tahun sudah banyak ditemukan.

Mengapa kanker hati sering kali baru terdeteksi saat memasuki stadium lanjut?
dr. Rio: Kerusakan hati itu berlangsung bertahap dan memakan waktu sangat panjang, bisa 10 hingga 20 tahun. Jalurnya dimulai dari organ hati sehat yang mengalami peradangan akibat infeksi virus atau perlemakan hati. Peradangan kronis ini memicu kekakuan jaringan sel hati yang disebut jaringan fibrotik. Jika fibrosis ini makin berat, kondisi organ akan jatuh ke fase sirosis. Pada jaringan sirosis inilah sel-sel abnormal sangat mudah bertransformasi menjadi tumor ganas atau kanker.
Masalah utamanya, selama fase perlemakan hati hingga sirosis awal, penyakit ini tidak menimbulkan gejala sama sekali atau asymptomatic. Pasien tidak bisa merasakan atau meraba adanya benjolan di perut. Deteksi dini hanya bisa didapatkan melalui skrining berkala seperti USG, CT scan, atau tes darah fungsi hati.
Karena tidak ada gejala rasa sakit, sebagian besar pasien di Indonesia baru datang berobat ketika kanker sudah berada di stadium menengah atau lanjut.
Bagaimana klasifikasi stadium menentukan pilihan terapi untuk pasien?
dr. Rio: Penentuan stadium kanker hati menggunakan sistem klasifikasi BCLC atau Barcelona Clinic Liver Cancer Staging, yang terbagi menjadi stadium A, B, C, dan D. Stadium A merupakan fase awal (early), B adalah fase menengah (intermediate), C adalah fase lanjut (advanced) yang biasanya sudah menginvasi pembuluh darah, dan D merupakan fase terminal.
Pada stadium A yang ukurannya masih kecil, opsi terbaik adalah tindakan operasi bedah pemotongan tumor, transplantasi hati, atau ablasi mengunci lokasi tumor menggunakan jarum khusus. Namun ketika tumor sudah berukuran di atas 4 hingga 5 sentimeter atau memiliki lebih dari satu nodul (stadium B dan C), operasi pembedahan sulit dilakukan. Di situlah penanganan masuk ke domain terapi lokoregional dan terapi target.
Dalam kedokteran nuklir, pendekatan teranostik sering disebut sebagai metode presisi. Bisa dijelaskan konsep kerjanya?
dr. Ivana: Istilah teranostik adalah gabungan dari terapi dan diagnostik. Prinsip dasarnya adalah we treat what we see and we see what we treat. Kami menggunakan zat radioaktif yang disebut radiofarmaka.
Pada tahap awal diagnostik, radiofarmaka yang disuntikkan bertindak seperti sistem pemancar sinyal GPS. Radiofarmaka ini akan menempel pada ekspresi protein spesifik di sel kanker sehingga lokasinya terekam sangat jelas pada pemindaian kamera gamma atau PET-CT.
Setelah lokasi kankernya terkonfirmasi, kami mengganti zat radiofarmaka tersebut dengan jenis radiofarmaka pemancar radiasi beta. Zat ini akan secara presisi menuju ke lokasi yang sama untuk merusak rantai DNA sel kanker hingga mematikannya tanpa merusak organ tubuh lainnya.
Apa perbedaan mendasar antara metode kemoterapi lokal TACE dengan teknologi terbaru TARE atau SIRT?
dr. Rio: Pada terapi TACE atau Transarterial Chemoembolization, kateter dimasukkan melalui pembuluh darah di paha menuju arteri yang menyuplai makanan ke tumor. Obat kemoterapi disuntikkan ke titik tersebut, lalu saluran pembuluh darahnya disumbat (embolisasi) agar sel kankernya mati kelaparan.Sementara pada TARE (Transarterial Radioembolization) atau SIRT (Selective Internal Radiation Therapy), zat yang kami masukkan lewat kateter bukan lagi obat kimia, melainkan mikrosfer berukuran sangat kecil yang mengandung zat radiofarmaka Yttrium-90. Zat ini berpendar dan memancarkan radiasi secara langsung dari dalam tumor. Hasil kontrol kekambuhan dan kesembuhannya jauh lebih tinggi dibanding kemoterapi biasa, serta sifat invasifnya sangat minimal sehingga pasien bahkan bisa langsung pulang di hari yang sama.
dr. Ivana: Keunggulan spesifik Yttrium-90 ini terletak pada daya jangkau radiasinya. Energi radiasinya sangat besar untuk memusnahkan jaringan tumor, namun penetrasi pancarannya sangat pendek, yaitu hanya sekitar 2,5 hingga 11 milimeter. Artinya, efek radiasinya terkunci di dalam area tumor saja dan tidak membahayakan jaringan hati sehat di sekitarnya. Uniknya lagi, setelah terapi TARE selesai dan tumor mengecil, sisa jaringan hati yang sehat dapat mengalami hipertrofi atau membesar secara alami untuk menjaga fungsi metabolisme organ tubuh.
Apakah pengobatan TARE berbasis Yttrium-90 ini sudah sepenuhnya bisa diakses di dalam negeri?
dr. Rio: Layanan TARE atau SIRT menggunakan Yttrium-90 ini sudah tersedia di Indonesia, salah satunya telah dijalankan di Rumah Sakit Siloam MRCCC Jakarta. Pasien kanker hati di Indonesia kini tidak perlu lagi jauh-jauh berobat ke luar negeri.Dari sisi estimasi biaya, penanganan di dalam negeri juga terhitung jauh lebih hemat. Biayanya bisa berkisar 20 hingga 30 persen lebih terjangkau dibandingkan jika pasien harus menjalani prosedur serupa di rumah sakit luar negeri.

Ada anggapan di masyarakat bahwa terapi kanker selalu identik dengan kebotakan dan vonis kematian. Bagaimana respons dokter?
dr. Ivana: Di bidang kedokteran nuklir dan radiologi intervensi, pengobatan difokuskan langsung ke target sel kankernya secara lokal. Karena obatnya tidak berputar di seluruh sirkulasi darah tubuh layaknya kemoterapi sistemik konvensional, pasien tidak akan mengalami efek samping kebotakan.
dr. Rio: Diagnosa kanker hati saat ini juga sama sekali bukan death penalty atau vonis mati. Kemajuan teknologi diagnostik dan presisi pengobatan masa kini memungkinkan banyak pasien untuk pulih, mempertahankan kualitas hidup yang baik hingga puluhan tahun, bahkan mencapai remisi total. Kuncinya ada pada kedisiplinan melakukan tes kesehatan rutin agar penyakit dapat terdeteksi seawal mungkin.
Penulis: Muhammad Rayfahd Haykal
Editor: Bayu Septianto
Masuk tirto.id
































