tirto.id - Sejumlah lukisan cadas tertua peninggalan manusia purba di beberapa situs gua prasejarah terancam rusak serta hilang akibat dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terus meluas di wilayah karst Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Sulawesi Selatan (Sulsel).
"Kebakaran yang terjadi di kawasan situs arkeologi terutama yang menyimpan gambar cadas terancam rusak bila kebakaran tidak dipadamkan," kata Arkeolog dari Griffith University Australia, Basran Burhan, merespons karhutla di wilayah Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, dikutip Antara, Jumat (16/10/2026).
Sebagai arkeolog yang bertahun-tahun meneliti situs-situs prasejarah di kawasan tersebut, Basran memperingatkan dampak destruktif dapat terjadi pada gambar cadas tersebut. Tak main-main, kerusakan yang ditimbulakan bisa bersifat permanen dan tidak dapat dipulihkan.
Menurutnya, ada dua efek yang dapat merusak gambar hewan yang dilukis manusia purba berusia puluhan ribu tahun di gua karst. Pertama adalah suhu panas ekstrem yang dihasilkan karhutla dapat memengaruhi lukisan, meski tidak memerlukan kontak langsung antara api dengan lukisan.
"Tanpa ada api langsung yang menyentuh lukisan, itu bisa merusak lukisan. Karena dia mengubah temperatur di sekitar gambar yang bisa mempercepat proses pelapukan. Apalagi kalau sampai api itu menyentuh lukisannya," tutur Basran.
Perubahan suhu yang drastis dapat menyebabkan ekspansi termal pada batuan gamping. Batuan yang selama ribuan tahun stabil, tiba-tiba mengalami tekanan sehingga mengakibatkan retakan mikro. Retakan itu dapat merambat hingga ke lapisan pigmen lukisan dan menyebabkan pengelupasan yang masif.
Efek kedua adalah jelaga dan asap. Kebakaran hutan menghasilkan asap tebal yang kaya akan partikel karbon. Asap dari api itu, ungkap dia, akan membentuk jelaga di permukaan gambar gua dan akan menutupi lukisan dalam gua. Seperti selimut hitam menutupi detail lukisan.
"Itu dapat membuatnya kabur dan sulit diidentifikasi. Lukisannya juga akan tertutup dengan jelaga itu. Kita sulit melihat bentuk gambarnya seperti apa, dan sulit melihat warna asli dari pigmennya," paparnya menjelaskan.
Hal mengkhawatirkan adalah fakta upaya konservasi selama ini dilakukan dengan sangat ketat menjadi sia-sia di hadapan kebakaran skala besar. Balai Pelestarian Kebudayaan Sulsel, bahkan telah menerapkan aturan ketat membatasi jumlah pengunjung maksimal lima orang dalam satu gua.
Selain untuk mencegah kerusakan fisik, aturan itu bertujuan mengontrol suhu lokal dan kelembapan di sekitar gua pada situs tersebut. Bahkan, suhu tubuh manusia pun dianggap berpengaruh terhadap kerusakan lukisan dalam jangka panjang.
"Jika suhu tubuh manusia saja dianggap berpengaruh terhadap kerusakan lukisan, apalagi kebakaran. Ini bukan hanya persoalan karhutla, tetapi juga perubahan iklim mikro di dalam lingkungan gua," kata Basran menegaskan.
Perlu diperhatikan bahwa Kawasan Maros-Pangkep bukan sekadar hutan biasa, tetapi galeri seni terbuka tertua di dunia. Pada dinding-dinding gua kapur di sana, manusia purba menggoreskan gambar babi rusa dan cap tangan berusia lebih dari 45.000 tahun—mendahului lukisan cadas terkenal di Eropa, seperti di Lascaux, Prancis.
Dampak kebakaran di kawasan Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung itu tidak hanya merusak vegetasi pada erea karst hingga puncaknya, tapi juga berdampak pada habitat satwa endemik dilindungi maupun keanekaragaman hayati di wilayah setempat.
Kepala Balai Taman Nasional Buntimurung-Bulusaraung, Abdul Rajab, menyebutkan luas lahan yang hangus terbakar per Senin (12/10/2026) mencapai 34,74 haktare hingga meningkat pada Kamis (15/10/2026) seluas 93,43 hektare. Informasi awal kebakaran di Kelurahan Kassi, Kecamatan Balocci, Pangkep, Minggu (11/10/2026) pukul 21.00 WITA.
Masuk tirto.id
































