tirto.id - Pencarian terhadap Veronica Beatrix Jessica, seorang dive master berusia 23 tahun, masih dilakukan setelah kapal wisata KM Feronia yang ditumpanginya terbalik di perairan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Selasa (13/10/2026).
Jessica menjadi satu-satunya orang yang dilaporkan hilang dalam kecelakaan kapal yang mengangkut puluhan penumpang dan awak tersebut.
KM Feronia membawa 25 penumpang dan lima awak kapal saat mengalami kecelakaan di sekitar perairan Batu Bolong dan Pulau Tatawa. Sebanyak 24 penumpang dan lima awak kapal berhasil diselamatkan, sedangkan Jessica diduga terjebak di dalam toilet kapal ketika kapal mulai terbalik.
Tim SAR gabungan terus melakukan pencarian dengan menghadapi tantangan berupa arus bawah laut yang kuat, pusaran air, dan terbatasnya jarak pandang di dalam air. Hingga laporan pencarian pada 14 Oktober 2026, keberadaan Jessica belum diketahui dan penyebab pasti kecelakaan masih dalam penyelidikan.
Kronologi Jessica Hilang di Labuan Bajo
KM Feronia merupakan kapal kayu tradisional bergaya pinisi yang digunakan untuk mengangkut penumpang dalam perjalanan wisata dan aktivitas menyelam di kawasan Labuan Bajo. Kapal tersebut diketahui membawa 25 penumpang dan lima awak kapal, termasuk nakhoda, dengan total 30 orang di dalamnya.
Mengutip laman Divernet, Kamis (15/10/2026), KM Feronia berangkat dari Marina Labuan Bajo sekitar pukul 08.00 WITA pada Selasa (13/10/2026) untuk melakukan perjalanan menuju Pulau Rinca dan sejumlah lokasi penyelaman di kawasan Taman Nasional Komodo. Di antara penumpang kapal terdapat wisatawan asing, termasuk warga negara Inggris dan Australia.
Jessica, yang dikenal sebagai dive master atau pemandu kegiatan menyelam, turut berada di kapal tersebut. Ia bertugas dalam kegiatan wisata selam yang menjadi salah satu daya tarik utama kawasan Labuan Bajo.
Sebelum kecelakaan terjadi, para penumpang KM Feronia telah menyelesaikan aktivitas menyelam di perairan Manta Point. Setelah kegiatan tersebut selesai, kapal kemudian memulai perjalanan kembali menuju Dermaga Marina Labuan Bajo yang dibenarkan oleh Kepala Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo, Stephanus Risdiyanto berdasarkan informasi awal dari salah satu awak kapal.
KM Feronia mengalami kecelakaan ketika melintasi perairan sekitar Batu Bolong dan Pulau Tatawa. Laporan KSOP menyebutkan kapal terbalik setelah dihantam arus kuat saat berada di sekitar Tatawa Besar. Waktu kejadian dalam laporan awal KSOP disebut sekitar pukul 15.02 WITA.
Kapal diduga kehilangan kestabilan ketika menghadapi arus laut yang kuat hingga akhirnya terbalik. Namun, penyebab pasti kapal terbalik belum dapat dipastikan.
Sebanyak 29 Orang Berhasil Dievakuasi, 1 Hilang
Setelah kecelakaan dilaporkan, operasi pencarian dan penyelamatan segera dilakukan oleh KSOP Kelas III Labuan Bajo bersama sejumlah unsur terkait. Tim gabungan menggunakan kapal pendukung, termasuk SB Red Whale, untuk membantu proses evakuasi penumpang dan awak kapal.
Sebanyak 24 penumpang dan lima awak kapal berhasil dievakuasi ke Dermaga Marina Waterfront, Labuan Bajo. Dengan demikian, 29 dari total 30 orang yang berada di kapal berhasil diselamatkan, sedangkan satu penumpang lainnya, yakni Jessica, masih belum ditemukan. Sejumlah penyintas dilaporkan mengalami luka-luka dan mendapatkan penanganan medis.
Jessica tidak ikut ikut dievakuasi setelah diduga berada di toilet yang terletak di sisi kiri kapal atau bagian portside ketika KM Feronia mulai terbalik. Pintu toilet tersebut disebut dalam keadaan terkunci saat kejadian.
Petugas sempat berupaya membuka pintu toilet dari luar. Namun, upaya itu tidak langsung membuahkan hasil karena pintu dilaporkan terkunci. Kondisi tersebut menimbulkan dugaan bahwa Jessica tidak sempat keluar dari ruangan ketika kapal kehilangan kestabilan dan terbalik.
Isran, nakhoda kapal mengatakan bahwa dirinya memprioritaskan penyelamatan penumpang dengan mengarahkan mereka menuju rakit penyelamat. Ia baru menyadari ada orang yang belum ditemukan setelah dilakukan penghitungan jumlah orang yang berhasil dievakuasi.
Setelah Jessica dinyatakan hilang, tim SAR gabungan melanjutkan pencarian di sekitar lokasi kecelakaan. Operasi ini melibatkan unsur Badan Pencarian dan Pertolongan, personel TNI Angkatan Laut, polisi perairan, otoritas pelabuhan, serta tim penyelam dan unsur pendukung lainnya.
Upaya pencarian menghadapi tantangan besar karena arus bawah laut yang kuat dan pusaran air di sekitar lokasi kecelakaan. Perubahan arah arus secara tiba-tiba menyulitkan penyelam untuk bergerak dan memeriksa area pencarian secara menyeluruh. Jarak pandang bawah air yang terbatas juga menjadi kendala dalam menemukan korban maupun bangkai kapal.
Pada Selasa malam (13/10/2026), KM Feronia dilaporkan masih berada dalam posisi terbalik dengan bagian lambung menghadap ke atas. Kapal juga berpotensi hanyut terbawa arus sehingga lokasi dan kondisi bangkai kapal menjadi bagian penting dari upaya pencarian.
Kapal tersebut dilengkapi perangkat Emergency Position Indicating Radio Beacon (EPIRB), yakni alat yang berfungsi mengirimkan sinyal darurat untuk membantu proses pencarian. Namun, belum ada perkembangan sinyal terbaru yang dapat membantu memastikan posisi kapal.
Untuk memperluas pencarian, tim SAR menyiapkan operasi lanjutan pada Rabu (14/10/2026). Sebanyak 10 penyelam dan dua kapal pendukung didata untuk membantu pemeriksaan di bawah permukaan laut. Penyelaman direncanakan mencapai kedalaman maksimum 20 meter, dengan tetap menyesuaikan kondisi arus dan standar keselamatan.
Tim juga mendirikan pos penanganan di Pos Padar dengan kapasitas penampungan 10 orang per hari. Selain personel dan kapal pendukung, operasi membutuhkan tambahan tabung selam serta pemberat untuk membantu penyelam bekerja di bawah air.
Dalam perkembangan berikutnya, pencarian dilaporkan berlanjut pada 14 Oktober dengan sejumlah sesi penyelaman di titik-titik yang dinilai penting. Tim juga mengerahkan perangkat remotely operated vehicle (ROV), yaitu kendaraan bawah air yang dikendalikan dari jarak jauh, untuk membantu memeriksa area pencarian tanpa sepenuhnya bergantung pada penyelaman manual.
Hingga 15 Oktober, pencarian masih berlanjut dan bangkai KM Feronia belum ditemukan. Operasi gabungan melibatkan puluhan personel dari berbagai instansi, dengan jumlah personel yang dikerahkan mencapai 93 orang, dilansir Deeper Blue, Jumat(16/10/2026).
Selain melakukan pencarian terhadap Jessica, pihak berwenang juga menyelidiki penyebab terbaliknya KM Feronia. KSOP Kelas III Labuan Bajo menyatakan bahwa dugaan terkait kemampuan nakhoda mengantisipasi arus kuat belum dapat dianggap sebagai kesimpulan akhir.
Otoritas pelabuhan juga dilaporkan menyebut KM Feronia dibangun di galangan kapal di Bira, Sulawesi Selatan, dan telah beroperasi sekitar dua bulan sebelum kecelakaan.
Kapal tersebut disebut memiliki dokumen pelayaran yang dipersyaratkan dan sebelumnya dinilai laik laut. Meski demikian, status dokumen dan kelayakan kapal tetap menjadi bagian yang perlu diperiksa dalam rangkaian penyelidikan.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id


































