tirto.id - Perusahaan pemegang hak cipta karakter Hello Kitty, Sanrio, dilaporkan menghentikan kerja samanya dengan serial televisi Jepang setelah dikecam Pemerintah Cina. Peristiwa ini sampai membuat Sanrio merilis permintaan maaf khusus secara resmi. Berikut kronologinya.
Melansir Open Magazine, polemik terkait Sanrio dan Pemerintah Cina berlangsung pada pekan lalu. Pada Rabu (28/10/2026) lalu, anak perusahaan Sanrio di Cina merilis permintaan maaf kepada publik Cina atas kerja sama mereka dengan serial televisi bertema mata-mata Jepang berjudul Vivant.
Dalam permintaan maaf tersebut, anak perusahaan Sanrio itu juga menyatakan bahwa mereka telah menghentikan kerja sama mereka dengan Vivant. Hal ini, kata mereka, dilakukan setelah menilai bahwa serial televisi itu “mengandung unsur-unsur yang tidak sejalan dengan nilai-nilai inti Sanrio”.
Polemik antara Sanrio dan Pemerintah Cina ini telah menjadi perhatian luas di antara publik Cina. Di media sosial, perusahaan itu telah dikecam oleh warganet di Cina dan membuat karakter Hello Kitty ikut kena getahnya. Namun bagaimana hal ini bermula?
Kronologi Publik Cina Marah pada Karakter Sanrio Termasuk Hello Kitty
Ditilik dari kronologinya, polemik antara Pemerintah Cina dan perusahaan Sanrio tersebut bersumber pada penayangan serial televisi produksi Jepang berjudul Vivant. Serial ini pertama ditayangkan di Jepang pada 2023 lalu dan baru saja merilis musim keduanya pada 2026.
Sejak dirilis pada 2023, Vivant berhasil meraih kesuksesan komersial. Kepopuleran serial ini bahkan telah mencapai cakupan internasional seiring perilisan musim keduanya pada Juli lalu.
Kepopuleran serial ini kemudian membuat sejumlah perusahaan melakukan kerja sama komersial dengan serial ini. Salah satunya adalah Sanrio yang melakukan kolaborasi berupa merchandise edisi khusus bertema Vivant.
Semula, kerja sama itu tak menuai reaksi keras ketika diumumkan pada Juli lalu. Namun, pada awal Oktober, hal tersebut berubah.
Tepatnya pada 4 Oktober lalu, Vivant menayangkan sebuah episode yang menuai kontroversi dan memicu protes Pemerintah Cina. Kontroversi tersebut berpusat pada adegan dalam episode itu yang menggambarkan penyiksaan mata-mata Jepang oleh organisasi intelijen Cina.
Usai episode itu ditayangkan, media Pemerintah Cina seperti CCTV dan Global Times merilis kecaman atas adegan tersebut. Serial itu dituduh telah menggambarkan Cina sebagai pelaku kekerasan keji dan berdampak pada citra negara itu di dunia nyata.
Kecaman ini juga diamini warganet Cina. Banyak dari mereka dilaporkan telah mengunggah ulasan negatif terhadap serial Vivant karena episode penyiksaan tersebut, sembari menyebut serial itu sebagai produk budaya yang anti-Cina.
Bermula dari kontroversi tersebut, kemarahan publik Cina itu kemudian turut diarahkan ke Sanrio yang memiliki kerja sama dengan Vivant. Sejauh ini, Cina merupakan salah satu pangsa pasar utama perusahaan asal Jepang tersebut seiring kepopuleran karakter Hello Kitty di negara Tirai Bambu itu.
Media Pemerintah Cina, Global Times, bahkan menyebut bahwa kerja sama Sanrio dengan Vivant telah membuat perusahaan itu “berisiko kehilangan jauh lebih banyak daripada sekadar penjualan jangka pendek.”
Kecaman yang meluas ini pada akhirnya membuat anak usaha Sanrio yang berbasis di Cina mengeluarkan pernyataan resmi pada Rabu lalu. Mereka secara resmi meminta maaf atas kolaborasi yang mereka lakukan dan menyatakan telah menghentikannya.
Meskipun polemik ini bersumber pada penayangan episode Vivant pada 4 Oktober lalu, namun kontroversi ini berlangsung di tengah kerenggangan hubungan diplomatik antara Cina dan Jepang yang sudah berlangsung sebelumnya.
Sejak tahun lalu, hubungan kedua negara itu telah mencapai titik terendah dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu puncak eskalasi ketegangan ini tampak pada pernyataan Perdana Menteri (PM) Jepang Sanae Takaichi pada November tahun lalu bahwa pihaknya akan mengerahkan pasukan jika Cina menyerang Taiwan.
Setelah pernyataan Takaichi tersebut, Beijing telah memberlakukan sejumlah tekanan ekonomi ke Jepang. Hal ini termasuk pembatasan ekspor hingga penarikan panda-panda yang dipinjamkan oleh Cina.
Pada awal Oktober lalu, serial Vivant turut terseret dalam ketegangan diplomatik Cina-Jepang setelah Sanae Takaichi mengatakan telah merekam sejumlah episode serial tersebut untuk ditonton selama libur akhir pekan. Sorotan Takaichi terhadap serial tersebut kemudian ramai dikaitkan dengan penayangan episode berisi adegan kekerasan karakter mata-mata Cina terhadap mata-mata Jepang.
Bukan hanya Hello Kitty yang target kemarahan publik di China beberapa waktu belakangan ini. Pesepak bola Prancis Kylian Mbappé juga kena getahnya usai berkomentar tentang mendiang pemimpin Cina Mao Zedong. Komentar kontroversi itu membuat sejumlah jenama asal Cina membatalkan kerja sama dengan Mbappé.
Sinopsis Serial Vivant yang Bikin Cina Marah
Serial Vivant yang diproduksi oleh TBS berkisah tentang seorang karyawan Jepang bernama Yasuke Nogi (diperankan Masato Sakai) yang tanpa sengaja terlibat dalam konflik dan konspirasi spionase internasional.
Pada musim pertamanya, Nogi diceritakan telah melakukan kesalahan fatal ketika menjalankan tugas pengiriman uang senilai 10 juta dolar AS untuk mendanai proyek infrastruktur di negara fiktif bernama Republik Balka. Alih-alih mengirim uang senilai 10 juta dolar, Nogi justru mengirimkan uang senilai 100 juta dolar AS.
Akibat hal itu, Yasuke Nogi harus pergi ke Republik Balka secara langsung untuk menyelamatkan kariernya. Namun, di sana ia justru terlibat dalam konspirasi spionase yang melibatkan kelompok teroris.
Sementara itu, pada musim kedua, konspirasi spionase tersebut bertambah pelik. Konflik turut melibatkan sebuah organisasi intelijen fiktif bernama “Xinxi”.
Kemunculan organisasi fiktif “Xinxi” itulah yang kemudian dikaitkan banyak pihak sebagai representasi Cina. Organisasi itu juga yang digambarkan sebagai pelaku penyiksaan terhadap agen mata-mata Jepang.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































