Menuju konten utama

Napi Christa Pike yang Tetap Hidup Disuntik Mati, Sudah Diterka

Risiko kegagalan suntikan mati yang diberikan pada narapidana Christa Pike sudah diingatkan mantan pengacaranya. Pike memiliki masalah di pembuluh darah.

Napi Christa Pike yang Tetap Hidup Disuntik Mati, Sudah Diterka
Departemen Pemasyarakatan Tennessee ini memperlihatkan terpidana pembunuhan asal AS, Christa Pike. (Foto oleh Handout / Departemen Pemasyarakatan Tennessee / AFP)
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kisah Christa Pike, terpidana mati asal Amerika Serikat (AS) yang tak meninggal kendati dieksekusi lewat suntikan mati, ternyata telah diprediksi sebelumnya. Mantan pengacara Pike membeberkan bahwa laporan medis terpidana sebelum dieksekusi sempat menunjukkan potensi kegagalan. Namun, eksekusi tetap dilakukan dan masalah itu betulan terjadi.

Menukil The Guardian, potensi kegagalan eksekusi suntikan mati terhadap Pike diungkap oleh James Crowson. Ia adalah mantan pengacara Pike yang mewakili sebagian proses banding terpidana mati tersebut di masa lalu. Menurutnya, peristiwa yang kini dialami Pike bukan hal yang benar-benar mengejutkan.

“Yah, saya tidak bisa bilang saya terkejut [dengan peristiwa ini],” katanya pada Senin (5/10/2026).

Crowson mengatakan kondisi medis Pike terkait pembuluh darah sebenarnya sudah jadi materi pembelaan terpidana mati tersebut di pengadilan. Dalam argumen pembelaan, laporan medis Pike menyebut ada masalah pada akses ke pembuluh darah yang berpotensi membuat prosedur eksekusi jadi berbahaya dan kejam.

“Saya tahu bahwa ada sejumlah pengajuan pembelaan yang mengatakan bahwa dia memiliki pembuluh darah yang bermasalah, dan itu akan menjadi prosedur yang sulit dan mungkin kejam baginya karena akan menempatkannya pada risiko seperti yang terjadi,” tuturnya.

Christa Pike, yang kini berusia 50 tahun, sebelumnya dieksekusi mati lewat suntikan dua dosis pentobarbital pada Rabu (30/9) pekan lalu. Namun, eksekusi itu gagal dilakukan karena Pike masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan ketika suntikan diberikan.

Pada Minggu (4/10), pengacara yang kini mewakili Pike menyebut bahwa terpidana mati asal Tennessee itu masih dirawat di rumah sakit dalam keadaan kritis imbas gagalnya eksekusi itu. Di rumah sakit, Pike terpaksa menggunakan alat bantu pernapasan karena kondisi kritisnya.

“Dia masih di rumah sakit, menggunakan ventilator, dalam kondisi kritis — kami belum benar-benar mengetahui prognosisnya,” kata pengacara Pike kini, Stephen Ferrel, kepada CNN.

Mantan Pengacara Tuduh Eksekusi Mati Tanpa Dasar ilmu Medis

Tim pengacara yang kini mewakili Pike menuduh kegagalan eksekusi ini disebabkan oleh kegagalan petugas menerapkan prosedur. Hal itu termasuk pemasangan jarum infus yang tak seperti seharusnya, serta membuat dosis pentobarbital justru menyebar ke jaringan dan bukan ke pembuluh darah.

Departemen Pemasyarakatan Tennessee membantah hal tersebut. Dalam keterangan resminya, lembaga itu menyatakan bahwa petugasnya telah mengikuti setiap protokol eksekusi sebagaimana diatur oleh undang-undang setempat.

Akan tetapi, menurut James Crowson, hal itu sebenarnya justru memperlihatkan bagaimana lembaga terkait melakukan eksekusi mati tanpa dasar ilmu medis. Mantan pengacara Pike itu menyebut bahwa hal ini sudah jadi kecenderungan otoritas pemasyarakatan di negara bagian yang memperbolehkan hukuman mati.

“Negara membuat protokol dan, biasanya, negara-negara yang cenderung menjatuhkan hukuman mati tidak benar-benar memasukkan ilmu kedokteran atau sains dalam diskusi ketika mereka membuat protokol ini,” katanya.

Peristiwa gagalnya eksekusi mati Christa Pike sendiri menjadi bencana bagi lembaga penegak hukum di Tennessee. Gubernur Tennessee Bill Lee memerintahkan peninjauan independen dan menghentikan eksekusi mati di negara bagian itu untuk sisa tahun ini.

Komisaris Departemen Pemasyarakatan Tennessee Frank Strada juga akan mengundurkan diri pada akhir Oktober imbas hal tersebut.

Sementara itu, apa yang akan terjadi pada Pike setelah insiden ini masih belum diputuskan. Crowson menduga hal tersebut akan bergantung pada apakah terpidana mati itu dapat selamat dari cedera yang kini ia derita akibat eksekusi yang gagal.

Crowson mengatakan ada peluang hukuman Pike akan diubah jadi penjara seumur hidup jika dapat selamat dari dampak eksekusi yang gagal. Namun, peluang itu juga beriringan dengan potensi kerusakan neurologis yang serius dan cedera permanen yang mungkin akan dialami Pike jika selamat.

Baca juga artikel terkait HUKUMAN MATI atau tulisan lainnya dari Rizal Amril Yahya

tirto.id - Flash News
Kontributor: Rizal Amril Yahya
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar