Menuju konten utama

Kemendag Bidik Ekspor Handicraft USD39,12 Juta ke Kanada

Kemendag menggandeng TFO guna memberikan fasilitas komprehensif bagi para pelaku UKM dalam negeri untuk mencapai target tersebut.

Kemendag Bidik Ekspor Handicraft USD39,12 Juta ke Kanada
Fajarini dalam sambutannya di Kementerian Perdagangan, Selasa (3/11/2026). tirto.id/Nanda
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kementerian Perdagangan menargetkan peningkatan pangsa pasar produk kerajinan tangan (handicraft) asal Indonesia di Kanada seiring dengan implementasi perjanjian dagang Indonesia-Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA).

Melalui kerja sama strategis dengan Trade Facilitation Office (TFO) Kanada, pemerintah membidik nilai ekspor sektor ini dapat menembus 39,12 juta dolar AS usai CEPA berlaku 1 Desember mendatang.

Dirjen Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan, Fajarini Puntodewi, mengungkapkan momentum perjanjian dagang ini merupakan kesempatan emas bagi produk kriya Indonesia untuk memperluas akses pasar di negara tersebut.

"Kita sudah apa namanya, FTA perjanjian CEPA, ya, dengan Kanada. Jadi, ini kesempatan yang bagus untuk kita memasok lebih besar lagi ke pasar tersebut," kata Fajarini dalam sambutannya di Kementerian Perdagangan, Selasa (3/11/2026).

Dia mengungkapkan pangsa pasar produk kerajinan tangan Indonesia di Kanada pada 2025 masih berada di kisaran 2,1 persen dengan nilai sekitar 26,5 juta dolar AS.

Dengan adanya program fasilitasi TFO dan dorongan yang masif, Kemendag menargetkan pangsa pasar tersebut dapat terkerek naik menjadi 3,1 persen pada tahun depan, yang jika dihitung setara dengan proyeksi nilai ekspor sebesar 39,12 juta dolar AS.

"Tahun kemarin itu 2025 (nilainya masih kecil), jadi ruang untuk didorong itu masih besar sih," kata Fajarini.

Ia pun menambahkan target peningkatan tersebut didasarkan pada analisis potensi pasar Kanada dan kapasitas produk dalam negeri.

Kemendag menggandeng TFO guna memberikan fasilitas komprehensif bagi para pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) dalam negeri untuk mencapai target ambisius tersebut.

Program ini dirancang untuk mendongkrak kapasitas bisnis (capacity building) dari hulu hingga hilir, mencakup aspek desain produk, pemahaman tren pasar, hingga penetapan harga (pricing).

Selain itu, proyek peningkatan ekspor ini dijalankan secara inklusif dengan memberikan porsi prioritas bagi kelompok rentan, khususnya pelaku usaha perempuan serta sektor usaha mikro dan kecil.

"Project ini juga dilakukan secara inklusif, ya. Jadi, mengutamakan pelaku usaha perempuan dan juga yang kecil dan menengah," kata Fajarini.

Di samping produk kerajinan tangan (handicraft) dan furniture yang menjadi fokus utama saat ini, pemerintah juga tengah menganalisis potensi ekspor komoditas sektor pertanian (agriculture), makanan-minuman, hingga produk penunjang lainnya guna memperkuat neraca perdagangan ekspor nasional ke kawasan Amerika Utara.

Baca juga artikel terkait EKSPOR atau tulisan lainnya dari Nanda Aria

tirto.id - Flash News
Reporter: Nanda Aria
Penulis: Nanda Aria
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama