tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan baja sebagai salah satu komoditas unggulan Indonesia tengah menghadapi tantangan tingginya bea masuk di negara tujuan ekspor, terutama negara-negara Barat.
Menurut Airlangga, Amerika Serikat (AS), Uni Eropa, dan Inggris sama-sama mengenakan tarif hingga 50 persen terhadap produk baja Indonesia.
"Untuk baja karena kita juga punya kekuatan besar di stainless steel, Amerika Serikat (AS) mengenakan biaya masuk 50 persen, Eropa 50 persen, Inggris enggak mau kalah 50 persen juga," ujar Airlangga dalam Seminar Nasional Green Economy 2045 di Hotel Aryaduta Menteng, Selasa (29/9/2026).
Khusus AS, Airlangga menjelaskan produk besi dan baja Indonesia tidak mendapatkan tarif preferensial 19 persen. Komoditas tersebut masuk dalam ketentuan Section 232 yang membuat seluruh produk baja Indonesia dikenakan tarif 50 persen.
Karena itu, Airlangga meminta AS dan negara-negara Barat menerapkan kebijakan yang lebih adil terhadap produk baja Indonesia.
"Asal, saya bilang, level playing field. Kalau satu negara 50 persen, sedunia kena 50 persen, kita masih tetap bisa bersaing. Yang kita enggak bisa bersaing kalau kita kena 50 persen sendirian. Nah, itu sulit untuk bersaing," katanya.
Meski menghadapi tarif tinggi, ekspor besi dan baja Indonesia masih tumbuh. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), nilai ekspor komoditas tersebut pada Januari-Juli 2026 mencapai 16,54 miliar dolar AS, naik 2,77 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 16,10 miliar dolar AS.
Selain baja, Airlangga mengatakan sejumlah komoditas mineral kritis Indonesia juga dikenakan tarif hingga 50 persen oleh negara-negara Barat. Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan kekhawatiran negara lain terhadap kemampuan produksi komoditas Indonesia.
"Jadi kalau kita mempunyai kemampuan kuat pasti negara lain akan khawatir," imbuhnya.
Penulis: Mukhtar Abdullah
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































