Menuju konten utama

Keliru, 2000 Orang Dikarantina Akibat Pes Pneumonik di Rusia

Faktanya, jumlah orang yang dikarantina di Rusia dilaporkan sekitar 200 orang, bukan lebih dari 2.000 orang.

Keliru, 2000 Orang Dikarantina Akibat Pes Pneumonik di Rusia
Header Perkisa Fakta Wabah Pes Pneumonik. tirto.id/Fuad
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Beredar di media sosial Facebook unggahan mengklaim bahwa wabah pes pneumonik di Rusia lebih mematikan daripada COVID-19 dan menyebabkan lebih dari 2.000 orang menjalani karantina.

Unggahan tersebut disebarkan oleh akun Facebook “Mas Khotib” (arsip) pada Kamis (8/10/2026). Dalam gambar tersebut menampilkan model 3D virus berwarna hijau yang digunakan sebagai latar belakang gambar, yang sebenarnya merupakan ilustrasi dari virus Corona (SARS-CoV-2) atau virus flu lainnya.

“WABAH PES PNEUMONIK DI RUSIA DISEBUT LEBIH MEMATIKAN DARI COVID, LEBIH DARI 2000 ORANG DI KARANTINA.” Begitu narasi tertulis dalam unggahan.

Pengunggah juga menuliskan dalam unggahan, “BREAKING NEWS.. Wabah pes pneumonik di Rusia disebut lebih mematikan dari COVID , lebih dari 2000 orang di karantina publik.”

Sampai artikel ini ditulis pada Selasa (20/10/2026), unggahan tersebut telah mendapatkan 2 tanda suka, 5 komentar, dan 1 kali dibagikan ulang.

Tirto juga menemukan unggahan serupa pada akun Facebook “AuraTech Media,” yang menampilkan gambar serupa disertai narasi adanya laporan mengenai kemunculan wabah pes pneumonik di wilayah Rusia dan pemerintah setempat langsung mengambil tindakan tegas dengan mengkarantina lebih dari 2.000 orang yang diduga melakukan kontak erat atau berada di zona berisiko tinggi.

Lantas, benarkah pemerintah Rusia mengkarantina 2000 orang akibat pes pneumonik di Rusia?

Perkisa Fakta Wabah Pes Pneumonik

Perkisa Fakta Wabah Pes Pneumonik.

Penelusuran Fakta

Sebagai informasi Pes pneumonik (pneumonic plague) adalah bentuk infeksi penyakit pes yang paling berat dan menyerang organ paru-paru. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Pes pneumonik yang disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis memang memiliki tingkat kefatalan (case fatality rate) yang jauh lebih tinggi daripada COVID-19 jika tidak diobati.

Lebih lanjut, untuk memverifikasi kebenaran klaim, pertama-tama Tirto melakukan pencarian gambar terbalik (reverse image) dengan menggunakan mesin pencarian Google. Hasilnya tidak ditemukan informasi dari media kredibel yang membenarkan klaim bahwa saat ini sedang terjadi wabah besar atau lepasnya virus mematikan secara luas seperti narasi yang beredar di media sosial tersebut.

Tirto justru diarahkan pada situs resmi dari Deutsche Welle dw.com, yaitu lembaga penyiaran publik internasional milik pemerintah Jerman yang menyatakan bahwa seorang petugas badan peneliti wabah di Siberia, Rusia, meninggal dunia. Hampir 200 orang yang melakukan kontak kini dalam pengawasan medis. Namun, otoritas Rusia membantah adanya kaitan dengan infeksi bakteri pes.

Pemerintah Rusia menyatakan bahwa kematian pekerja laboratorium tersebut diduga tertular setelah terkena pecahan tabung uji yang rusak, dan tidak disebabkan oleh patogen penyakit pes. Badan pengawas kesehatan Rusia Rospotrebnadzor juga menyatakan bahwa petugas yang merupakan perempuan berusia 28 tahun tersebut meninggal akibat pneumonia dengan penyebab yang masih belum diketahui.

Senada dengan itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga melaporkan bahwa pada 10 Oktober 2026 seorang pegawai Institut Penelitian Antipes di Irkutsk, Siberia, Rusia, meninggal pada 2 Oktober setelah dirawat akibat pneumonia berat, tetapi penyebab pasti kematiannya belum terkonfirmasi.

Menurut WHO, otoritas Rusia menyatakan bahwa pemeriksaan terhadap pasien dan orang-orang yang melakukan kontak dengannya tidak menemukan patogen berisiko tinggi yang diuji, serta tidak ada kasus pneumonia berat lain yang terkait dengan kejadian tersebut.

WHO juga menyatakan bahwa hingga laporan tersebut diterbitkan, pihaknya belum menemukan bukti adanya penularan yang sedang berlangsung terkait peristiwa itu, meskipun diagnosis pasti terhadap pegawai yang meninggal masih belum diketahui.

Laman Reutersturut memberitakaninformasi terkait kasus tersebut pada 7 Oktober 2026. Reuters menyebutkan bahwa sekitar 200 orang sempat dikarantina sebagai tindakan pencegahan, bukan lebih dari 2.000 orang sebagaimana yang diklaim dalam unggahan.

Reuters juga melaporkan bahwa hampir 5.000 tes terhadap sekitar 200 orang yang dikarantina tidak menemukan infeksi berbahaya yang diperiksa, sehingga otoritas Rusia mulai melonggarkan langkah-langkah pencegahan.

Dengan demikian, informasi mengenai karantina memang berkaitan dengan peristiwa nyata di Rusia, tetapi jumlahnya dalam gambar tidak sesuai dengan laporan media kredibel yang ditemukan, dan kejadian tersebut tidak membuktikan adanya wabah pes pneumonik.

Selain itu, WHO menjelaskan bahwa pes merupakan penyakit infeksi akibat bakteri Yersinia pestis yang dapat ditularkan melalui gigitan kutu terinfeksi, kontak dengan jaringan terinfeksi, atau partikel pernapasan pada kasus pes pneumonik.

WHO menyebut pes pneumonik sebagai salah satu bentuk pes yang paling berbahaya karena dapat menular antar manusia melalui partikel pernapasan, terutama ketika diagnosis dan penanganan terlambat.

Meski demikian, pes pneumonik dapat diobati dengan antibiotik apabila terdeteksi dan ditangani secara cepat, sehingga tingkat kematian tidak dapat dinilai tanpa mempertimbangkan akses terhadap pengobatan dan kondisi pasien.

Adapun klaim bahwa penyakit tersebut lebih mematikan daripada COVID-19 tidak dapat dibuktikan hanya dengan membandingkan tingkat kematian dari kondisi yang berbeda, terlebih karena penyebab kematian pegawai laboratorium di Rusia belum dipastikan sebagai pes pneumonik.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelusuran, klaim yang menyebut wabah pes pneumonik di Rusia lebih mematikan daripada COVID-19 dan menyebabkan lebih dari 2.000 orang dikarantina bersifat salah dan menyesatkan (false and misleading).

Faktanya, jumlah orang yang dikarantina di Rusia dilaporkan sekitar 200 orang, bukan lebih dari 2.000 orang. Peristiwa tersebut disebabkan kematian seorang pegawai laboratorium di Rusia

Karantina dilakukan terhadap orang-orang yang melakukan kontak dengannya, tetapi penyebab kematiannya belum terkonfirmasi sebagai pes pneumonik.

Selain itu, narasi yang menyatakan Rusia sedang menghadapi wabah pes pneumonik yang lebih mematikan daripada COVID-19 tidak didukung oleh bukti yang tersedia dari WHO dan laporan media kredibel.

==

Bila pembaca memiliki saran, ide, tanggapan, maupun bantahan terhadap klaim Periksa Fakta dan Decode, pembaca dapat mengirimkannya ke email factcheck@tirto.id.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA KESEHATAN atau tulisan lainnya dari Tim Riset Tirto

tirto.id - Periksa Fakta
Penulis: Tim Riset Tirto
Editor: Tim Riset Tirto