Menuju konten utama

Kejar Cadangan 60 Hari, Storage Minyak Akan Dibangun di Sumatra

Pemerintah berencana membangun fasilitas penyimpanan minyak mentah di Sumatra. Proyek ini ditargetkan mampu menampung cadangan hingga 60 hari.

Kejar Cadangan 60 Hari, Storage Minyak Akan Dibangun di Sumatra
Menko Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia (kanan) bersama Menteri Keuangan Suahasil Nazara berjalan usai mengikuti rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (2/11/2026). ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/nz
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Pemerintah Indonesia berencana membangun fasilitas penyimpanan (storage) minyak mentah (crude oil) di sejumlah wilayah Pulau Sumatra. Proyek strategis ini ditargetkan mampu mengamankan cadangan minyak impor hingga kurun waktu 60 hari ke depan guna merespons dinamika ketidakpastian geopolitik global.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, mengungkapkan inisiatif tersebut merupakan langkah mitigasi dini pemerintah dalam mengantisipasi potensi gangguan pasokan energi internasional.

“Kita akan membangun storage beberapa di wilayah Sumatra untuk ketika kita melakukan impor crude, itu semuanya bisa ada tempatnya di atas 20 hari. Target kita bisa sampai dengan 60 hari,” kata Bahlil seusai rapat terbatas dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (3/11/2026).

Bahlil memaparkan, tahap studi kelayakan rekayasa (engineering feasibility study/EFS) untuk proyek fasilitas penyimpanan ini telah rampung.

Pemerintah selanjutnya akan memulai tahapan peninjauan lapangan guna memvalidasi titik lokasi potensial pada akhir tahun ini.

Pemilihan kawasan pembangunan akan dilakukan secara ketat dengan memprioritaskan aspek mitigasi bencana dan keamanan kawasan, termasuk memperhitungkan potensi kerawanan gempa bumi serta stabilitas keamanan lokal.

Faktor keselamatan operasional infrastruktur migas nasional menjadi pertimbangan mutlak agar fasilitas penyimpanan vital tersebut tidak berdiri di zona berisiko bencana tinggi.

“Di akhir tahun ini akan memulai untuk kita mengecek lokasinya dari sisi keamanan, baik dalam konteks gempanya maupun keamanan lokalnya,” ujarnya.

Melalui pembangunan infrastruktur ini, pemerintah berambisi untuk mendongkrak kapasitas cadangan penyangga energi nasional agar berangsur mendekati standar minimum global, yakni kepemilikan cadangan operasional selama 90 hari.

“Standar minimum dunia itu kan di tiga bulan, 90 hari. Jadi kita akan mendekati ke sana. Minimal kalau tidak sama, minimal mendekati ke sana,” jelas Bahlil.

Baca juga artikel terkait IMPOR MINYAK atau tulisan lainnya dari Qonita Azzahra

tirto.id - Flash News
Reporter: Qonita Azzahra
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Mochammad Fajar Nur