tirto.id - Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia, Anindya Novyan Bakrie mengungkapkan, geopolitik dunia bukan hanya urusan diplomat dan bidang pertahanan semata, melainkan juga menjadi urusan bagi para pelaku di sektor usaha.
Ia lantas merincikan, terdapat enam tekanan ekonomi global yang memberi dampak terhadap geliat ekonomi di dalam negeri. Dimulai dari gejolak geopolitik, harga energi, perdagangan dunia melambat, disrupsi rantai pasok, perang dagang, perlombaan ekonomi hingga disrupsi teknologi.
“Pertama jelas dengan gejolak geopolitik ini, ada harga energi yang tinggi. Harga minyak brent kita tahu sempat menembus 126 dolar, sekarang pun masih sekitar 102 dolar,” ungkap Anindya Bakrie dalam acara organisasi tersebut di Gedung Trigata Lemhanas, Jakarta, Sabtu (10/10/2026).
Menurutnya, kondisi itu bukan hanya menyulitkan pertumbuhan ekonomi, tapi memunculkan fluktuasi hingga membuat menjadi tidak mudah untuk melakukan prediksi. Jadi, tak hanya berpengaruh pada harga, melainkan pergerakan atau fluktuasinya.
Kedua, lanjut Nandya Bakrie, adalah disrupsi rantai pasokan. Sejak adanya gejolak di Selat Hormuz, ongkos untuk memakai perjalanan bisnis melalui jalur laut mengalami kenaikan hingga mendapat 50 persen.
“Ini menyebabkan premi risiko karena perang melonjak sampai 0,25 sampai 1 persen daripada harga logistik, sehingga absolutnya bisa mencapai 5 persen, dan ini tentunya akan mengganggu inflasi, tentunya kemampuan penjual dan dari sisi pelanggan membeli,” lanjutnya.
Lalu ketiga, adanya perang dagang. Ia menaksir, estimasi kerugian output ekonomi global akibat perang dagang bahkan mencapai USD 2 triliun sampai akhir 2027. Hal ini berkaitan dengan kondisi ekonomi dunia belum stabil.
“Karena dianggap masih banyak sekali dinamisme di Timur Tengah, Ukraina, dengan Rusia, dan lain-lain, angkanya 2 triliun US Dollar. Dan ekspor kita ke Amerika itu ikut menanggung, jumlahnya sampai USD 28 miliar per tahun yang dikenai tarif 19 persen,” ucapnya.
Anindya Bakrie melanjutkan, tekanan ekonomi keempat, pihaknya melihat perdagangan dunia makin melambat. Padahal semula ada pertumbuhan mencapai 4,6 persen, tetapi saat ini hanya berkisar pada 1,9 persen. Hal ini menunjukkan anjloknya proyeksi perdagangan dunia 2026 pada era proteksionisme.
Lalu faktor kelima, adanya perlombaan investasi dengan Arus Foreign Direct Investment (FDI) global 2025 yang diperebutkan semua negara. Namun arus yang masuk ke Asia Tenggara dinilai stagnan dengan capaian nilai USD 228 miliar.
“Di sini ada [investasi] USD1,6 triliun yang diperebutkan, dan khusus menengok Asia Tenggara di mana kita berada, itu kebagian 228 miliar, jadi sekitar 15 persen,” terangnya.
Jadi, kata Nandya Bakrie, sekalipun pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara sedang bagus, tapi karena perebutan tersebut, Indonesia juga kurang lebih hanya mendapatkan nilai investasi 15 persen.
“Dan yang terakhir, disrupsi teknologi, yang sekarang sering dengar artificial intelligence. Jumlahnya bisa membuat pasar baru USD 1,5 triliun, tapi karena semi-kontrolnya banyak di luar negeri, tepatnya Amerika dan China, Taiwan, ya, ini tentu bisa menjadi penguasa pemenang-pemenang ekonomi yang baru,” ucapnya.
Indonesia Belum Keluar Middle-income Trap
Anindya Bakrie lalu melanjutkan tentang kondisi ekonomi dan dunia usaha di Indonesia. Menurutnya, sektor ekonomi dalam negeri ada pertumbuhan, meski berada di tengah-tengah segala macam guncangan new normal. Pertumbuhan mencapai 5,29 persen di kuartal dua 2026.
Kondisi itu, lanjutnya, menandakan bahwa negara Indonesia menjadi salah satu penyumbang growth di dunia. Namun, dirinya setuju dengan pernyataan Presiden Prabowo yang menilai kondisi tidak cukup.
“Dan memang benar [tidak cukup], kalau kita ingin keluar dari middle income trap kita, dari 5.000 dolar per kapita, harus bisa menjadi 15.000, naik 3 kali lipat dalam waktu 20 tahun. 5.000 menjadi 15.000 20 tahun, oleh karenanya dibutuhkan 8 persen pertumbuhan ini,” jelas Anindya Bakrie.
Sementara itu untuk angka ekspor dalam negeri mencapai $282 miliar. Perolehan kegiatan ekspor dari sektor usaha batubara, kelapa sawit, dan besi atau stainless steel saat ini mencapai $60 miliar.
“Sisanya $240 miliar dolar itu yang banyak diproduksi oleh pemain-pemain lainnya, termasuk pemain-pemain dari UMKM. Jadi di KADIN, fokus kami adalah bagaimana 240 miliar dolar itu bisa terus tumbuh sampai kepada pemain yang kita petakan,” jelasnya.
Anindya Bakrie juga menepis anggapan bahwa investor asing menjauhi Indonesia. Faktanya terdapat sekira 27,5 persen modal asing masuk lebih daripada tahun lalu di kuartal dua 2026.
“Dan kita juga melihat bahwa penyerapan tenaga kerja terus tercapai, memang kita butuh 4 juta per tahun untuk bisa mempertahankan 5 persen, 6 persen, dan pada saat ini kita sudah menyerap 1,4 juta, jadi masih banyak kejar keras yang mesti kita lakukan,” ucapnya.
Penulis: Muhammad Nizar
Editor: Dipna Videlia Putsanra
Masuk tirto.id







































