tirto.id - Suara bising dari sebuah bengkel sederhana di Dusun Gayasan, Desa Jenggawah, Jember, belakangan ini membawa angin segar bagi ketahanan pangan lokal. Di sana, para pemuda desa yang tergabung dalam Gayasan Squad sukses merakit peranti penjinak kelangkaan energi: mengubah gas hasil proses arang limbah menjadi nyala api biru yang siap menjaga dapur masyarakat tetap ngebul tanpa ketergantungan pada LPG.
Daya kerja ini berangkat dari arang yang selama ini lebih banyak digunakan sebagai bahan bakar sederhana atau dijual dengan harga relatif rendah. Potensi tersebut pun dilirik oleh sekelompok pemuda di Kabupaten Jember, Jawa Timur.
Gayasan Squad kemudian menggagas perangkat untuk mengubah gas hasil proses arang menjadi nyala api layaknya kompor rumah tangga.
Namun, di balik inovasi tersebut, aspek keamanan, efisiensi, dan kemudahan penggunaan masih menjadi pekerjaan yang harus diselesaikan.
Menjinakkan Limbah Murah demi Dapur Tetap Ngebul

Koordinator Gayasan Squad, Ahmad Syaifuddin yang akrab disapa Asep, menjelaskan bahwa ide pembuatan kompor tersebut berangkat dari keinginan menghadirkan alternatif ketika pasokan LPG mengalami kelangkaan. Mereka juga berupaya memanfaatkan arang sortiran yang memiliki nilai jual lebih rendah dibandingkan arang berkualitas baik.
Inovasi tersebut menjadi salah satu contoh upaya masyarakat mengembangkan pemanfaatan energi dari sumber daya yang tersedia di lingkungan sekitar.
Di bengkel tempat mereka mengembangkan perangkat tersebut, Asep menjelaskan cara kerja kompor yang dirancangnya. Arang dimasukkan ke dalam tabung reaktor untuk menjalani proses tertentu, kemudian gas yang dihasilkan dialirkan melalui saluran menuju burner hingga menghasilkan api.
"Gas yang saya pakai ini namanya DME, dimethyl ether. Jadi saya bikin kompor DME, mekanismenya memanfaatkan gas yang terbentuk dari proses arang untuk menyalakan api seperti kompor gas pada umumnya," kata Asep saat dikonfirmasi sejumlah wartawan di rumahnya, Senin (19/10/2026).
Menurut Asep, perangkat tersebut dirancang agar dapat dihubungkan dengan kompor rumah tangga melalui konektor tertentu. Dengan konsep itu, pengguna tidak harus membeli kompor khusus untuk mencoba teknologi yang masih dikembangkan tersebut.
"Enggak harus ada kompor tertentu. Kita hanya menggantikan gas LPG dengan gas yang terbuat dari proses arang ini. Tapi ini sebenarnya hanya untuk alternatif ketika ada kelangkaan LPG," ujarnya.
Bahan bakar yang dipilih juga menjadi bagian menarik dari eksperimen tersebut. Gayasan Squad menggunakan arang sortiran atau arang yang sudah hancur, bukan arang berkualitas tinggi yang biasanya memiliki nilai jual lebih baik.
"Ini murni arang. Dan ini arang bukan arang yang bagus. Ini arang limbah," kata Asep.
Arang sortiran yang mereka gunakan disebut memiliki harga sekitar Rp1.000 hingga Rp1.300 per kilogram. Pemanfaatan bahan tersebut diharapkan dapat memberikan nilai tambah bagi material yang sebelumnya kurang bernilai secara ekonomi.
Pada pengujian awal, tabung reaktor yang digunakan memiliki kapasitas sekitar tiga kilogram arang. Gayasan Squad melakukan uji nyala selama kurang lebih satu jam untuk mengamati kemampuan perangkat mempertahankan api sekaligus memperkirakan jumlah arang yang digunakan.
"Untuk durabilitasnya masih belum tahap jauh. Yang sudah kita coba, dari kita isi penuh, kita uji sampai satu jam dan yang terbakar ternyata enggak banyak. Mungkin bisa dibilang cukup irit untuk pemakaian arangnya," tuturnya.
Meski api sudah dapat menyala, Asep mengakui bahwa pengembangan perangkat tersebut masih berada pada tahap penelitian dan pengembangan atau research and development (R&D). Pengujian yang dilakukan belum cukup untuk memastikan tingkat efisiensi, ketahanan, keamanan, maupun kualitas gas yang dihasilkan.
"Ini masih dalam tahap R&D, trial. Alhamdulillah sudah bisa menyala. Ke depan mungkin akan kita tingkatkan lagi dari segi simpelnya, cara menyalakannya supaya bisa semudah kompor gas LPG pada umumnya," kata Asep.
Dari sisi biaya, Asep memperkirakan perangkat itu nantinya dapat dibuat dengan kisaran harga Rp2,5 juta. Namun, angka tersebut belum menjadi harga final karena desain dan konstruksi alat masih terus disempurnakan.
Menguji Racikan Api: Keamanan Harus Jadi Prioritas
Inovasi Gayasan Squad mendapat tanggapan positif dari Prof. Soni Sisbudi Harsono, dosen sekaligus guru besar Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Jember (Unej) yang memiliki keahlian di bidang energi terbarukan.
Menurut pria yang juga Tim Ahli Khusus Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (PDT) RI itu.
Berbekal pengalaman meneliti bahan bakar dari biomassa serta mengembangkan briket, pelet, dan kompor. Ia menilai gagasan para pemuda tersebut layak diapresiasi. Meski demikian, menurut dia, ide yang menarik harus diikuti pengujian dan penyempurnaan sebelum digunakan secara luas oleh masyarakat.
"Oh iya iya, pertama kita harus apresiasi dulu. Apresiasi itu penting, karena ide itu mahal, Mas. Ide itu kalau bagi saya nilainya itu ya 80 ke atas ya kalau mahasiswa. Idenya penting," ujar Prof. Sony saat dikonfirmasi terpisah.
Ia mengingatkan bahwa keberhasilan menghasilkan api belum otomatis membuktikan sebuah kompor layak digunakan untuk memasak sehari-hari. Perangkat tersebut harus diuji bersama tenaga ahli agar kinerjanya dapat diketahui secara objektif.
"Tetapi ketika pelaksanaan itu harus di-crooscheck ulang dengan tenaga, apa, dengan orang lain yang memahami atau belajar dan sebagainya," katanya.
Menurut Prof. Sony, tantangan pengembangan teknologi tidak hanya terletak pada kemampuan menghasilkan energi, tetapi juga bagaimana membuat alat tersebut mudah dioperasikan. Kompor alternatif yang terlalu rumit berisiko ditinggalkan masyarakat meskipun gagasannya menarik.
Ia pun mengingatkan agar inovasi yang sedang dikembangkan tidak menimbulkan kesan bahwa teknologi energi alternatif selalu sulit digunakan dibandingkan kompor yang sudah dikenal masyarakat.
"Nah, itu jangan sampai ada image itu, tapi saya menghormati teman-teman dari Gayasan, Jenggawah nggih. Iya, jadi ini penting digalakkan, penyempurnaan saya kira wajar, itu namanya pengetahuan, enggak ada pengetahuan yang langsung jadi, kalau langsung jadi kan malaikat nanti," ujarnya dalam wawancara.
Hal paling penting, menurut dia, adalah keselamatan pengguna. Kompor merupakan peralatan yang berhubungan langsung dengan api dan digunakan untuk memasak di lingkungan rumah tangga.
Karena itu, risiko kebakaran maupun gangguan akibat pengoperasian yang tidak tepat harus menjadi pertimbangan sejak tahap pengembangan.
"Ya tapi mudah-mudahan bisa dikembangkan berlanjut, itu bagus itu untuk penemuan kayak tingkat lokal bagus, bisa dikembangkan, cuma apakah ada testimoni? Nah, ini pertanyaan dari wartawan, gitu ya. Nggih. Apakah sudah dicoba masyarakat, apakah sudah aman? Nah, itu aman nomor satu, jadi karena apa, namanya kompor untuk masak, masak kan harus gini," katanya sembari menunjukkan jari jempol.
Prof. Sony juga menyoroti kemungkinan penggunaan blower untuk membantu proses kerja perangkat. Menurut dia, pengembang perlu mengantisipasi situasi ketika sumber listrik terputus atau alat bantu tersebut berhenti bekerja.
"Apakah harus ditekan? Iya, dengan blower ya. Dengan blower, lah blowernya kalau mati gimana? Listrik kalau mati gimana? Itu juga dipikirkan," ujarnya.
Ia menyebut sejumlah kemungkinan yang perlu dikaji, termasuk penggunaan baterai atau aki. Namun, setiap pilihan harus diperhitungkan agar kebutuhan energi tambahan tidak justru membuat penggunaan kompor menjadi lebih mahal atau mengurangi manfaat yang ingin dicapai.
Selain keamanan dan efisiensi, Prof. Sony mendorong agar pengembangan dilakukan melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi maupun lembaga yang memiliki keahlian terkait.
Menurut dia, sumber biomassa di Indonesia sangat beragam, mulai dari limbah padi, kulit kopi, sekam, hingga sisa kayu yang berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
"Limbah biomassa itu banyak di negeri kita kan, mulai dari padi, kulit kopi, sekam, kayu bakar dan sebagainya. Nah, itu yang harus digunakan supaya bermanfaat untuk masyarakat, tapi dengan catatan jangan sampai memberatkan masyarakat, nanti enggak harus apa, briket atau enggak kompor, tapi harus bisa membuat nyaman, aman gitu ya, dan lebih baik daripada yang sudah ada, begitu tuh," katanya.
Ia juga menyatakan terbuka untuk berdiskusi dengan Gayasan Squad guna melihat langsung peralatan yang dikembangkan dan mengidentifikasi hal-hal yang masih perlu diperbaiki. Meski menyambut positif gagasan tersebut, ia menegaskan perlunya pemeriksaan lebih lanjut sebelum menyimpulkan bahwa perangkat sudah efisien dan aman.
"Cuman masalah efisiensi atau tidak, saya harus mengecek ulang, gitu ya," ujarnya.
Mengetuk Pintu Birokrasi dan Jalan Panjang Uji Kelayakan
Kelompok Pemuda Gayasan Squad merancang perangkat yang mengubah gas hasil proses arang menjadi nyala api layaknya kompor rumah tangga. (Sumber: Jember Yang Itu)

Dari sisi pemerintah lokal, Camat Jenggawah, Agus Sucahyo, turut memberikan perhatian terhadap inovasi yang dikembangkan Asep dan kelompoknya. Ia menilai gagasan tersebut berpotensi ditindaklanjuti melalui koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan lembaga terkait.
"Mungkin ini sebuah inovasi yang diciptakan oleh seorang pemuda desa dari Dusun Gayasan, Desa Jenggawah. Ini mungkin ada perluasan dari pemerintah, utamanya pemerintah kabupaten, dan nanti akan kita koordinasikan dengan Bappeda dalam rangka lebih memaksimalkan temuan-temuan atau inovasi ini," ujar Agus.
Agus juga membuka peluang agar inovasi tersebut dikaji lebih lanjut oleh lembaga yang berwenang di bidang perencanaan, riset, dan inovasi daerah. Ia menyebut kemungkinan perlindungan kekayaan intelektual apabila hasil pengembangan tersebut memenuhi persyaratan.
"Saya kira nanti ada semacam di badan perencanaan riset daerah yang akan mengkaji dan bisa menyampaikan atau mendaftarkan hak ciptanya dari Mas Asep ini supaya menjadi pengakuan yang memang layak untuk kemanfaatan," katanya.
Meski demikian, kompor berbahan arang yang dikembangkan Gayasan Squad belum dapat dinyatakan sebagai pengganti LPG yang siap digunakan secara luas.
Klaim mengenai komposisi gas, efisiensi energi, emisi, ketahanan alat, dan keselamatan pembakaran masih membutuhkan pengujian teknis yang terukur. Gas yang dihasilkan dari proses arang juga perlu diidentifikasi secara pasti sebelum karakteristik dan kelayakannya dinilai.
Bagi Gayasan Squad, perjalanan pengembangan kompor ini masih panjang. Kemampuan menghasilkan nyala api menjadi langkah awal, sedangkan pembuktian keamanan, kemudahan pengoperasian, dan biaya penggunaan akan menentukan apakah inovasi tersebut benar-benar bermanfaat bagi masyarakat.
Dari arang sortiran yang selama ini memiliki nilai ekonomi rendah, para pemuda Jember itu mencoba membuka kemungkinan pemanfaatan baru. Namun, seperti diingatkan Prof. Sony, inovasi energi rumah tangga tidak cukup hanya dapat menyala. Teknologi tersebut harus aman, efisien, mudah digunakan, dan terjangkau sebelum layak menjadi alternatif bagi kebutuhan memasak masyarakat.
============
Jember Yang Itu adalah akun IG City Info yang merupakan bagian dari #KolaborasiJangkarByTirto.
Penulis: Jember Yang Itu
Editor: Siti Fatimah
Masuk tirto.id

































