tirto.id - Total emisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) Indonesia yang dihasilkam sepanjang 2026 telah mencapai tingkat tertinggi dalam pemantauan menurut Layanan Pemantauan Atmosfer Copernicus (CAMS). Kendati belum jadi yang paling tinggi, namun karhutla tahun ini disebut telah menjadi salah satu fenomena kebakaran dengan dampak emisi paling parah dalam 24 tahun terakhir.
Badan Uni Eropa untuk Program Antariksa sebelumnya merilis temuan tersebut pada Selasa (20/10/2026) melalui laman resminya. Temuan ini didasarkan pada hasil peninjauan sistem pengamatan Bumi milik Uni Eropa, Copernicus.
“Emisi dari kebakaran hutan di Indonesia dari Januari hingga September 2026 termasuk yang tertinggi dalam 24 tahun terakhir,” tulis Badan Uni Eropa untuk Program Antariksa
Temuan tersebut kini jadi salah satu gambaran terbaru tentang skala dampak kobaran api yang membakar jutaan hektare lahan dan hutan yang memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut di berbagai wilayah. Dampak lainnya turut mengganggu aktivitas ekonomi penduduk di berbagai lokasi.
Temuan tentang tingginya tingkat emisi yang dihasilkan karhutla tahun ini di Indonesia juga sejalan dengan prakiraan sebagian ilmuwan. Sebelumnya, pada pertengahan September lalu, Carbon Brief merilis laporan yang menunjukkan adanya kesamaan pola dampak karhutla tahun ini dengan bencana serupa pada 2015 lalu.
Sejauh ini, karhutla yang terjadi pada 2015 merupakan kebakaran di Indonesia dengan dampak terbesar. Kala itu, 2,6 juta hektare lahan diperkirakan telah terbakar di seluruh negeri sampai menghasilkan sekitar 333 juta ton karbon (MtC).
Peneliti Universitas Wageningen Belanda, Guido van der Werf, menyebut bahwa kebakaran yang melanda Indonesia tahun ini “kurang lebih berada di jalur” yang sama untuk mencapai tingkat karhutla 2015 lalu. Hal ini diungkapkan van der Werf kepada Carbon Brief.
El Nino Bukan Pemicu Tunggal Karhutla di Indonesia
Fenomena El Nino sejauh ini telah digambarkan sebagai pemicu utama peningkatan skala dampak karhutla di Indonesia pada tahun ini. Namun, fenomena alam musiman itu bukan pemicu tunggal munculnya kebakaran dalam skala yang luar biasa.
Dalam keterangannya, Nisa Novita dari Yayasan Konservasi Alam Nusantara menyebut El Nino “tidak secara langsung menyebabkan sebagian besar kebakaran”.
Fenomena itu disebut Nisa lebih bertindak sebagai penguat kemunculan kebakaran karena menciptakan “kondisi yang lebih panas dan kering, membuat kebakaran lebih mudah terjadi, menyebar lebih cepat, dan jauh lebih sulit dikendalikan”.
Alih-alih terjadi hanya karena El Nino, Nisa menyebut karhutla dalam skala besar juga besar dipengaruhi oleh penurunan kualitas ekosistem gambut di Indonesia.
“Ketika lahan gambut terdegradasi dan dikeringkan karena pembangunan kanal untuk pertanian, permukaan air tanah turun, membuat gambut kering dan sangat mudah terbakar terutama selama musim kemarau atau peristiwa El Nino, seperti sekarang,” katanya, dikutip Carbon Brief, Jumat (11/9).
Pada awal Oktober lalu, organisasi lingkungan Greenpeace turut merilis dugaan keterkaitan karhutla di Indonesia tahun ini dengan operasional korporasi lintas negara. Sebanyak 20 perusahaan asal Indonesia, Malaysia, dan Singapura diduga terkait dengan fenomena kebakaran yang terjadi.
Dalam siaran pers Greenpeace, pada periode 8 Agustus-20 September 2026, lebih dari 1.000 titik api yang teridentifikasi terletak di lahan konsesi yang digunakan perusahaan. Lahan konsesi itu termasuk ratusan lahan konsesi izin pemanfaatan hutan dan ratusan lahan konsesi perkebunan sawit.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id

































