tirto.id - Dinas Kesehatan Sumatra Selatan mewaspadai potensi lonjakan kasus dengue seiring berakhirnya El Nino dan masuknya musim hujan. Penyakit ini menjadi perhatian karena tingkat kematiannya cukup tinggi.
Data Dinkes Sumsel mencatat jumlah kasus dengue di Sumsel periode Januari hingga 2 November 2026 sebanyak 3.732 kasus. Pasien terbanyak berada di Palembang berjumlah 830 kasus, kemudian Muara Enim 617 kasus, dan Banyuasin 485 kasus.
Dari total kasus dengue yang terjadi, 21 orang di antaranya meninggal dunia. Mereka berasal dari Muara Enim dan Banyuasin masing-masing 5 kasus, Musi Banyuasin 3 kasus, Lubuklinggau 2 kasus, Ogan Ilir, Lahat, Ogan Komering Ulu, Pagaralam, Penukal Abab Lematang Ilir, dan Palembang masing-masing 1 kasus.
Berdasarkan temuan Dinkes Sumsel, kasus kematian disebabkan banyak faktor, utamanya keterlambatan pasien dirawat di rumah sakit saat kondisinya sudah mengalami Dengue Shock Syndrome (DSS) dan adanya penyakit penyerta yang memperparah kondisi pasien.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Sumsel, Ira Primadesa, mengungkapkan kasus dengue masih menjadi ancaman serius karena dapat dialami semua kelompok umur dan mematikan. Dari tahun ke tahun, kasus kematian akibat penyakit ini cukup tinggi.
Pada 2023, terjadi 22 kasus kematian dan meningkat pada 2024 sebanyak 37 kasus. Kematian menurun pada 2025 berjumlah 20 kasus dan tahun ini hingga awal November sudah ada 21 kasus.
"Kasus kematian dengue di Sumsel cukup tinggi. Dari 3.732 kasus dengue hingga 2 November kemarin, ada 21 kasus kematian," ungkap Ira, Selasa (3/11/2026).
Menurut dia, ancaman lonjakan kasus dengue bakal terjadi pada Desember 2026-Januari 2027. Pasca El Nino, risiko cuaca ekstrim bakal terjadi di Sumsel, seperti peningkatan suhu dan curah hujan semakin tinggi pada dua bulan tersebut.
"Semakin tinggi suhu bumi, maka semakin cepat siklus hidup nyamuk dan semakin sering intensitas menghisap darah. Kami prediksi lonjakan kasus terjadi pada Desember dan Januari nanti," kata Ira.
Oleh karena itu, Dinkes Sumsel telah mengeluarkan surat kewaspadaan dan antisipasi lonjakan kasus dengue untuk ditindaklanjuti semua pihak. Hal yang penting dilakukan adalah meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus.
Pemerintah daerah diimbau terus menyosialisasikan kepada masyarakat untuk rutin menguras tempat penampungan air, menutup wadah penyimpanan air, dan mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk. Disarankan juga menggunakan larvasida, lotion antinyamuk, kelambu, dan pemeliharaan ikan pemakan jentik.
"Fasilitas kesehatan juga harus melapor tiga jam sejak pasien dirawat agar mempercepat penyelidikan epidemiologi, mendeteksi potensi kejadian luar biasa (KLB), dan memastikan ketersediaan logistik pengendalian dengue," pungkasnya.
Penulis: Irwanto
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id


































