tirto.id - PT Danantara Investment Manajemen (DIM) membukukan laba bersih (net profit) sebesar Rp705,729 miliar (setara US$40,61 juta) per 30 April 2026. Angka itu melonjak signifikan dibanding periode empat bulan pertama 2025 (per 30 April 2025) saat DIM sempat mencatatkan kerugian bersih sebesar Rp131 juta.
Raihan laba bersih empat bulan di 2026 ini juga jauh melampaui perolehan laba bersih sepanjang tahun penuh 2025 yang tercatat sebesar Rp116,333 miliar.
Mengutip laporan keuangan yang yang tercantum dalam prospektus penerbitan Global Medium Term Note perseroan di Bursa Efek Singapura (SGX) yang dikutip Senin (2/11/2026), pertumbuhan laba bersih yang pesat ini terutama ditopang oleh lonjakan pendapatan (revenue) perusahaan. Hingga akhir April 2026, DIM membukukan pendapatan sebesar Rp1,093 triliun (US$63,01 juta), melonjak tajam dan telah melewati realisasi pendapatan setahun penuh di 2025 yang sebesar Rp801,240 miliar.
Selain pertumbuhan pendapatan inti, profitabilitas perusahaan pada awal 2026 juga mendapatkan suntikan masif dari pos-pos nonoperasional. Amortisasi keuntungan tangguhan menyumbang angka terbesar, yaitu Rp644.234 juta atau US$37,07 juta pada empat bulan pertama 2026, naik dibandingkan tahun penuh 2025 yang sebesar Rp301.390 juta atau US$17,34 juta.
Kemudian, keuntungan selisih kurs memberikan kontribusi tambahan sebesar Rp306.025 juta atau 17,61 juta dolar AS. Kehadiran suntikan dari pos nonoperasional ini menjadi penopang vital bagi laba bersih perusahaan, mengingat pada periode yang sama DIM harus menanggung beban keuangan yang sangat besar, yakni mencapai Rp1.009.026 juta atau US$58,06 juta.
Seiring peningkatan laba, total aset perusahaan juga terus mengelembung. Per 30 April 2026, total aset DIM tercatat mencapai Rp140,025 triliun (US$8.057,63 juta), naik dari posisi Rp131,989 triliun pada akhir Desember 2025. Postur neraca DIM didominasi oleh pos kas dan setara kas yang sangat tebal, yakni mencapai Rp123,030 triliun per akhir April 2026. Di saat yang sama, aset di pos investasi (investments) juga melonjak signifikan menjadi Rp16,629 triliun, dibandingkan posisi akhir tahun 2025 yang sebesar Rp30,014 miliar.
Dari sisi ekuitas, total ekuitas perusahaan tercatat stabil di level Rp70,822 triliun per 30 April 2026, disokong oleh kenaikan saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya (unappropriated retained earnings) menjadi Rp818,326 miliar.
Penulis: Qonita Azzahra
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
Masuk tirto.id




































