tirto.id - Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5 persen dinilai masih menunjukkan daya tahan kuat di tengah ketidakpastian global. Namun, capaian tersebut dinilai belum cukup untuk membawa Indonesia melompat menjadi negara berpenghasilan tinggi.
Ketua Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu, mengatakan bahwa kunci utama transformasi ekonomi nasional bukan sekadar mendorong lonjakan nilai investasi, melainkan meningkatkan efisiensi dan produktivitas dari investasi yang masuk.
Dia mencatat, rasio investasi Indonesia berada di angka 30,7 persen dari PDB. Namun, indikator Incremental Capital Output Ratio (ICOR) masih tertahan tinggi di kisaran level 6.
Menurutnya, angka ICOR yang tinggi ini mengindikasikan bahwa investasi yang masuk ke Indonesia belum efisien dalam menghasilkan pertumbuhan ekonomi.
"Artinya masalah investasi kita bukan kekurangan investasi, masalahnya adalah produktivitas investasi. Agenda buat kita bukan sekedar higher investment, tapi better investment," ujar Anggito di Hotel Raffles Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Ia menjelaskan bahwa peningkatan rasio investasi harus diimbangi secara bersamaan dengan penurunan angka ICOR. Tanpa efisiensi tersebut, penambahan modal hanya akan menjadi tambahan pemasukan investasi tanpa menghasilkan peningkatan kompetensi dan daya saing ekonomi nasional.
Anggito juga memaparkan sejumlah hambatan (bottleneck) struktural yang memicu rendahnya efisiensi investasi di Indonesia, mulai dari tingginya biaya logistik, sektor keuangan yang belum dalam, hingga hilirisasi yang masih terlalu banyak berhenti di sektor hulu.
Selain itu, ketidakpastian kebijakan serta gap antara kualitas SDM dan kebutuhan industri turut menjadi kendala utama. Untuk mengatasi tantangan tersebut, ia mendorong adanya reformasi ekonomi.
Menurutnya, perbaikan sektor industri tidak bisa berdiri sendiri tanpa pembenahan sistem logistik, pembiayaan, hingga penyediaan SDM unggul.
"Kita harus berani melihat diri kita sendiri, recognize the problems. Mengakui bahwa masalah bukan pesimisme, tapi justru itulah awal dari optimisme yang kredibel," ucapnya.
Lebih lanjut, Anggito mengusulkan strategi tiga cakrawala untuk mencapai target Indonesia Emas 2045. Tahap awal fokus pada menjaga stabilitas makroekonomi dan momentum; dilanjutkan fase transformasi struktural dalam 5 tahun untuk peningkatan produktivitas dan pendalaman sektor keuangan; serta fase integrasi inovasi ke rantai pasok global (global value chain) dalam 10 tahun.
"Masa depan tidak dibangun pada tahun 2045, tetapi dibangun dengan keputusan yang kita ambil pada hari ini. Stabilitas hari ini adalah jangka untuk transformasi 5 tahun, 10 tahun, dan inovasi dalam 10 tahun,” ucapnya.
Penulis: Nanda Aria
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id





































