Menuju konten utama

Bahlil Minta Lahan Tidur Karawang Ditanami Jagung Buat Etanol

Menko Bahlil Lahadalia mengarahkan pemanfaatan lahan tidur di Karawang untuk ditanami bahan baku etanol. Pertamina bakal diwajibkan jadi pembeli siaga.

Bahlil Minta Lahan Tidur Karawang Ditanami Jagung Buat Etanol
Hingga 10 September 2026, sekitar 6,5 juta liter B50 telah digunakan untuk mendukung operasional kereta api di wilayah Daop 1 Jakarta. ANTARA/HO KAI Daop 1 Jakarta
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, meminta lahan tidur di Karawang, Jawa Barat, agar ditanam jagung, singkong, dan tebu.

Akan tetapi, sejumlah komoditas itu diminta tidak ditanam untuk diproduksi memenuhi kebutuhan pangan, melainkan menjadi etanol.

"Kita akan memanfaatkan potensi lahan-lahan kita untuk membuat etanol. Etanol ini, Pak Bupati, bahan bakunya dari jagung, singkong, tebu. Nah, kalau di Karawang ini masih ada lahan-lahan tidur, itu bisa diarahkan untuk menanam hasil-hasil perkebunan yang berorientasi pada bahan baku etanol," urainya saat meresmikan kilang liquified patroleum gas (LPG) di Cilamaya, Karawang, Kamis (15/10/2026).

Menurut Bahlil, rangkaian proses penanaman hingga menjadi bahan baku etanol tersebut bakal menciptakan lapangan pekerjaan baru.

Di satu sisi, PT Pertamina disebut bakal menjadi pihak yang mengambil (offtaker) hasil produksi dari tanaman menjadi etanol tersebut. Ia mengaku akan membuat peraturan yang mewajibkan Pertamina untuk menjadi offtaker hasil bumi yang diproduksi menjadi etanol.

"Itu mampu menciptakan kawasan pertumbuhan ekonomi baru. Offtaker-nya nanti adalah Pertamina. Jadi, seluruh etanol yang akan diambil itu offtaker-nya Pertamina, karena kita akan bikin mandatory," sebutnya.

Bahlil mengatakan, langkah itu dilakukan dalam upaya pemerintah yang tengah mengembangkan E20-E50. Pengembangan E20-E50 dilakukan setelah pemerintah mengembangkan B50 beberapa waktu lalu.

Dengan pengembangan tersebut, pemerintah kini disebut telah menghentikan impor solar.

"Sekarang tidak melakukan impor solar, karena sudah kita mengonversi dari CPO dengan metanol jadi fame menjadi B50. Ke depan kita kembangkan lagi untuk etanol, untuk bensin kita bikin di E20-E50," ucap Bahlil.

Baca juga artikel terkait BIOETANOL atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah