Menuju konten utama

Bahlil Ancam Setop Ekspor Energi ke Negara yang Tak Hargai RI

Menko Bahlil Lahadalia ancam setop ekspor gas bumi ke negara asing yang tak menghargai RI. Sebut Indonesia utamakan pasokan domestik demi survival.

Bahlil Ancam Setop Ekspor Energi ke Negara yang Tak Hargai RI
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers terkait perjanjian perdagangan timbal balik (ART) Indonesia-AS di bidang ESDM di Washington DC, Amerika Serikat, Jumat (20/2/2026). Dalam ART itu pemerintah Indonesia sepakat untuk mengimpor migas hingga 15 miliar dolar AS atau sekitar Rp 253,47 triliun per tahun dari Amerika Serikat untuk ketahanan energi dalam negeri. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Menteri Koordinator Hilirisasi dan Transisi Energi/Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, melayangkan ancaman keras akan mengevaluasi total kontrak energi dengan negara asing yang dinilai tidak kooperatif.

Dia bilang, pemerintah menegaskan tidak akan segan-segan menghentikan ekspor gas bumi demi memprioritaskan ketahanan energi domestik serta menjaga martabat kedaulatan Indonesia di panggung global.

"Terkait dengan ketahanan energi kita, saya akan melakukan evaluasi kontrak dengan negara-negara lain yang tidak kooperatif yang tidak saling menghargai antara hubungan sama negara," ucapnya saat kegiatan peresmian penerimaan gas JNE#6 dan fasilitas produksi lapangan Maha-South di Selat Makassar, Kalimantan Timur, Kamis (22/10/2026).

"Saya akan melakukan evaluasi dan saya tidak segan-segan untuk mempertimbangkan untuk tidak melakukan ekspor kepada negara mereka yang tidak menghargai Indonesia," lanjut dia.

Azas Kesetaraan: Kontrak Baru Hanya untuk Negara Sahabat

Di satu sisi, Bahlil menyatakan, pemerintah bakal menyalurkan energi kepada negara yang menghargai Indonesia. Bahkan, pemerintah disebut akan membuat kontrak baru terkait ekspor energi dengan negara yang belum memiliki kontrak.

"Ya, tapi kalau negara-negara yang menghargai Indonesia, yang kita saling menghargai, maka sekalipun mereka tidak punya kontrak, kita akan membuat kontrak dan kita akan kasih kepada mereka," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Bahlil turut meresmikan operasional sumur gas Jangkrik dan fasilitas produksi lapangan Mahakam South Hub di Kalimantan Timur.

Penambahan produksi gas tersebut ditargetkan mendukung peningkatan produksi nasional hingga mencapai sekitar 3 miliar kaki kubik per hari pada 2028-2029.

Produksi gas eksisting mencapai sekitar 450 juta kaki kubik per hari. Dengan penambahan produksi sekitar 290 juta kaki kubik per hari, total produksi diperkirakan mencapai sekitar 750 juta kaki kubik per hari.

"Dengan penambahan hari ini 290 mm dan di 2028-2029 akan mencapai 3.000 mm, sekarang berarti overall sudah mencapai 750 karena existing kurang lebih sekitar 450," sebut dia.

Dorong Klaster Petrokimia dan Lapangan Kerja di Daerah

Bahlil menambahkan, pemerintah akan memprioritaskan pemanfaatan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan domestik sebelum dialokasikan untuk ekspor.

Lalu, pemerintah juga berencana membangun pusat hilirisasi petrokimia di Kalimantan Timur dengan memanfaatkan gas sebagai bahan baku.

Kata dia, pengembangan industri di daerah dapat meningkatkan nilai tambah sumber daya alam sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

"Dengan kita menciptakan hilirisasi di daerah, itu berarti menciptakan lapangan pekerjaan di daerah, menciptakan nilai tambah di daerah, meningkatkan PNBP daerah, meningkatkan pendapatan bagi masyarakat dan daerah," tuturnya.

Baca juga artikel terkait EKSPOR GAS atau tulisan lainnya dari Muhammad Naufal

tirto.id - Flash News
Reporter: Muhammad Naufal
Penulis: Muhammad Naufal
Editor: Siti Fatimah