tirto.id - Kabar meninggalnya seorang pekerja laboratorium di Institut Penelitian Antipes Irkutsk, Siberia, Rusia, setelah mengalami pneumonia memunculkan kekhawatiran wabah pes paru atau pneumonic plague. Apalagi setelah hampir 200 orang yang disebut melakukan kontak dengan pekerja tersebut dilaporkan sedang dikarantina. Lantas, apa itu penyakit pes paru dan seberapa berbahaya bagi manusia?
Pekerja bernama Daria Sh. tersebut diketahui mengalami gejala pneumonia yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit. Beberapa hari kemudian, Daria dilaporkan meninggal dunia.
Otoritas Rusia menyatakan tidak menemukan bukti adanya insiden yang berkaitan dengan patogen berbahaya dari laboratorium, meski dilaporkan sebelumnya Daria sempat mengatakan jika dia tidak sengaja memecahkan tabung berisi bakteri hidup ketika bekerja.
Pes paru menjadi perhatian karena merupakan salah satu bentuk penyakit pes yang paling berbahaya dan paling ganas. Penyakit pes disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis dan secara umum memiliki tiga bentuk utama, yakni pes bubonik yang menyerang kelenjar getah bening, pes septikemik yang menyebar melalui aliran darah, serta pes paru yang menginfeksi paru-paru.
Berbeda dari bentuk lainnya, pes paru dapat menular antarmanusia melalui partikel pernapasan dari orang yang terinfeksi, sehingga dapat berkembang menjadi wabah apabila tidak segera dikenali dan ditangani.
Penyakit pes juga memiliki sejarah kelam karena pernah menyebabkan Black Death atau Wabah Hitam pada abad ke-14 yang menewaskan lebih dari 50 juta orang di Eropa. Meski demikian, pes saat ini dapat diobati dengan antibiotik jika diagnosis dan penanganan dilakukan sedini mungkin.
Apa Itu Pes Paru atau Pes Pneumonik?
Pes pneumonik adalah bentuk penyakit pes yang menyerang paru-paru dan disebabkan oleh bakteri Yersinia pestis. Menurut WHO, pes pneumonik merupakan bentuk pes yang paling ganas dan paling berbahaya karena penyakitnya dapat berkembang sangat cepat.
Berbeda dengan pes bubonik yang umumnya berkaitan dengan gigitan kutu terinfeksi, pes pneumonik dapat menular dari orang ke orang melalui partikel pernapasan, terutama ketika penderita batuk atau bersin.
Penularan pes pneumonik terutama berisiko terjadi melalui kontak dekat dengan penderita. Partikel pernapasan yang mengandung bakteri dapat terhirup oleh orang lain yang berada cukup dekat dengan pasien.
Namun, menurut Dr. William Schaffer, pakar penyakit menular di Vanderbilt University Medical Center yang dikutip NBC News, Selasa (6/10/2026), penularan pes pneumonik tidak berlangsung seperti Covid-19 yang dapat menyebar luas melalui udara dan menjangkau orang yang berada jauh dari sumbernya.
Droplet pernapasan dari penderita cenderung tidak bertahan jauh dan risiko terbesar berada pada orang yang melakukan kontak dekat atau berhadapan langsung dengan penderita.
Gejala Pes Pneumonik
Pes pneumonik dapat menunjukkan gejala dengan sangat cepat. WHO menyebut masa munculnya gejala dapat kurang dari 24 jam setelah infeksi. Gejala utamanya berkaitan dengan sistem pernapasan, antara lain:
- Demam,
- Sesak napas,
- Batuk, dan
- Dahak yang seringkali bercampur darah.
Kecepatan perkembangan penyakit menjadi alasan pes pneumonik dianggap sebagai bentuk pes yang paling mematikan. Tanpa pengobatan, penyakit ini dapat menyebabkan kematian dalam waktu sekitar 18 hingga 24 jam sejak gejala muncul.
Karena itu, seseorang yang memiliki gejala yang mengarah pada pes pneumonik dan memiliki kemungkinan paparan membutuhkan pemeriksaan serta penanganan medis secepat mungkin.
Apakah Pes Pneumonik Mudah Menular?
Pes pneumonik memang dapat menular antarmanusia, tetapi bukan berarti setiap orang yang berada di sekitar penderita otomatis akan tertular. Risiko terutama meningkat pada orang yang melakukan kontak dekat dengan pasien, khususnya ketika pasien mengalami batuk atau bersin dan mengeluarkan partikel pernapasan.
WHO menempatkan pes pneumonik sebagai bentuk yang perlu mendapat perhatian khusus karena dapat menimbulkan penularan antarmanusia. Pasien yang diduga atau dikonfirmasi mengalami pes pneumonik perlu diisolasi agar tidak menularkan bakteri kepada orang lain.
Tenaga kesehatan yang menangani pasien juga perlu menggunakan alat pelindung diri dan menerapkan prosedur pencegahan infeksi.
Mengapa Pes Pneumonik Sangat Mematikan?
Bahaya pes pneumonik terutama berasal dari kecepatan penyakit berkembang. Bakteri Yersinia pestis menyerang paru-paru sehingga gangguan pernapasan dapat berkembang dengan cepat. Kondisi tersebut membuat waktu antara munculnya gejala dan terjadinya komplikasi berat menjadi sangat singkat.
WHO menyebut pes pneumonik dapat berakibat fatal jika tidak segera didiagnosis dan diobati. Sebaliknya, tingkat kesembuhan dapat tinggi apabila penyakit ditemukan dan pengobatan diberikan tepat waktu, terutama dalam 24 jam sejak gejala mulai muncul.
Bagaimana Pes Pneumonik Diobati dan Cara Mencegah Penularannya
Pes pneumonik dapat diobati menggunakan antibiotik yang efektif terhadap bakteri penyebabnya. Pengobatan harus diberikan sedini mungkin karena keterlambatan penanganan dapat meningkatkan risiko komplikasi dan kematian. Selain antibiotik, pasien mungkin membutuhkan terapi pendukung untuk mengatasi gangguan pernapasan dan kondisi medis lainnya.
Menurut penjelasan Dr. Dave Wagner, direktur Institut Patogen dan Mikrobioma di Northern Arizona University, tersedianya antibiotik yang efektif merupakan salah satu alasan penyakit pes saat ini tidak lagi menyebabkan pandemi seperti Black Death pada abad pertengahan.
Tidak terdapat bukti yang menunjukkan bahwa bakteri pes saat ini telah berkembang menjadi kebal terhadap antibiotik hingga membuat situasi kembali seperti pada masa tersebut.
Pencegahan pes pneumonik terutama dilakukan dengan:
- Menghindari kontak dekat dengan penderita,
- Mengisolasi pasien yang terinfeksi, serta
- Menerapkan prosedur pengendalian infeksi.
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































