Menuju konten utama

Misteri Tewasnya Pekerja Lab Rusia oleh Penyakit Tak Dikenal

Pekerja lab di Rusia meninggal saat bertugas. Ia diketahui tengah meneliti sampel penyakit pes. Namun, tubuhnya tidak ditemukan mikroorganisme pemicu pes.

Misteri Tewasnya Pekerja Lab Rusia oleh Penyakit Tak Dikenal
Ilustrasi laboratorium. FOTO/iStockphoto
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Kematian seorang pekerja laboratorium di wilayah Irkutsk, Siberia, Rusia, pada awal Oktober 2026 menjadi topik hangat setelah muncul dugaan ia terinfeksi penyakit yang diduga berkaitan dengan wabah pes. Hal itu diperkuat dengan penerapan karantina bagi 200 orang yang berinteraksi dengannya sebelum meninggal. Pemerintah Rusia dan Kemenkes Indonesia memberikan pernyataan terhadap pemberitaan tersebut.

Perempuan berusia sekitar 27-28 tahun yang bekerja di Irkutsk Anti-Plague Research Institute of Siberia and the Far East itu sempat dirawat dengan gejala pneumonia berat sebelum meninggal dunia.

Namun, penyebab pasti kematian pekerja laboratorium tersebut masih menjadi misteri. Laporan awal mengaitkannya dengan penyakit pes, bahkan sempat muncul dugaan bahwa ia terpapar bakteri berbahaya setelah secara tidak sengaja memecahkan tabung berisi bakteri hidup ketika bekerja.

Belakangan, otoritas kesehatan Rusia menyatakan hasil pemeriksaan laboratorium terhadap material pasien tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaannya menangani patogen berbahaya.

Kronologi Tewasnya Pekerja Lab Rusia hingga Hampir 200 Orang Dikarantina

Peristiwa bermula dari kondisi Daria Sh., seorang pekerja perempuan di Irkutsk Anti-Plague Research Institute of Siberia and the Far East, yang secara khusus menangani penelitian dan pemantauan penyakit pes serta patogen berbahaya lainnya.

Menurut laporan media Rusia, Daria kemudian mengalami kondisi kesehatan serius. Mengutip The Moscow Times, Jumat (2/10), Daria mengalami gejala pneumonia parah pada Selasa (29/9) yang membuatnya harus dirawat di rumah sakit.

Kondisinya kian memburuk hingga harus dipasang ventilator. Namun, pada Kamis (1/10), Daria dilaporkan meninggal dunia.

Yang membuat kematian Daria menggemparkan publik adalah kenyataan jika ia sempat mengatakan kepada tenaga medis bahwa dirinya secara tidak sengaja memecahkan sebuah tabung uji yang berisi bakteri hidup ketika sedang mengumpulkan sampel untuk keperluan pemeriksaan sebelum sakit.

Informasi tersebut kemudian menjadi salah satu dasar munculnya dugaan bahwa penyakit yang dialaminya mungkin berkaitan dengan paparan patogen di tempat kerja.

Sejumlah media Rusia menyebut penyakit itu sebagai dugaan pes, bahkan ada laporan yang mengarah pada dugaan pneumonic plague atau pes paru. Jenis pes ini menjadi perhatian karena menyerang sistem pernapasan dan berbeda dengan beberapa bentuk pes lainnya yang dapat menular antarmanusia melalui droplet pernapasan.

Gubernur Irkutsk Igor Kobzev meminta masyarakat tetap tenang. Ia membenarkan jika Daria meninggal karena pneumonia namun membantah jika ada mikroorganisme yang terdeteksi di tubuhnya. Dengan demikian, diagnosis penyakit yang dialami Daria belum sepenuhnya tegak.

“(Daria meninggal karena) pneumonia yang belum diketahui penyebabnya (minggu lalu),” ujar Igor Kobsev dikutip NBC News (5/10).

“(Tidak ada) mikroorganisme yang terkait dengan aktivitas profesional karyawan yang terdeteksi (di tubuhnya),” tambahnya.

Meski meminta masyarakat untuk tidak panik, Pemerintah Rusia segera melakukan tindakan pencegahan. Rumah sakit di distrik Shelekhov, khususnya fasilitas rawat inap yang dilaporkan ditempati Daria sebelumnya telah ditutup.

Tak hanya itu, sekitar 197 orang yang diduga pernah melakukan kontak dengan Daria juga ditempatkan dalam pengawasan medis. Lebih dari 100 orang di antaranya disebut berada di bangsal rumah sakit.

Selain melakukan sterilisasi tempat dan karantina hampir 200 orang, pemerintah juga membatalkan sejumlah kegiatan publik yang sebelumnya dijadwalkan di Irkutsk. Aparat penegak hukum juga disebut membuka penyelidikan terkait kemungkinan pelanggaran keselamatan kesehatan yang berujung pada kematian.

Klarifikasi Pemerintah Rusia dan Tanggapan Kemenkes RI

Otoritas kesehatan Rusia menyatakan bahwa situasi kesehatan di wilayah Irkutsk, Siberia, saat ini tetap stabil. Pernyataan itu menjawab keresahan masyarakat di tengah kekhawatiran terkait kematian Daria.

Badan Pengawas Keselamatan Konsumen Rospotrebnadzor juga menyampaikan bahwa pemeriksaan laboratorium terhadap material yang diambil dari pasien tidak menemukan mikroorganisme yang berkaitan dengan pekerjaannya menangani patogen berbahaya.

Komisi khusus dari institusi tempat Daria bekerja bersama Rospotrebnadzor kemudian menyimpulkan bahwa tidak ditemukan keadaan darurat maupun pelanggaran keamanan di fasilitas tersebut.

Pengawas kesehatan Rusia juga menyebut tidak ada keluhan mengenai penyakit menular lainnya yang tercatat di antara pegawai institut dalam 10 hari sebelum kejadian.

Hasil pemeriksaan terhadap hampir 200 orang yang melakukan kontak dekat dengan Daria juga tidak menunjukkan adanya penyebaran pes. Mereka tetap ditempatkan dalam pengawasan dan menjalani pemeriksaan laboratorium setiap hari.

Dari pemeriksaan tersebut ditemukan dua kasus Covid-19 dan dua kasus rhinovirus, tetapi tidak ditemukan infeksi lain yang dikaitkan dengan penyakit pes.

Pada 5 Oktober 2026, Kemenkes RI menyatakan terus memantau perkembangan situasi dan meningkatkan kesiapsiagaan di berbagai unit sebagai respons atas kematian pekerja laboratorium di Rusia tersebut.

Kemenkes juga menyatakan bahwa hingga saat itu belum terdapat notifikasi melalui IHR National Focal Point maupun informasi dalam Event Information Site WHO yang memerlukan kewaspadaan khusus terkait kejadian tersebut.

Sebagai langkah antisipasi, pengawasan pelaku perjalanan di pintu masuk internasional, termasuk bandara dan pelabuhan di Bali.

"Pengawasan pelaku perjalanan telah berjalan melalui pengisian deklarasi kesehatan (All Infonesia - SSHP). Petugas karantina kesehatan melakukan analisis dan tindak lanjut terhadap status deklarasi kesehatan pelaku perjalanan tersebut, termasuk apakah PPLN berasal dari negara terjangkit," kata Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes Aji Muhawarman dikutip Antara (5/10/2026).

Kemenkes juga mengimbau masyarakat tidak panik dan meminta publik mengikuti perkembangan melalui kanal resmi pemerintah. Masyarakat dianjurkan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta mewaspadai gejala seperti demam, batuk, dan sesak napas.

Apabila ditemukan pelaku perjalanan dari wilayah terjangkit yang menunjukkan gejala yang mengarah pada pes, petugas kesehatan di pintu masuk negara dapat melakukan tindak lanjut dan merujuknya ke rumah sakit rujukan penyakit infeksi.

Baca juga artikel terkait PENYAKIT atau tulisan lainnya dari Prihatini Wahyuningtyas

tirto.id - Flash News
Kontributor: Prihatini Wahyuningtyas
Penulis: Prihatini Wahyuningtyas
Editor: Ilham Choirul Anwar