tirto.id - Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengungkap faktor penyebab panel surya Indonesia dikenakan tarif bea masuk hingga 110 persen oleh Amerika Serikat (AS).
Menurut Airlangga, hal tersebut disebabkan ekspor Indonesia ke AS meningkat 110 kali lipat yang setara kenaikan dalam setahun. Ini, menurutnya, mengejutkan AS karena Indonesia secara tiba-tiba dianggap memiliki kekuatan di bidang energi.
"Maka Amerika mengatakan nih Indonesia ujug-ujug punya kekuatan di bidang energi maka dikenakan 110 persen," ujar Airlangga dalam acara Seminar Nasional Green Economy 2045 di Hotel Aryaduta Menteng pada Selasa (29/9/2026).
Menurut Airlangga, industri panel surya Tanah Air didukung oleh kekayaan sumber daya mineral domesti. Salah satunya cadangan pasir silika, bahan baku utama dalam pembuatan silikon murni yang berfungsi sebagai komponen semikonduktor pada sel panel surya.
"Indonesia mempunyai kapasitas produksi setara dengan 111 gigawatt per tahun kapasitas," kata Airlangga.
Selain pasir silika, Indonesia juga memiliki cadangan mineral kritis yang besar. Ini membuat Indonesia menjadi alternatif selain Tiongkok bagi negara-negara luar untuk mendapatkan bahan baku membangun infrastruktur transisi energi. Maka, banyak negara dari Uni Eropa, Amerika Serikat, maupun Kanada berusaha membangun kerja sama di bidang pengolahan mineral kritis.
"Karena critical mineral ini yang pertama dan kuat itu hampir 90 persen di negara Tiongkok. Sehingga alternatifnya adalah negara ASEAN, dan negara ASEAN yang punya bahan baku hanya Indonesia. Jadi inilah the golden moment sebetulnya buat Indonesia untuk bisa dikembangkan," tegas Airlangga.
Sedangkan dari aspek kebijakan dalam negeri, pemerintah juga tengah mendorong pembangunan sektor ekonomi hijau melalui proyek panel surya sebesar 100 gigawat dalam 2-3 tahun ke depan. Saat ini, kapasitas terpasang baru sebesar 88 gigawatt.
"Nah, oleh karena itu, kalau 100 gigawatt peak ditargetkannya bapak presiden dalam 2-3 tahun ke depan. Oleh karena itu, kalau sekarang kapasitas terpasang sekitar 88 gigawatt. Maka ini kebutuhannya ditingkatkan double, dua kali lipat," pungkasnya.
Penulis: Mukhtar Abdullah
Editor: Hendra Friana
Masuk tirto.id







































