tirto.id - Tim Satuan Tugas Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Sumatra Selatan gagal menerbangkan helikopter waterbombing untuk melakukan operasi pemadaman karhutla. Hal ini disebabkan jarak pandang berkurang akibat tertutup asap.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Wilayah Sumatra, Ferdian Krisnanto, mengungkapkan lima unit helikopter pengebom air dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) itu terpaksa hanya terparkir di Palembang. Padahal, heli-heli itu dijadwalkan terbang untuk memadamkan karhutla di sejumlah titik penting.
"Tadi pagi sudah siap (terbang), tiba-tiba visibility (jarak pandang) rendah lagi. Sekarang lagi persiapan lagi," ungkap Ferdian, Selasa (13/10/2026).
Menurut dia, penerbangan helikopter sangat bergantung pada jarak pandang. Visibility yang sangat rendah akan membahayakan keselamatan penerbangan sehingga keputusan pembatalan dilakukan.
Ferdian menjelaskan jarak pandang yang rendah telah berlangsung sejak Kamis (8/10/2026). Bahkan, penerbangan helikopter sempat dilakukan dari Bangka Belitung, tetapi tidak optimal karena lokasi karhutla tertutup asap tebal.
"Sejak kamis itu, dinamis banget visibility. Gangguan terus, ada beberapa hari tidak bisa naik sama sekali. Faktor visibility naik turun dan di TKP menjadi pertimbangan keamanan," kata Ferdian.
Dalam kondisi ini, Ferdian menyebut penanganan karhutla dioptimalkan oleh satgas darat. Lokasi yang menjadi fokus pemadaman berada di Ogan Komering Ilir, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, dan Muara Enim.
Namun, pemadaman terkendala medan yang sangat berat dan terbatasnya air lantaran kanal dan sungai mulai mengering. Meski demikian, tim Manggala Agni tetap berjibaku memadamkan api agar tidak meluas.
"Sebenarnya sudah request (waterbombing), tapi kami lihat dulu perkembangan jarak pandang. Saat ini, satgas darat sedang melakukan pemadaman," pungkasnya.
Masuk tirto.id


































