tirto.id - Laman web milik pemerintah dan perusahaan di seluruh dunia sempat mati setelah kecerdasan buatan (AI) menemukan adanya kerentanan kritis pada bahasa pemrograman populer PHP. Hal ini dilaporkan sempat membuat banyak laman web offline untuk memberi waktu operator melakukan perbaikan.
Menukil CNN, hal ini terjadi pada Kamis (22/10/2026) dan membuat banyak laman web milik pemerintah di berbagai negara, termasuk Amerika Serikat (AS) dan Inggris, terpaksa ditangguhkan. Selain kedua negara itu, laman web pemerintah Prancis, Denmark, Finlandia, dan Belanda juga dilaporkan terdampak.
Di Inggris, hal ini bahkan sempat menyebabkan penangguhan layanan non-esensial pemerintah.
“Beberapa layanan mungkin offline untuk sementara waktu sembari pekerjaan keamanan dilakukan,” kata juru bicara pemerintah Inggris, sambil menggaris bawahi bahwa hal ini tidak berdampak pada “layanan penting yang berhadapan langsung dengan publik”.
Maskapai penerbangan Jepang ANA, operator kereta api JR West, dan bank terbesar Jepang MUFG, juga dilaporkan terdampak. Beberapa layanan mereka ditangguhkan imbas perbaikan pada laman web resmi mereka.
Insiden ini juga dilaporkan berdampak pada situs berita populer Irlandia, The Journal. Laman web media tersebut sempat offline pada Kamis pagi dan memberikan keterangan bahwa mereka tengah memperkuat “pertahanan” dalam sebuah pernyataan.
Wikipedia Foundation, organisasi nirlaba pengelola Wikipedia, juga menyebut mereka turut terpengaruh. Mereka menyatakan “sedang dalam proses mengatasi kerentanan keamanan PHP”, yang berimbas pada sejumlah sistem yang dinonaktifkan.
Sementara itu, Badan Keamanan Nasional AS dan badan keamanan siber Eropa menyarankan perusahaan untuk segera mengambil tindakan perbaikan pada laman web mereka. Dalam pernyataan mereka, para perusahaan perlu mengatasi dua celah kritis pada bahasa pemrograman PHP.
Penangguhan Laman WebDipicu Temuan Bug pada PHP
Fenomena penangguhan akses berbagai laman web di dunia tersebut terjadi setelah sebuah bug pada bahasa pemrograman PHP ditemukan. Bug tersebut, yang disebut PHP2Shell, dilaporkan memungkinkan peretas masuk dalam sistem dan membaca memori berisi informasi sensitif, termasuk kata sandi.
Galat pada PHP tersebut ditemukan oleh tim gabungan perusahaan AI dan keamanan siber. Perusahaan OpenAI serta perusahaan keamanan siber milik Google, Wiz, dan Calif termasuk di dalam tim tersebut.
Penemuan galat ini kemudian menjadi perhatian banyak pihak lantaran PHP merupakan bahasa pemrograman yang populer dan umum digunakan secara global.
Program yang semula bernama Personal Home Page, PHP merupakan bahasa pemrograman yang digunakan oleh sekitar 70 persen laman web di dunia. Sistem manajemen konten populer macam WordPress atau Drupal juga menggunakan PHP sebagai bahasa pemrograman mereka.
Nigel Green, CEO perusahaan penasihat keuangan deVere Group, menyebut penemuan bug ini merupakan informasi yang kritis di tengah kondisi dunia yang serba digital hari ini. Ditemukannya bug dalam PHP, katanya, memungkinkan kemunculan risiko keamanan “hampir di mana saja orang menghabiskan uang mereka secara online”.
“Platform pemesanan, pasar online, layanan berlangganan, situs penjualan tiket, aplikasi pengiriman, dan portal utilitas semuanya dapat menyimpan detail kartu kredit pada sistem yang dibangun dengan jenis kode yang sama,” kata Nigel Green, dikutip dari CNN.
Penyedia infrastruktur web Cloudflare, yang turut bekerja sama untuk mengatasi masalah ini dengan PHP Foundation, menggambarkan bug tersebut sebagai celah keamanan yang berpotensi peretas mengeksekusi kode dari jarak jauh, mengganggu layanan, dan mengekspos data pelanggan.
PHP Foundation, organisasi di balik bahasa pemrograman ini, juga telah merilis patch untuk bug PHP2Shell. Organisasi ini menyebut bahwa galat itu telah tersembunyi di perangkat lunak mereka selama bertahun-tahun.
Penemuan bug ini dilaporkan pertama kali ditemukan pada akhir Agustus lalu. Namun, informasi tentangnya baru diungkap ke publik pada Rabu (21/10) setelah PHP Foundation menemukan solusi untuk menangkalnya.
Sementara itu, para peneliti dilaporkan berhasil menemukan galat ini dengan bantuan teknologi AI Google Gemini 4 Argon, Wiz Atlas, dan OpenAI GPT-5.6 Sol.
Penulis: Rizal Amril Yahya
Editor: Ilham Choirul Anwar
Masuk tirto.id
































