tirto.id - Warisan modal politik Joko Widodo tak lagi menjadi jaminan mutlak bagi masa depan karier anak-anaknya di panggung nasional. Bertumpu pada penilaian 200 opinion leader akademisi dan jurnalis, hasil survei lembaga Saiful Mujani Research and Consulting (SRMC)mencatat skor kualitas kepemimpinan Gibran Rakabuming dan Kaesang Pangarep terpuruk di posisi terbawah.
Survei ini mempertegas sinyal bahwa pemilih Indonesia kian kritis menuntut pembuktian kinerja ketimbang sekadar jualan nama besar keluarga. Survei lembaga itu bertajuk “Kepemimpinan Nasional Demokratik-Transformatif 2029: Studi Evaluasi Opinion Leader” yang dirilis pada Kamis (15/10/2026) lalu
Dari total 31 tokoh yang dinilai kualitasnya apabila mereka maju sebagai calon presiden ataupun wakil presiden pada Pilpres 2029, Gibran hanya mampu memperoleh skor 4,4. Sedangkan Kaesang, adik kandung Gibran, hanya mampu mendapatkan skor 4,0.
Menurut Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, rendahnya skor yang diperoleh Gibran maupun Kaesang dalam hasil survei itu menunjukkan pengaruh politik Jokowi dan ‘Geng Solo’ memang berpotensi akan makin meredup menjelang 2029.
Iwan mengatakan Gibran dan Kaesang selama ini menjadi representasi penting bagi kekuatan politik Solo. Karena itu, citra negatif terhadap keduanya sudah pasti akan berdampak pada daya tahan dan kekuatan politik yang selama ini bertumpu pada pengaruh Jokowi.
Terlebih lagi, belakangan dorongan bagi Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) untuk memakzulkan Gibran semakin menguat. Hal itu dipicu oleh putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang menyatakan tidak menemukan atau mendapatkan bukti meyakinkan yang menunjukkan Gibran memiliki ijazah dari pendidikan di luar negeri yang dapat disetarakan di dalam negeri.
Bagi Iwan, pemilih di Indonesia saat ini telah berkembang menjadi semakin rasional, kritis, dan pintar dalam menilai seorang tokoh politik. Publik tidak lagi mudah memberikan penilaian positif hanya karena seseorang merupakan anak presiden atau berada dalam lingkaran kekuasaan.
Oleh karenanya, serangkaian tekanan politik itu akan menjadi tantangan besar bagi ‘Geng Solo’ di 2029 mendatang. Iwan menyebut, meskipun pengaruh Jokowi masih memiliki modal politik yang kuat, tetapi hal itu tidak bisa menjadi jaminan otomatis bagi keberhasilan politik Gibran maupun Kaesang.
“Di sinilah persoalan mendasar Gibran dan Kaesang. Keduanya harus mampu menunjukkan kapasitas personal yang melampaui identitas mereka sebagai bagian dari keluarga Jokowi. Tanpa pembuktian tersebut, modal politik yang diwariskan berpotensi mengalami penyusutan daya ungkit,” ujar Iwan kepada Tirto pada Senin (19/10/2026).
Mengapa Gibran dan Kaesang Dapat Skor Kecil dalam Survei SRMC?

Dalam survei yang bekerja sama dengan Laboratorium Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, SMRC menanyakan sejumlah pertanyaan kepada 200 responden yang disebut sebagai opinion leaders.
Para opinion leaders itu terdiri atas 166 akademisi atau ilmuwan dari berbagai bidang, serta 34 jurnalis. Akademisi di bidang politik/pemerintahan memiliki komposisi terbanyak, dengan total responden mencapai 62 orang atau sekitar 31 persen dari keseluruhan responden.
Mereka diminta untuk mengukur kualitas masing-masing tokoh sesuai dengan kriteria kepemimpinan nasional yang demokratis dan transformatif. Indikator-indikator yang dinilai dari setiap tokoh adalah kapabilitas atau kompetensi, empati, integritas, akseptabilitas, pluralis-inklusif, kemampuan memimpin, komitmen pada demokrasi, komitmen pada kesejahteraan umum, komitmen pada profesionalisme angkatan bersenjata dan polisi, serta komitmen pada politik luar negeri bebas aktif.
Secara total, ada 31 tokoh yang dinilai kualitasnya, dengan rincian sebagai berikut: Abdul Muhaimin Iskandar, Agus Harimurti Yudhoyono, Almuzzammil Yusuf, Andika Perkasa, Anies Baswedan, Bahlil Lahadalia, Basuki Tjahaja Purnama, Bivitri Susanti, Dedi Mulyadi, Feri Amsari, Ganjar Pranowo.
Lalu, Gatot Nurmantyo, Gibran Rakabuming Raka, Kaesang Pangarep, Mahfud MD, Megawati Soekarnoputri, Prabowo Subianto, Pramono Anung Wibowo, Puan Maharani, Retno Marsudi, Saldi Isra, Sherly Tjoanda Laos, Sri Mulyani Indrawati, Sudirman Said, Sukidi, Surya Paloh, Ubedilah Badrun, Usman Hamid, Yusril Ihza Mahendra, Zainal Arifin Mochtar, serta Zulkifli Hasan.
Dari seluruh indikator yang mengukur kualitas setiap tokoh, nama Gibran dan Kaesang hampir selalu berada di posisi bontot. Nama Gibran tidak ada di dua posisi terakhir hanya pada indikator pluralis-inklusif serta indikator komitmen pada profesionalisme angkatan bersenjata dan polisi. Sementara Kaesang konsisten selalu berada di posisi buntut.
Buruknya skor yang diberikan para responden terhadap Gibran dan Kaesang membuat keduanya berada di dua posisi terakhir dari rata-rata skor kualitas tokoh. Sementara berdasarkan rata-rata skor, lima posisi teratas diduduki oleh Mahfud MD, Basuki Tjahaja Purnama, Anies Baswedan, Dedi Mulyadi, serta Zainal Arifin Mochtar.
Pendiri SMRC, Saiful Mujani, menjelaskan survei itu dilakukan dengan tujuan untuk memberikan informasi politik kepada masyarakat luas, terutama mengenai seberapa berkualitas para calon pemimpin yang akan bertarung pada Pilpres 2029 mendatang.
Menurutnya, kondisi negara saat ini yang dinilai carut marut sangat berkaitan dengan buruknya kualitas calon pemimpin yang berkontestasi pada Pemilu sebelumnya. Oleh karenanya, ia menghendaki adanya evaluasi yang dilakukan akademisi maupun jurnalis terhadap tokoh-tokoh nasional yang potensial bertarung pada 2029.
“Penilaian opinion leader itu tentang tokoh-tokoh nasional diharapkan jadi rujukan pemilih dalam memilih presiden nanti. Publik diharapkan menjadi lebih literate politik, punya sikap politik lebih berkualitas sehingga kita punya presiden lebih baik,” terang Saiful saat dihubungi Tirto, Senin.
Terkait dengan Gibran dan Kaesang yang menjadi dua dari puluhan tokoh lainnya yang dinilai, Saiful menerangkan hal itu terjadi karena keduanya merupakan tokoh penting dalam politik nasional.
Gibran adalah seorang Wakil Presiden yang sangat berpeluang kembali bertarung pada Pilpres 2029 mendatang. Sementara Kaesang merupakan Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI), yang juga berpeluang mengusung calon presiden atau wakil presiden.
“Dan di partai politik yang paling berkuasa adalah ketua, maka tokoh-tokoh nasional itu adalah para ketua partai, dari yang paling senior seperti Megawati sampai paling junior seperti Kaesang,” tuturnya.
Gibran & Kaesang Dapat Skor Rendah karena Minim Pengalaman

Sementara itu, pengamat politik sekaligus Direktur Eksekutif Trias Politika Strategis, Agung Baskoro, memandang skor kecil yang diperoleh Gibran dan Kaesang dalam survei terbaru SMRC adalah hal yang wajar.
Sebab, menurut Agung, baik Gibran maupun Kaesang masih memiliki rekam jejak politik yang minim. Keduanya juga belum terlihat kompeten dalam mengemban jabatan sebagai pemimpin.
Ia mencontohkan minimnya rekam jejak Gibran di dunia politik tercermin dari fakta bahwa putra sulung Jokowi itu menjadi wakil presiden termuda sepanjang sejarah Indonesia.
“Gibran menjadi Wapres ketika masih berumur sangat muda, ya. Kita bandingkan dengan Wapres sebelumnya, Pak Ma'ruf Amin, Pak Boediono, Pak JK, ya, kemudian ada Ibu Megawati, ya, kemudian ada Pak Habibie, dan lain-lainnya,” ucap Agung kepada Tirto, Senin.
Hal yang sama juga terjadi pada Kaesang, yang memimpin PSI pada usia yang relatif muda. Meskipun, menurut Agung sejumlah tokoh-tokoh bangsa lainnya seperti Soekarno sampai Sutan Sjahrir juga pernah memimpin partai politik pada usia muda.
Di sisi lain, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Projo, Freddy Alex Damanik, tidak sepenuhnya sepakat bahwa hasil survei yang dikeluarkan oleh SMRC itu menjadi vonis akhir terhadap masa depan dan karier politik seseorang.
Freddy membaca hasil survei itu sebagai dorongan bagi Gibran maupun Kaesang untuk membuktikan kinerjanya sesuai dengan tugas masing-masing.
Untuk Gibran, Freddy mendorong agar ia membuktikan kapasitasnya melalui kinerja sebagai Wakil Presiden. Sementara untuk Kaesang, ia juga diharapkan mampu mengabdi dengan baik kepada masyarakat melalui kiprahnya di dunia politik.
Sebab bagi Projo, untuk mendapatkan dukungan politik, Gibran dan Kaesang tidak bisa bergantung pada satu nama besar saja. Menurutnya, dukungan politik harus dipupuk melalui bukti nyata kinerja yang baik.
“Bagi kami, dukungan politik tidak bisa hanya mengandalkan nama besar atau kedekatan dengan tokoh tertentu,” ujar Freddy kepada Tirto, Senin.
Ia menambahkan Jokowi memang memiliki rekam jejak dan pengaruh politik. Namun, hal itu tidak bisa secara otomatis diwariskan, dan kepercayaan rakyat harus diperjuangkan melalui kerja nyata.
“Prinsip Projo jelas: mendukung keberlanjutan pembangunan, mengawal pemerintahan Prabowo–Gibran, dan tetap menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan figur,” tutupnya.
Penulis: Naufal Majid
Editor: Fransiskus Adryanto Pratama
Masuk tirto.id


































